blog visitors
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Artis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Artis. Tampilkan semua postingan

Cerita Seks Sarah Azhari

Ternoda - Cerita Seks Sarah Azhari dan suaminya, turun dari mobil di depan rumah mereka. Mereka baru saja berkunjung ke kerabat mereka di Bandung, dan pada pukul 11 malam ini baru bisa sampai di rumah. Pada saat mereka berdua turun dari mobil, tiba-tiba ada Panther hitam yang mendekati sambil menyalakan lampu mobil yang sangat terang. Karena silau dan kaget, Sarah Azhari tidak langsung sadar bahwa mobil tersebut telah ada di sampingnya. Segera saja pintu Panther itu terbuka dan tiga pasang tangan keluar dari dalam mobil. Yang pertama memegang tangan kiri, yang kedua menarik tangan kanannya, dan yang ketiga meraih pinggangnya dan menarik tubuhnya masuk ke Panther. Setelah Sarah Azhari masuk ke dalam. Panther tersebut langsung tancap gas. Di dalam mobil, Sarah Azhari melihat ada lima orang yang bertampang beringas yang pertama dipanggil Boss oleh yang lain, ada juga yang Botak, yang satu lagi bermuka Bopeng dan di sampingnya ada salah satu matanya ditutup kain hitam ala bajak laut.
 
Sedangkan di depan ada lagi yang berambut Jabrik. “Lepaskan! Apa-apaan ini?! Tolong!” teriak Sarah Azhari sambil meronta-ronta, sementara ada tangan-tangan penculiknya menggerayangi tubuhnya. Ada yang meremas pinggulnya, mengelus pahanya, dan yang membuat Sarah Azhari menjerit kesakitan adalah Boss dan Botak yang meremas payudaranya keras-keras.

“Aaaah, jangan! Jangan! Lepaskan saya! Tolong!” erang Sarah Azhari sambil berontak tanpa hasil.
Para penculik tersebut membuat Sarah Azhari seperti boneka selama perjalanan ke markas penculik tersebut. Akhirnya Panther tersebut berhenti dan dengan dipegangi oleh 4 orang masing-masing di tangan dan kaki, Sarah Azhari yang sudah kelelahan meronta selama perjalanan digotong masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu hanya ada satu ranjang dan lemari besi.
“Ikat dia!” Boss menyuruh 4 anak buahnya mengikat tangan dan kaki Sarah Azhari ke sudut-sudut ranjang, sehingga tubuh Sarah Azhari membentuk huruf X, kaki dan tangannya membuka lebar.
“Gimana sekarang Boss?” tanya Jabrik sambil menjilati bibirnya. Dia sudah sangat terangsang, batang kemaluannya sudah menegang dari tadi.
“Kita giliran! Pertama gue, trus selanjutnya loe gantian!” putus sang Boss, “Sekarang loe semua telanjangin aja dulu dia.”
“Jangan! Jangan! Lepaskan!” Sarah Azhari mulai meronta-ronta lagi ketika Botak, Mata Satu, dan yang lainnya mendekatinya dan langsung merobek-robek bajunya sampai dia telanjang bulat. Sarah Azhari menangis sekeras-kerasnya sambil terus berusaha melepaskan diri.
“Wow, bodinya oke banget” seru Botak, “Gila, bunder ama sih loe. Gue taruhan pasti enak banget ngisep puting susu loe!” Setelah itu mereka semua langsung melepas pakaiannya masing-masing. Sarah Azhari menggigil ketakutan melihat ukuran kejantanan mereka yang luar biasa besarnya. Sementara anak buahnya menggerayangi tubuh Sarah Azhari dari pinggir ranjang, sang Boss langsung naik ke atas ranjang dan mengambil posisi di atas Sarah Azhari.
“Gimana? Loe udah siap kan Sayang? Tenang aja loe bakal ngerasain yang belon pernah loe rasain lewat suami loe!” kata si Boss sambil mengocok batang kemaluannya agar benar-benar tegang.
“Jangan! Lepaskan saya! Saya janji tidak lapor polisi!” mohon Sarah Azhari sambil menangis.
“Hush! Kita di sini mau senang-senang Sayang! Masa loe mau pergi dulu!” kata si Boss sambil mulai mengarahkan batang kejantanannya ke liang senggama Sarah Azhari. “Jangan.. jangan.. saaakkkit, jaangaaakkkhh” Sarah Azhari berteriak-teriak ketika si Boss mulai mendorong masuk batang kejantanannya.
“Buset! Sempit amat memek loe.. Loe seminggu maen berapa kali sih ama suami loe?!” dengus si Boss sambil terus mendorong batang kejantanannya yang baru bisa masuk sampai kepala, sementara Sarah Azhari menjerit sejadi-jadinya, karena selain masih sempit, liang kewanitaannya juga kering sekali sehingga setiap si Boss mendorong batang kejantanannya sakitnya bukan main.
“Jangan! Ampun! Sakit sekali! Saya nggak kuat! Ampuungghhh” Sarah Azhari kembali mendengus kesakitan ketika si Boss mulai mendorong-dorong batang kejantanannya lagi.
“Dorong sekalian aja Boss!” saran Bopeng sesaat waktu dia berhenti mengisap-isap puting susu Sarah Azhari.
“Oke Sayang! Loe siap ya! Gue mau dorong loe sekali lagi”, si Boss bersiap sambil mengusap keringat di dadanya, Sarah Azhari merintih-rintih ketika sodokan si Boss berhenti sejenak. “Sakit sekkhhh.. Aaarrgghhh.. aaakkhhh…” si Boss mendorong keras-keras batang kejantanannya sambil memegangi pinggul Sarah Azhari. Hasilnya seluruh batang kejantanannya bisa masuk sambil diiringi jeritan Sarah Azhari yang melengking tinggi. Setelah itu mulailah si Boss bergerak maju mundur perlahan, setiap tarikan dan dorongan semuanya diiringi oleh erangan Sarah Azhari.
Akhirnya setelah 15 menit maju mundur, si Boss mulai bergerak makin cepat. Sarah Azhari yang sudah kelelahan mengerang dan lemas, mulai merasakan sakit yang menggigit liang kewanitaannya, sementara si Boss makin cepat maju mundur sampai seluruh ranjang berguncang-guncang.
“Sakittt! Aaah, ampuuun! Ampuun…” Sarah Azhari tak berdaya, tubuhnya juga terbanting-banting di ranjang seirama dengan gerakan si Boss. Tubuh Sarah Azhari juga sekarang berkilau karena air liur yang dari lidah-lidah penculiknya yang menjilati tubuhnya dari paha sampai wajahnya. Sekarang si Mata Satu sedang mengigiti puting susunya sementara si Bopeng menjilati wajahnya. Si Jabrik meremas-remas susunya dan si Botak meraba sisa tubuh Sarah Azhari yang lain.
“Eeeggh, gue mau keluar Sayang, eegh.. eegh.. eegh..” dengus si Boss “Yaa.. ya.. gue keluarin Sayang, akk.. eaaah.. eaaahh..” tubuh si Boss mengejang sesaat sambil mendorong batang kejantanannya masuk ke liang kemaluan Sarah Azhari. Dari batang kejantanannya keluar sperma yang saking banyaknya sampai menetes keluar.
“Aaaah! Gue puas bener nih! Gimana dengan loe Sayang?” perlahan si Boss menarik keluar batang kejantanannya yang lemas.
“Ampun, sakit sekali! Saya mohon, ampun..” erang Sarah Azhari lirih karena kesakitan dan kecapaian diperkosa si Boss selama 20 menit lebih.
“Oke sekarang giliran loe semua, jangan rebutan, dia udah jadi milik kita sekarang! Gue mau duduk dulu biar kontol gue bisa istirahat!” si Boss berkata sambil bersila di lantai, “Lo semua tunjukin gue kalo loe jantan oke?!”
“Beres Boss”, seru mereka serempak.
“Sekarang gue duluan!” si Jabrik naik ke atas ranjang.
“Halo Sarah Azhari sayang! Kita mulai aja ya! Gue jamin punya gue lebih besar dari Boss!” Sarah Azhari kembali membelalakkan mata sambil berteriak.
Tak lama kemudian kontol besar milik si Jabrik sudah menyodok liang kewanitaan Sarah Azhari yang sudah tidak karuan bentuknya dan sodokan ganas ini membuat Sarah Azhari meneteskan air matanya. Berjam-jam lamanya Sarah Azhari mesti menerima siksaan dari laki-laki yang sudah lapar akan seks dan tubuh Sarah Azhari yang sangat seksi dan menggairahkan itu. Setelah mereka semua puas menyemprotkan cairan kenikmatan mereka ke dalam liang kemaluanSarah Azhari. Mereka menampar Sarah Azhari sehingga Sarah Azhari menjadi pingsan dan ketika dia sadar, dia sudah berada di sebuah hutan yang dia sendiri tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Tak lama kemudian, Sarah Azhari melihat sebuah cahaya lampu senter di kejauhan dan dia berpikir bahwa sebentar lagi dia bisa melaporkan kejadian yang baru saja dia alami ke polisi. Tetapi sayang sekali karena dugaan dia salah sama sekali. Cahaya cahaya lampu itu berasal dari pemuda-pemuda desa dan ketika mereka melihat tubuh Sarah Azhari yang seksi dan panas itu, mereka tidak menolong Sarah Azhari tetapi mereka malah memperkosa Sarah Azhari. Sungguh pedih hati Sarah Azhari menerima kenyataan bahwa dia harus melayani 20 pemuda pemuda sekaligus. Ada beberapa pemuda yang menjilati payudaranya yang gempal, ada yang memasukkan kejantanannya ke dalam liang kewanitaan Sarah Azhari yang penuh dengan sperma yang sudah tidak tahu lagi milik siapa sperma itu dan ada pula yang menancapkan batangannya ke dalam anus Sarah Azhari dan mulut Sarah Azhari yang indah sekarang mesti melayani batang kemaluan dari 3 pemuda dan dia mesti menjilatinya satu persatu sehingga tak lama kemudian wajah cantik Sarah Azhari sudah dihiasi oleh sperma pemuda-pemuda itu. Setelah mereka semua puas memuaskan nafsu bejat mereka, mereka meninggalkan Sarah Azhari seorang diri di hutan yang gelap itu.

Cerita Seks Bunga Citra Lestari

Ternoda - Hari itu tak pernah terbanyangkan oleh akrtis cantik dan sexy Bunga Citra Lestari. Aktris yang sering disapa Bunga itu telah memerangi dunia akting sebagai sumber penghasilannya. Telah beberapa film layar lebar yang diperankan olehnya sebagai peran utama. Tak salah jika pria diseluruh dunia menyukai aktris sexy itu.

Tak disangka, setelah beberapa kali menjadi peran utama di salah satu layar lebar ia telah melakukan hubungan seks dengan 3 orang office boy di salah satu perusahaan filmnya. Mulanya Bunga selesai syuting di salah satu film terbarunya. Sekitar pukul 11.29 ia baru selesai syuting. Lansung saja kru dan orang-orang yang berhubungan dengan film itu bersiap-siap untuk pulang. Setelah kurang lebih setengah jam, di sekitar tempat syuting sudah tidak terlihat orang lagi. Kecuali Bunga yang hendak ganti bajunya karena syuting tersebut dan 3 office boy yang masih sibuk membereskan perangkat syuting di tempat tersebut. Sebelum bunga ganti baju, ia hendak menelfon supirnya agar mengantarkannya pulang.
Ternoda - Cerita sex Dewasa
Tapi sebelum ia menelfon, terlihat 3 office boy menuju ke arahnya. Wajah mereka tampak kaget ketika mereka melihat Bunga hanya berpakaian teng-top dan celana pendek favoritnya, kelihatan BH berwarna hitamnya balapan dengan tali tengtopnya. Tapi mereka tidak menghiraukan itu, karena sebelumnya sudah sering melihat Bunga seperti itu. Salah satu diantara mereka langsung bertanya “Masih belum pulang non??”. Sambil sibuk memilih bajunya untuk diganti, bunga pun menjawab “Belum Denn…”. Ketiga office boy tersebut juga sedang sibuk menaruh peralatan syuting di ruangan Bunga. Lalu Bunga pun bergegas ke ruang ganti baju yang dekat dari situ. Bunga berbeda dari biasanya, Bunga terlihat cantik sekali karena make up-nya masih sedikit terlihat di wajahnya. Tanpa panjang lebar Bunga membuka pintu ruang ganti tersebut. Lalu kembali menutupnya. Sememntara di ruangan Bunga tadi, ke 3 OB itu masih berada di ruangannya, mereka melihat sebuah hand phone yang berbunyi di atas meja. Cepat saja salah satu dari mereka melihat ke HP yang berbunyi tersebut. Ternyata ada sebuah sms dari supirnya. Karena penasaran mereka sepakat untuk membacanya. Di sms tersebut supirnya menanyakan bahwa mau dijemput jam berapa katanya. Entah pikiran apa yang merasuki 3 OB tersebut, mereka berinisiatif membalas sms tersebut dengan menyatakan bahwa Bunga akan pulang sendiri dengan temannya. Ternyata ke-3 OB tersebut merencanakan untuk memperkosa Bunga.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwNM9dPkK4YRIA3Qqr6sOdrnrnq3NBvMzEfDFURbJefq3ap441Ew0EiTUB6B0HQG0L2KrdHlxuUhLQjvn4UMJs8ZcPj61nSFYemsWumMUPX0OFBVjPmQTI0KWlKe52HThGZXAD_ZflI3oR/s1600/bcl1.jpg
Tak lama kemudian Bunga kembali ke ruangannya setelah berpakaian kaos ketat dan celana jeans nya. 3 OB tersebut masih berada di ruangan itu. “Semuanya .. Bunga pulang dulu yaa…” kata Bunga sambil mengambil tisu di dalam tasnya. “Kok cepet-cepet non??” kata Arga, salah satu OB dari mereka. Mereka bernama Arga, Putra dan Deni. Mereka masing-masing berumur 23 tahun. Karena dari smp mereka bersama sampai akhirnya menjadi OB di salah satu perusahaan film. “Iaa nihh,, udah jam setengah satu..” balas Bunga. Tiba-tiba Deni menutup pintu ruangan tersebut. “Loh .. kenapa ditutup Den??”. Tanpa membalas Arga sudah mendekati Bunga. “Non… Non cantik banget dehh hari ini..” tegas Arga. “ahh … biasa aja kok..”. “Tapi non beda banget dari hari-hari sebelumnya”. “ahhh.. ngga juga..” sahut Bunga. “Duduk dulu atuh non.. kita pengen ngobrol-ngobrol dulu bentar,,kan kita jarang ngobrol…”sahut Putra. Mereka sudah tidak tahan lagi melihat Bunga di hadapannya. Bunga pun duduk lagi. Deni dengan seriusnya menatap dada Bunga. Arga pun ikut duduk di sebelah Bunga. Mereka ngobrol dengan santainya. Karena tak tahan menahan nafsunya,Tiba-tiba Arga mengeluarkan penisnya dari dalam celananya.

Bunga pun kaget. “Ihhh ngapain sih Ga??”. “Non suka ngga??” sahut Arga. Tanpa diberi kesempatan untuk menjawab Arga langsung memegang tangan Bunga dan menyuruhnya mememgang penisnya yang panjang itu. Bunga pun menolak. Deni dan Putra segera melepas semua pakaiannya sendiri-sendiri. Bunga pun tampak kaget dengan semua itu. Dihadapannya sudah ada 2 pria bersama penisnya yang telah lama berdiri dari tadi. Tanpa sadar tangan Bunga sudah menyentuh penis Arga. Tinggal Bunga saja yang masih berpakaian lengkap di ruangan itu. Bunga pun segera berdiri dari kursinya, ia teriak dan berlari menuju pintu keluar. Tapi dengan cepatnya Deni dan Putra menahannya. Bunga pun berteriak ketika badannya dipeluk erat oleh Deni. Payudaranya yang kenyal itu berdempetan dengan dada bidangnya Deni. “Tenang aja Non… Nikmatin aja dehhh”tegas Arga. “Ihh apa-apaan sih kalian??”sahut bunga dengan teriakannya.

Tanpa mengihraukan, Bunga di senderkan ke tembok. Dihadapannya terlihat 3 orang pria yang sudah nafsu daritadi. Tampak ada perasaan jengkel dan ada perasaan ingin melakukannya di wajah Bunga. Dengan cepatnya Putra menciumi bibirnya. Bunga pun terpaksa mengikutinya. Ternyata Bunga memang sudah berpengalaman ciuman, di film-film layar lebarnya. Dengan ganasnya Putra menikmati peristiwa itu. Sementara Arga mendekati Bunga dan segere meremas-remas Payudara Bunga itu yang kenyal masih terbalut BH berwarna hitam yang masih kelihatan walaupun ia memakai bajunya karena baju nya berwarna putih, jadi kontras sekali BH warna hitam itu. Sesekali Bunga melepas ciumannya dan mendesah. “auhhhh…. auhhhhh…” Bunga terus mendesah gara-gara Arga meremas kedua bukit kembarnya itu. Tak sadar Deni sedang berusaha membuka seleting jeans Bunga. Bunga pun sepertinya jadi menikmati adegan itu. Tak lama akhirnya resletingnya terbuka dan Deni menarik jeans nya untuk dilepaskannya. Tak menyangka Bunga Segera membantu dengan menaikan kakinya satu persatu. Akhirnya paha mulus Bunga tampak di depan mata Deni. Bunga pun menghentikan ciumannya dan mengizinkan Arga untuk membuka baju nya itu. Dengan ganasnya mereka melucuti pakaian Bunga satu per satu.

Tak disangka, seorang bidadari berada di hadapan mereka. Tubuh Bunga begitu mulus dan terdapat goretan di dekat pinggulnya. Bunga pun semakin menikmati, ia lansung jongkok dan mengulum penis Putra yang paling besar diantara mereka ber-3. Deni dengan cepatnya melakukan pekerjaannya lagi, meremas kedua bukit Bunga dengan cepat. Sedangkan Arga menjilati pinggiran vagina Bunga. Dengan nafsunya Bunga memaju mundurkan kepalanya. Dibantu Putra memegang kepala Bunga dan memaju mundurkan nya dengan cepat. Bunga pun tampak hendak muntah karena ujung tenggorokan bunga bulak balik disentuh oleh ujung penisnya Putra. “ahhhh…. ahhhhh…. terus non” ujar Putra. Bunga terus mengulum dengan mata tertutup. Setelah sekitar 15 menit adegan itu terus berlanjut. Bunga berganti posisi, kedua tangannya menahan berat badannya, ia seperti domba yang hendak diperkosa saja. Kembali Bunga mengulum penis Putra, dibelakang Arga pelan-pelan memasuki lubang anusnya Bunga. “Ahhhhhhhhh……. Pelan-pelan !!!!!” teriak Bunga sambil kembali mengulum penis Putra. Deni sibuk mlintir-mlintir kedua puting Bunga. “ashhh.. ashhhhhhhhh….”. “Nikmat kan Neng ??”ujar Arga sambil terus menggenjot dengan cepatnya. Akhirnya lubang anus Bunga sudah semakin melonggar. Arga terus menggenjot Bunga dari belakang.

Terlihat Bunga semakin menikmati. Bunga dengan nafsunya melumat buah zakar Putra yang lagi mengelus-ngelus rambutnya. Putra melepaskan penisnya. Ia bergerak ke belakang Bunga. Dari samping terlihat gerakan maju mundur yang cepat. Setelah beberapa saat semuanya berhenti. Mereka ber-3 memberi waktu Bunga agar dapat mengatur nafasnya kembali. Bunga kembali berdiri dan sedikit tertawa. “Awas yah kalian…”ujar Bunga. Mereka ber-3 ikut tersenyum. Tak lama kemudian Deni mengankat Bunga ke Sofa yang lumayan besar dan menelentangkan Bunga disana. Deni segera memasuki vagina nya pelan-pelan. Dengan cepatnya Deni menggenjot vagina Bunga yang sudah keliatan akrab dengan penis Deni. “ahhh … teruss !!!”ujar Bunga dengan penuh nafsunya. Seletah beberapa lama, di sekitar vagina Bunga tidak tampak percikan-percikan darah. Sepertinya Bunga memang sudah pernah melakukan seks sebelumnya. Tangan kanan Bunga mengocok Penis Putra yang sebentar lagi mau keluar itu. Arga Pun mengocok penisnya sambil ujug penis ditempelkan ke puting Bunga. Tampak ketiganya sudah hampir klimaks. Dan pada saat waktunya, mereka bersama-sama mengeluarkan sperma nya di wajah Bunga.

Wajah Bunga terselimuti oleh sperma yang begitu banyaknya. Ke-3 Pria itu tampak bahagia sekali dan lelah sekali. Karena belum puas, mereka ingin melihat Bunga orgasme. Bunga digendong oleh Putra, Andi membukakan selangkangan Bunga, Dan Deni memasukan ketiga jarinya ke vagina Bunga. “ahhhhhhh………ahhhhhhhh”teriak Bunga di ruangan tersebut. Setelah kurang lebih 3 menit Bunga mendesahhh. Akhirnya Bunga mengalami orgasme nya. Dengan muka lemas Bunga tertidur di sofa. Mereka ber-3 pun ikut terlelap di atas tubuh Bunga. Sekitar jam 08.00 pagi mereka terbangun dan melihat Bunga masih tertidur lelap. Mereke menggoyangkan badan Bunga. “Non.. Bangun non udah pagi..”sahut mereka. Bunga pun tersadar, dimukanya bagaikan ada sebuah jaring laba-laba. Sperma ke-3 Pria tersebut masih lengket berada di wajah Bunga. Akhirnya Bunga menuju ke WC dan membersihkan seluruh tubuhnya yang lengket itu. Bunga pun bergegas untuk pulang. Menelfon supirnya agar diantarkan pulang. Bunga kembali keruangan tempat terjadinya hubungan seks semalam.

Ke-3 pria itu sudah kembali berpakaian lengkap dan memberikan senyum ke Bunga. “awas kalau kalian berani lagi ya.. kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku akan laporkan ke pihak yang berwajib!!”. “ehh… iya non maafkan kami semalam”. Bunga pun segera bergegas keluar dari ruangan itu dan menunggu supirnya di depan jalan. Untungnya syuting diadakan 3 hari sekali, jadi hari ini Bunga libur. Kalau saja hari ini ada jadwal Syuting mungkin Bunga sudah kepergok oleh Kru Film. Tak lama kemudian Bunga masuk mobilnya dan kembali tertidur. Sampainya di rumah Bunga langsung tertidur di kasurnya. Bunga sangat lelah sekali atas kejadian semalam. Tapi Bunga merasakan kepuasan yang tiada duanya.


Cerita ini tidak terjadi benar-benar dan hanya sekedar hiburan.

Ngentot Memek Marshanda

Ternoda - Masih inget kasus Marshanda versus Multivision Plus beberapa tahun lalu?!! Kisah berikut ini merupakan kisah rekaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara Marshanda dan bekas PH yang menaunginya. Jadi silahkan anda nikmati kisah yang lahir dari pikran-pikiran kotor sang penulis berdasarkan sumber-sumber yang sama sekali tidak dapat dipercaya he… he… he…

So the story begins……

“CUT…CUT….Nice work everyone. Syuting hari ini sampai disini. Terima kasih. Besok kita ketemu lagi di set yang berikutnya OK.”, kata sang sutradara yang segera disambut meriah oleh seluruh artis dan krew film yang terlibat.
http://i903.photobucket.com/albums/ac238/cintamaya/Aura%20Kasih/Ardina%20Rasti/Tamara%20Bleszynski/Marshanda/marshanda.jpg
Ternoda - Memek Marshanda
Marshanda yang menjadi pemeran utama dalam syuting sinetron Bidadari itu pun bernafas lega. Gadis remaja yang cantik itu mengusap peluh yang sedikit membasahi peluhnya. Marshanda duduk beristirahat di bangkunya sambil menikmati es jeruk, melepas lelah setelah syuting seharian mulai dari waktu pulang sekolah. Tas sekolah pun masih dia bawa, bahkan Marshanda pergi ketempat syuting masih mengenakan seragam sekolahnya. Hhmmm siapa bilang jadi artis itu gampang? Capeknya gak kalah sama kerja lainnya.

“Cha, kamu gak dijemput mama kamu?”, tanya sang sutradara pada artis belia itu.

“Nggak, Oom. Mama sama keluarga yang lainnya lagi ketempat nenek. Kemarin ada telpon katanya nenek Chacha sakit.”, jawab Marshanda.

“Oooh, tapi nenek kamu nggak apa-apa khan?”

“Nggak apa-apa sih Oom. Paling cuma masuk angin atau apalah. Biasanya kalo kangen sama keluarganya, nenek suka sakit, biar ditengokin. Ntar kalo semua udah ngumpul disana, sakitnya sembuh deh.”

“Itu mah kangen keluarga, bukannya sakit. Ya, udah biar kamu pulang diantar sama Raj Kumar aja. Biar dia nggak cuma makan gaji buta aja.”

“Oh nggak usah Oom. Biar Chacha naik taksi aja.”

“Eh, jangan. Sekarang khan udah malem. Bahaya buat kamu naik taksi sendirian malem-malem gini di Jakarta. Udah biar si Kumar yang nganter kamu. HOOII KUMAR…. SINI LOE.”

Seorang laki-laki setengah baya berbadan tinggi besar segera berlari menghampiri Marshanda dan sutradara. Laki-laki itu keturunan India, maklum masih ada hubungan saudara sama pemilik PH, Ram Punjabi. Bahkan karena hubungan keluarga itulah, Raj Kumar bisa bekerja disini. Tanpa skill atau pengetahuan apapun di bidang perfilman, Raj Kumar pun ditempatkan di seksi umum dengan job deskription yang serabutan, sekedar bantu sana bantu sini.


Marshanda agak kurang suka sama lelaki yang satu ini. Nggak bisa apa-apa tapi sok banget. Crew lain pun juga nggak suka. Nggak bisa apa-apa, tapi gayanya sok banget.Untungnya dia masih ada hubungan saudara sama si Boss, jadi krew lain nggak berani negor tingkahnya. Selain itu Marshanda suka serem kalo ngeliat dia. Badan tinggi besar, berowokan, tangan dan kakinya penuh bulu, sepintas mengingatkan Marshanda akan Gorilla raksasa.

“Ada apa nih? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Raj Kumar dengan mata jelalatan melihat Marshanda, gadis remaja yang cantik yang sering kali menghiasi pikiran dan khayalan kotornya.

“Eh, kamu tolong antar Chacha pulang kerumahnya ya. Dia nggak ada yang jemput soalnya semua keluarganya lagi pergi kerumah neneknya.”

“Eh… gak usah Oom. Terima kasih. Biar chacha pulang naik taksi aja.”, tolak Marshanda.

“Udah biar Oom Kumar aja yang ngantar kamu. Bahaya naek taksi malem-malem gini. Oom nggak keberatan kok.”, jawab Raj Kumar.

“Iya Cha. Sekarang biar si Kumar yang nganter kamu. Entar kalo kamu naek taksi, trus ada apa-apa, saya yang disalahkan sama keluarga kamu.”, imbuh sang sutradara.

Akhirnya dengan agak berat hati, Marshanda pun meng-iyakan tawaran tersebut. Marshanda pun segera naik ke mobil Raj Kumar, dan mobil itu pun segera berlalu dari lokasi syuting.

………………….

“Capek ya Cha? Gimana kalo kita makan-makan dulu? Oom tahu restoran yang masakannya enak banget.”, tanya Raj Kumar sambil tersenyum. (Senyum menjijikkan pikir Marshanda)

“Nggak usah Oom. Terima kasih. Tapi Chacha nggak laper. Anterin Chacha pulang aja.”, tolak Marshanda.

“Ooohhh…. ya udah deh. Eh kamu udah dapet skenario yang buat besok nggak?”

“Udah Oom.”

“Kapan kamu dikasih skenario itu?”

“Kemaren lusa. Mbak Lusi yang ngasih.”

“Lho kemaren lusa?? Kamu nggak denger kalo skenarionya ada perubahan. Kemaren si penulis naskah mengganti sebagian dialognya. Kalo skenario yang kamu punya itu dikasih kemaren lusa berarti itu skenario yang lama, bukan yang udah direvisi kemaren.”

“Eh, masa sih. Kok nggak ada yang ngasih tau Chacha sih?”

“Mungkin Lusi lupa ngasih ke kamu. Tadi dia kan nggak masuk. Oh ya Oom punya copiannya di rumah. Kamu bawa aja.”

Marshanda agak ragu nge-jawabnya. Dia butuh skrip yang baru, tp artinya dia harus kerumah orang ini dulu. Entah kenapa Marshanda merasa gak enak harus kerumah Raj Kumar.

“Besok kita langsung syuting setelah loe pulang sekolah. Kalo kamu nggak baca skrip yang baru sekarang, ntar kamu nggak bisa menjiwai karakter kamu lho. Kita mampir sebentar ke rumah oom buat ngambil skrip itu, trus Oom langsung antar kamu puloang. Gimana?”

“Eeng…Iya deh. Tapi nanti langsung antar Chacha pulang ya? Takut kemaleman.”

“Iya, kamu tenang aja.”, jawab Raj Kumar sambil tersenyum mencurigakan.

…………………….

Mobil Raj Kumar akhirnya memasuki halaman parkir sebuah rumah yang cukup mewah di salah satu kawasan perumahan elit di jakarta. Raj Kumar segera turun dari mobil, lalu mengajak Marshanda masuk kerumahnya. Dia meminta Marshanda untuk membantu mencari naskah itu karena dia menaruhnya diantara tumpukan berkas yang lain. Marshanda pun mengikuti ajakan Raj Kumar. Lebih cepat urusan ini diselesaikan. Lebih baik pikir Marshanda dalam hati.

“Sini, Cha. Skripnya ada di sini. Kamu cari aja di tumpukan kertas di meja itu. Oom mau ke kamar dulu.

Marshanda memasuki ruangan yang keliatannya seperti ruang menonton televisi atau film. Fasilitas Home Theatre terlihat di satu sisi kamar. Di sisi lainnya ada sofa besar. Di sebelah sofa itu, ada meja yang diatasnya ada tumpukan kertas yang berantakan. Marshanda segera menghampiri meja itu dan mulai mencari skrip baru yang dibutuhkannya. Sedangkan Raj Kumar pergi ke kamarnya yang terletak di sebelah ruangan itu.

“Sudah ketemu Cha?”, tanya Raj Kumar.

“Belum, Oom. Dimana sih Oom nar….”, jawaban Marshanda terhenti setelah memperhatikan keadaaan sekitarnya. Dia melihat Raj Kumar duduk di sofa besar itu dengan mengenakan piyama. Gelagat tidak enak segera menyergap pikiran Marshanda. Dia segera beranjak menghampiri pintu ruangan itu yang sekarang dalam keadaan tertutup. Marshanda mencoba membuka pintu, tapi tak berhasil. Pintu itu terkunci. Rasa takut segera memenuhi perasaan Marshanda.

“Chacha mau pulang Oom. Tolong oom bukain pintunya. Chacha mau pulang. Sekarang.”

“He…he…he…Kenapa buru-buru Cha? Kita santai aja disini dulu.”, jawab Raj Kumar sambil bergerak perlahan mendekati gadis remaja yang ketakutan itu.

Raj Kumar perlahan mendekati Marshanda. Langkahnya perlahan tapi pasti, membuat Marshanda tak bisa bergerak melarikan diri. Marshanda seperti kelinci mungil yang ketakutan menghadapi hewan buas yang akan memangsanya. Senyum Raj Kumar makin melebar melihat calon mangsanya itu, gadis belia cantik yang sering menghinggapi mimpi-mimpi kotornya. Dan tak lama lagi segala angan-angan kotornya itu akan terwujud.

“Chacha mau pulang Oom. TOLONG…TOLONG…..”, teriak Marshanda. Kepanikan mulai melanda dirinya. Tangannya berusaha membuka kenop pintu, tapi pintu itu tetap tak mau terbuka.

“Percuma saja kamu teriak terus. Hanya bikin bibir kamu yang indah jadi capek he..he… Ini ruang Home Theathre yang sengaja dilapisi peredam suara. Jadi walaupun kamu teriak sekenceng-kencengnya, kagak bakalan ada yang denger.”, kata Raj Kumar sambil berusaha memeluk tubuh Marshanda.

“Eeh…i..ini.. Oom mau apa? le..lepasin Chacha Oom. Lepas.. uukh..lepasin Chacha Oom”, rengek Marshanda.

Marshanda berusaha memberontak dari dekapan Raj Kumar. Tapi apalah daya tenaga seorang gadis melawan raksasa ini. Airmata mulai menggenangi mata bintang artis remaja itu. Walaupun Marshanda masih remaja dan belum pernah pacaran tapi dia tahu betul nasib apa yang akan menimpa dirinya. Sepasang tangan berbulu lelaki India itu segera memegang kedua tangan Marshanda. Tangan Marshanda kemudian ditelikung dibelakang punggungnya sendiri, lalu diikat dengan sapu tangan yang agaknya sudah dipersiapkan Raj Kumar untuk menjalankan aksinya. Kemudian Raj Kumar membopong tubuh Marshanda lalu diletakkan di sofa besar yang ada di ruangan itu. Raj Kumar lalu duduk juga disamping Marshanda yang mulai menangis meminta dilepaskan.


“Hiks..hiiks… tolong lepasin Chacha Oom. Ka..kalo Oom mau uang, berapa saja nanti Chacha kasih, tapi hiks.. tolong lepasin Chacha Oom.”

“Aku sama sekali gak butuh uang, sayang. Kalo butuh uang, aku tinggal minta sama bos kamu, saudaraku yang tercinta itu. Yang aku butuhkan adalah hangatnya tubuh indah kamu, anak manis he.. he… he….”

Sambil terkekeh girang, Raj Kumar mulai menjalankan aksinya. Salah satu kakinya ditumpangkan ke atas paha Marshanda agar gadis itu tak bisa bangun dari sofa. Salah satu tangannya merangkul tubuh gadis belia itu agar tetap bersandar di bantalan sofa. Sehingga tangan yang lainnya bisa bebas membuka kancing seragam sekolah yang dikenakan Marshanda. Tampaknya hari itu memang hari keberuntungan Raj Kumar karena Marshanda hari itu mengenakan beha dengan pengait pembuka di bagian depan. Jemari Raj Kumar pun langsung membuka pengait beha chacha hingga tubuh bagian depan artis remaja itu kini terbuka bebas di depan mata Raj Kumar yang seperti keranjang ( emang laki-laki mata keranjang itu matanya kaya keranjang ya he he he ).

Mata Raj Kumar pun semakin bersinar penuh nafsu saat melihat payudara artis belia yang cantik itu. Payudara Marshanda memang masih kecil mengingat usianya yang remaja. Tapi hal itu tak mengurangi keindahannya. Kencang dengan putting coklat muda yang terlihat menantang. Bibir Raj Kumar pun segera melahap payudara mungil itu. Putingnya ia permainkan dengan ujung lidah, sesekali bahkan dihisap dengan kuat.

“Huu..huu..jangan Oom. Lepasin Chacha Oom hu.. hu.. Chacha gak ma….uukh…”

Marshanda masih menangis. Dia benci dengan lelaki jahanam ini. Sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang melihat dada telanjangnya. Bajingan ini bahkan dengan kurang ajarnya berani mempermainkannya dengan mulutnya. Pada mulanya Marshanda hanya merasa jijik atas perlakuan Raj Kumar di payudaranya itu. Dia hanya merasa agak geli. Tapi lama-lama rasa geli itu mengakibatkan sesuatu yang lain dirasakan oleh Marshanda. Jilatan-jilatan lidah kasar Raj Kumar yang menyapu seluruh bagian buah dadanya itu terutama di putingnya, hisapan bibirnya yang kuat seakan menarik putingnya, serta cambang dan kumis Raj Kumar yang bergesekan dengan kulit payudaranya yang sensitif itu, lambat laun menimbulkan sensasi lain yang belum pernah dirasakan Marshanda. Desah kenikmatan mulai muncul di sela-sela tangisnya.

“Hentikan Oom… aahh.. ja…sstt..jangan Oom ….”

Mendengar desahan Marshanda, Raj Kumar pun tambah bersemangat. Tangannya mulai bergerilya, membelai paha mulus artis remaja itu di balik rok seragam sekolahnya. Bahkan tangannya mulai nakal mengusap vagina Marshanda yang masih tertutup celana dalam. Raj Kumar pun menyeringai senang saat dia rasakan kelembapan pada celana dalam gadis cantik itu, yang menandakan gejolak birahi yang mulai menghinggapi korbannya.

“He..he..he.. Enak khan Cha. Kamu jangan nangis. Oom nggak akan menyakiti kamu. Oom hanya mau memberikan kenikmatan sama kamu. Dan sebentar lagi kamu akan merasa lebih nikmat ha…ha…ha…”

Raj Kumar pun segera melucuti celana dalam Marshanda, dan dia pun segera terpana melihat keindahan yang ada di depan matanya. Vagina Marshanda masih tampak rapat hingga tanpa memeriksa selaput dara didalamnya, Raj Kumar sudah tahu kalau artis remaja ini masih perawan. Vagina itu baru ditumbuhi bulu-bulu halus yang lembut dan tertata rapi.

Airmata Marshanda masih menetes meratapi nasib yang dia tahu akan menimpa dirinya. Rasa jengah dan malu juga menghinggapi dirinya ketika harta yang selama ini dijaganya kini menjadi tontonan bajingan ini. Tiba-tiba …..

“Uuugh…. sst… stop Oom. Aah.. anu Chacha om apa… in aaah…”

Artis remaja itu tiba-tiba tersentak, tubuhnya menggeliat, ketika bibir Raj Kumar mulai menjilati vaginanya. Sensasi ini baru pertama kalinya dirasakan Marshanda. Marshanda hanya merasakan kegelian di selangkangannya, bukan hanya rasa geli biasa tapi rasa geli yang mengirimkan getaran-getaran birahi ke seluruh syaraf tubuhnya.

Raj Kumar tambah bersemangat meneruskan aksinya. Lidahnya yang besar dan kasar dengan lincah menelusuri lorong-lorong vagina gadis remaja itu. Clitoris mungil Marshanda pun tak luput dari sergapan lidahnya, bahkan terkadang dihisapnya kuat sampai tubuh Marshanda mengejang. Tapi kedua tangan Raj Kumar memegangi kedua paha Marshanda sehingga dia dapat meneruskan aksinya tanpa terganggu rontaan gadis belia itu.

“Aaahh…ampun Oom Ja..aahh.. jangan diterusin Oom. Chacha nggak kuat aahh..”

“Ha..ha..ha… kamu nggak usah pura-pura cantik, kamu pasti merasa nikmat. Kamu suka kalo Oom jilatin memiaw kamu, hisapin itil kamu sampai kamu mendesah nggak karuan ha..ha…”

“Nggak. Aahh… Chacha nggak suka. Sstt…. ja..jangan diterusin Oom. AAAHHH…….”

Tubuh gadis remaja itu mengejang hebat ketika orgasme pertama dalam hidupnya dirasakannya. Raj Kumar dengan rakus menjilati cairan kenikmatan yang mengalir dari lubang surga Marshanda.

Marshanda memejamkan matanya. Tubuhnya lemas setelah mengalami orgasme pertama kali dalam hidupnya. “Inikah kenikmatan seks itu?”, pikir Marshanda. Tapi dibalik rasa nikmat yang baru saja dirasakannya, terselip perasaan sesal, marah dan malu. Marshanda malu dan marah pada dirinya, bagaimana dia bisa merasakan kenikmatan padahal dia sedang diperkosa.

Tiba-tiba Marshanda merasakan ada benda hangat yang menggesek permukaan vaginanya. Mulanya Marshanda membiarkannya karena gesekan-gesekan itu mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan di tubuhnya apalagi saat benda hangat itu juga menggesek clitorisnya. Tapi ketika Chacha merasakan benda hangat itu mulai mencoba menerobos masuk liang vaginanya dia pun membuka matanya. Dia melihat Raj Kumar mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginanya. Marshanda kaget dan takut, bagaimana bisa penis raksasa yang besarnya hampir menyamai pergelangan tangan Marshanda itu mau dimasukkan ke dalam vaginanya yang kecil.

“JA..JANGAN OOM. SAKIIT.. AAKHH.. JANGAN OOM.”

“He.. he… he.. tenang saja manis. Pertamanya memang agak sakit, tapi lama-lama nanti kamu pasti menikmatinya dan minta lagi he.. he… he…”

Marshanda menjerit kesakitan, vaginanya terasa perih dan panas ketika benda raksasa itu memaksa masuk ke liang vaginanya. Raj Kumar tak memperdulikan jeritan Marshanda, dia terus memaksakan kepala penisnya masuk ke belahan vagina yang indah itu. Setelah kepala penisnya sudah memasuki liang vagina Marshanda, Raj Kumar berhenti sejenak. Dia melakukan ini agar vagina yang perawan itu agak terbiasa dengan benda asing di dalamnya.


“Uughh, memiaw kamu sempit banget Cha. Enaaakkk he…he…he…”

“Hiks… keluarin Oom. Sakit… aakhh….”

Raj Kumar segera melumat bibir Marshanda agar rengekannya terhenti. Tangannya mulai lagi meremas kedua payudara Artis remaja itu. Kedua putingnya dia permainkan dengan jari-jarinya yang lincah. Raj Kumar mulai melakukan gerakan memompa kecil-kecil dan perlahan, tapi dia tetap menjaga agar penisnya tidak menerobos selaput Marshanda. Raj Kumar ingin agar memiaw Marshanda yang sempit itu terbiasa dulu dengan penisnya, sehingga nanti saat dia memperawani artis belia itu, Marshanda tidak merasa terlalu sakit.

Marshanda menangis tanpa suara. Suara tangisnya tertahan karena bibirnya dilumat bibir Raj Kumar dengan ganas. Lidah Raj Kumar dengan liar menjelajahi mulutnya. Pada mulanya Marshanda hanya merasakan vaginanya perih dan panas ketika penis Raj Kumar mulai melakukan gerakan memompa dengan perlahan. Tapi lama-lama disamping rasa perih yang semakin memudar karena otot vaginanya mulai agak terbiasa, Marshanda juga merasakan kenikmatan karena penis Raj Kumar menggesek-gesek klitorisnya. Dinding vaginanya yang dengan ketat menjepit penis raksasa itu juga mengirim sinyal-sinyal kenikmatan karena gerakan Raj Kumar itu. Putingnya yang dipermainkan Raj Kumar seakan tak mau kalah, memberikan rangsangan yang semakin meningkatkan birahi artis remaja itu. Disamping perasaan marah, sedih, dan malu yang melanda dirinya, Marshanda juga merasa sedikit lega karena perbuatan Raj Kumar itu membuat vaginanya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan lagi yang mengurangi rasa perih dan panas yang dirasakannya. Tapi tiba-tiba…..


“AAAKKKHHH……. SAAKKIIT……. ADUUHH……”

Marshanda menjerit kesakitan ketika Raj Kumar memaksa penisnya menerobos selaput dara gadis belia itu. Raj Kumar memaksakan penisnya masuk dalam satu gerakan sampai mentok. Dia melihat masih ada sedikit bagian penisnya yang tidak bisa masuk. Dia mendiamkan dulu gerakan memompanya agar vagina Marshanda terbiasa. Bibirnya kembali melumat bibir ranum artis remaja itu agar teriakannya tak terdengar. Selain itu Raj Kumar sengaja tidak melakukan apa-apa karena dia tidak mau keluar lebih dulu, karena saat dia mengambil keperawanan Marshanda, otot vaginanya menjepit penisnya dengan kuat. Rontaan Marshanda saat penetrasi itu dilakukan membuat vaginanya membuat gerakan meremas dan menyedot penisnya dengan kuat.

“Uuughh…. memiaw kamu nikmat banget Cha. Baru kali ini Oom merasakan vagina yang bisa meremas dan menyedot kaya gini.”

“Huu…hu… hiks… sa..sakit Oom. Lepasin Chacha Oom, sakit…hu…huu..”

“Tenang saja manis. Memang sakit waktu pertama kali, tapi entar pasti enak kok. Oom Janji he…he..”

Setelah berhenti sebentar, Raj Kumar memulai gerakan memompanya, perlahan-lahan dia tarik penisnya sampai hanya ujung kepala penisnya yang tertinggal, lalu dia masukkan lagi penisnya sampai mentok tak bisa maju lagi. Raj Kumar terus melakukan hal itu dengan perlahan sambil bibir dan tangannya yang seakan tak ingin ketinggalan menjelajah lekuk indah tubuh artis belia itu. Bibirnya yang dikelilingi jambang tebal itu bergerak liar, kadang melumat bibir manis Marshanda sampai gadis itu hampir kehabisan nafas, kadang menciumi leher Marshanda, meninggalkan bekas cupang yang memerah kontras dengan kulit Marshanda yang putih mulus, kadang bahkan bibir itu turun sampai ke bagian dada artis belia itu, menghisap gemas putting Marshanda yang kini mengacung makin keras karena rangsangan-rangsangan yang diberikan permainan Raj Kumar.

Marshanda kembali memejamkan mata, berusaha tidak memperdulikan segala apa yang dilakukan Raj Kumar. Tapi apalah daya seorang gadis muda yang sama sekali tak berpengalaman dalam seks terhadap permainan seorang maniak seks yang sangat berpengalaman. Desahan lirih Marshanda mulai terdengar saat birahi kembali menjalari seluruh tubuhnya. Permainan yang ahli dari bibir Raj Kumar yang menjelajah bibir, leher, bahkan menghisap putingnya yang semakin sensitif, gesekan bulu cambang yang kasar di permukaan kulitnya, dan juga gerakan penis Raj Kumar yang besar yang menggetarkan syaraf kenikmatan di seluruh dinding rongga vaginanya, klitorisnya yang terjepit dan tergesek oleh gerakan penis Raj Kumar, memberikan getaran-getaran birahi yang terus menjalar ke seluruh tubuh gadis belia itu.

“Aaahh…..ssstt…aaahh….”, desah Marshanda yang dilanda birahi seksual.

“He…he… kamu cantik sekali Cha. memiaw kamu juga enak. Bener2 memiaw paling enak yang pernah Oom ent*t.”

Marshanda tak kuasa meladeni omongan kotor Raj Kumar. Dia sudah tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan. Apalagi Raj Kumar mulai menigkatkan tempo tusukannya saat dia merasakan vagina gadis cantik yang ditindihnya itu bertambah basah dengan cairan kenikmatan. Keringat mulai membasahi tubuh kedua insan yang dilanda birahi itu, padahal ruangan itu ber-AC.

“Uuughh…. Chacha….aakkhh……Oom…. Chacha….aaaahhh….”

Tubuh Marshanda mengejang dengan liar ketika orgasme menerpa dirinya. Kedua kakinya mengapit erat pantat Raj Kumar seakan dia ingin agar penis Raj Kumar menusuk lebih dalam. Raj Kumar pun tak kuasa menahan orgasmenya. Vagina artis cantik itu seakan mengisap dan meremas kuat penisnya. Kontraksi otot vagina Marshanda saat dia orgasme memang luar biasa, sampai seorang Raj Kumar yang biasanya mampu bertahan lama sekarang tak kuasa menahan semprotan maninya yang membanjiri liang vagina Marshanda.

“Aakkkhhh…. Oom juga nyampe Cha. Aaakkhh.. ayo Cha peras semua mani Oom sayang. Biar kamu hamil anak Oom he.. he…”

“Aakhh…sstt…aahhh…”

Setelah orgasme panjang yang melanda mereka berdua, Raj Kumar dan Marshanda pun lemas menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Beberapa saat kemudian, Raj Kumar yang pertama kali bangkit. Dia membalikkan tubuh Marshanda sehingga gadis remaja itu tengkurap di atas sofa dengan kaki di atas lantai yang dilapisi karpet. Lutut Marshanda menjadi poros penahan tubuhnya. Kemudian Raj Kumar melepaskan ikatan pada kedua tangan Marshanda. Marshanda yang masih lemas tak mampu berbuat apa-apa, dia hanya bernafas lega karena bajingan ini akhirnya mau membebaskannya. Tapi Marshanda salah besar jika dia berpikir Raj Kumar sudah puas dengan permainanya, karena tak lama kemudian dia merasakan penis raksasa Raj Kumar kembali memasuki vaginanya dari belakang.

“Uuukhh…. ja.. jangan lagi Oom. Chacha capek aaakh….”

Raj Kumar tak memperdulikan rengekan Marshanda. Dia hanya ingin memuaskan nafsunya. Pantat Marshanda yang membulat dia pegangi dengan kedua tangan dan dia langsung memompa gadis belia itu dengan kecepatan tinggi. Terkadang tangannya menampar pantat indah itu hingga Marshanda menjerit kesakitan. Memang lelaki india itu luar biasa, walaupun tadi sudah orgasme tapi tongkolnya masih keras dan siap beraksi lagi. Lama-lama Marshanda yang tadinya lemas menjadi bangkit lagi gairahnya. Desahannya pun kembali terdengar memenuhi ruangan. Raj Kumar pun bertambah semangat mendengar desahan gadis belia yang mulai terhanyut dalam permainannya itu.

Marshanda memang sudah benar-benar terhanyut dalam kenikmatan seks. Pantatnya juga mulai bergerak maju mundur seakan menyambut tusukan Raj Kumar yang ganas. Desahannya yang tadinya lirih menjadi semakin keras, berpadu bagai simponi indah dengan dengusan Raj Kumar yang merasa keenakan menikmati tubuh gadis belia itu. Marshanda seakan lupa dengan kenyataan bahwa dia sedang diperkosa. Bahkan dengan tanpa malu artis remaja yang cantik itu berteriak mengekspresikan kenikmatannya saat orgasme kembali meledak di tubuhnya.

Raj Kumar yang belum keluar merubah posisinya. Kini Marshanda dia gendong berhadapan dengan sambungan lutut gadis itu dia kaitkan ke lengannya dan kedua tangannya menahan pantat Marshanda. Kemudian dia kembali memompa gadis belia itu sambil berdiri.

Marshanda mengalungkan kedua tangannya di leher Raj Kumar agar dia tidak terjatuh. Dengan posisi ini penis Raj Kumar seakan dapat menusuk lebih dalam sampai ke mulut rahim gadis belia itu. Tubuh mereka yang berhimpitan membuat Marshanda merasa nikmat karena payudara dan putingnya yang mengacung tegak bergesekan dengan dada Raj Kumar yang berbulu lebat. Bahkan ketika Raj Kumar mulai melumat bibirnya, tanpa sadar artis cantik itu membalas juga dengan liar. Mereka terus berpacu dalam nafsu sampai puncak kenikmatan itu kembali datang. Mereka orgasme bersamaan, orgasme panjang yang lebih intens dari yang sebelumnya. Bahkan Marshanda untuk pertama kalinya merasakan multi orgasme. Badannya menggeliat liar dalam gendongan Raj Kumar. Raj Kumar pun mendengus liar, menyemprotkan banyak sekali maninya ke vagina gadis itu, seakan-akan semua cadangan spermanya dia tumpahkan semuanya ke memiaw Marshanda. Raj Kumar pun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan Marshanda masih dalam gendongannya. Marshanda merasa kenikmatan yang dirasakannya melolosi seluruh tulang di tubuhnya, dia merasa lemah sekali sehingga dia membiarkan tubuhnya diatas pangkuan Raj Kumar dengan posisi memeluk bajingan yang menodainya dan alat kelamin mereka berdua masih bersatu. Saking lelahnya setelah berpacu dalam nafsu hampir dua jam lamanya, tak lama kemudian Marshanda pun tertidur masih dengan posisi seperti itu.

“He..he… gue beruntung banget bisa nikmatin tubuh cewek cantik kayak kamu Cha. Artis remaja yang sedang naik daun yang jadi impian berjuta lelaki sudah aku nikmati he…he…he…”.

Raj Kumar membiarkan posisi mereka seperti itu. Dia membiarkan tongkolnya lemas dalam vagina Marshanda yang hangat. Tak lama kemudian Raj Kumar pun tertidur juga dengan memeluk Marshanda.

…………………

Raj Kumar terbangun ketika mendengar dering jam bekernya. Jam weker di rumahnya selalu dia stel dengan alarm jam 5 pagi. Raj Kumar kaget karena dia mendapati Marshanda sudah tak ada lagi dalam pelukannya. Tapi setelah dia mengamati keadaan disekelilingnya, dia pun bernafas lega. Ternyata Marshanda tak pergi kemana-mana. Gadis itu duduk meringkuk sambil menangis di dekat pintu. Raj Kumar pun bersyukur karena dia kemarin sempat menyembunyikan kunci pintu ruangan ini hingga Marshanda tidak dapat melarikan diri. Dia pun menghampiri Marshanda yang masih menangis.

“Hu…hu…hu…..hiks..hu..hu….”

“Kenapa kamu nangis sayang? Oom kan nggak nyakitin kamu. Oom cuma pengen ngajari Chacha kalo ML itu enaaaaak beneer. Chacha ingat kan kalo kemaren Chacha juga nikmatin ML sama Oom sampe teriak-teriak kenceng bener he..he…he…”.

“Hu…hu… Oom jahat. Oom memperkosa Chacha. Chacha udah nggak perawan lagi. En…entar kalo Chacha hamil gimana hu..hu…hu..”.

“Tenang aja Cha. Kalo Chacha hamil, Oom mau kok jadi suami Chacha he… he…he…”.

Marshanda tak bisa membayangkan jika dia harus menjadi istri bajingan ini. Tangisnya pun makin keras.

“Udah… udah… kamu jangan nangis lagi. Sekarang kamu mandi dulu biar badan kamu seger, habis gitu Oom akan antar kamu pulang.”.

Marshanda pun akhirnya berhenti menangis karena harapan dia untuk dapat bebas timbul setelah mendengar janji Raj Kumar. Gadis belia itu pun menurut ketika diajak Raj Kumar menuju kamar mandi karena dia memang ingin membersihkan diri dari bekas perlakuan Raj Kumar terhadapnya.

“Oom keluar dulu, Chacha mau mandi.”, kata Marshanda ketika dia melihat Raj Kumar mengikuti dia kedalam kamar mandi.

“Kenapa Cha? Malu? Oom khan udah lihat semuanya he…he…”, jawab Raj Kumar dengan santai sambil menutup pintu kamar mandi.

Rasa takut, marah, dan juga malu kembali menghinggapi benak Marshanda, tapi dia akhirnya menyerah dan membiarkan tingkah Raj Kumar karena Marshanda ingin bisa lekas pulang dan bebas dari bajingan ini.

Marshanda segera berbilas di bawah shower yang ada di kamar mandi itu mencoba membersihkan tubuhnya yang dia rasakan sangat kotor, kotor oleh aib yang diperbuat oleh Raj Kumar terhadapnya. Hati Marshanda kembali terasa perih ketika dia mencoba membersihkan bekas darah di pangkal pahanya. Dia sudah tak perawan lagi, kehormatannya sudah hilang, diambil secara paksa oleh lelaki yang sekarang dengan santainya melihat dia mandi. Marshanda memejamkan matanya sambil menyabuni seluruh badannya, mencoba melupakan keberadaan lelaki itu. Tapi tiba-tiba sepasang lengan mendekapnya dari belakang.

“Eeh Oom mau ngapain lagi?”, tanya Marshanda ketakutan.

“Tenang, sayang. Oom cuma mau bantu kamu mandi he..he… Sekarang biar Oom yang menyabuni badan kamu yang indah ini.”

Marshanda ingin berontak, tapi akhirnya dia sadar apalah daya seorang gadis seperti dia berhadapan dengan lelaki ini. Marshanda pun akhirnya pasrah dan mendiamkan perbuatan Raj Kumar. Tangan Raj Kumar dengan nakal segera menyerbu buah dada Marshanda. Marshanda mendesah perlahan ketika Raj Kumar mengusap-usap payudaranya yang belum tumbuh sempurna itu dengan sabun. Terkadang Raj Kumar meremas pelan payudara itu, terkadang putingnya dijepit dengan jari-jari Raj Kumar kemudian dipilin lembut. Putting artis belia itu menjadi semakin keras karena rangsangan lelaki yang sudah sangat berpengalaman itu. Tak cuma itu, bibir Raj Kumar pun mulai ikut aktif, mengciumi belakang telinga Marshanda, kuduknya, sampai ke lehernya. Marshanda merasakan tongkol Raj Kumar yang sedari tadi terhimpit belahan pantatnya mulai membesar dan mengeras.

“Uugh… Oom aah…”, desah Marshanda makin mengeras ketika salah satu tangan Raj Kumar mulai mengelus-elus vaginanya. Jari lelaki itu dengan lincah segera menemukan klitorisnya dan mempermainkannya.

Ketika birahi Marshanda mulai meningkat, Raj Kumar tiba-tiba menghentikan aksinya. Tanpa sadar Marshanda sedikit merasa kecewa. Raj Kumar menyuruh Marshanda agar membungkukkan badannya dengan kaki sedikit mengangkang sambil berpegangan ke tembok. Raj Kumar lalu berjongkok di belakang Marshanda. Lidah dan mulutnya yang ganti menjelajahi vagina Marshanda dari belakang. Marshanda kembali mendesah nikmat, lidah Raj Kumar yang besar dan panjang menyelusup linacah ke dalam liang vaginanya. Klitorisnya kembali digosok jari Raj Kumar yang tak mau tinggal diam. Bahkan Marshanda merasakan nikmat lain ketika terkadang dengan tanpa rasa jijik lidah Raj Kumar menjilati anusnya. Rangsangan yang gadis belia itu rasakan makin meningkatkan gairah seksualnya sampai akhirnya setelah beberapa menit Marshanda pun menjerit nikmat diterpa orgasme seksual yang kembali dirasakannya setelah kemarin malam.

“AAKHH…. CHACHA AAAHH… EENAAKK OOM…”

Raj Kumar pun dengan rakus menjilati cairan kenikmatan yang mengalir dari lubang surga Marshanda. Tangannya memegangi tubuh Marshanda agar gadis itu tidak terjatuh.

Raj Kumar lalu duduk diatas dudukan toilet yang tertutup. Dia membiarkan gadis cantik itu menikmati sisa-sisa orgasmenya. Kemudian dia memanggil Marshanda lalu menyuruhnya berjongkok di depannya.

“Itu tadi namanya Oral Seks Cha. Enak khan? Oom sudah memberikan kenikmatan sama kamu tanpa tongkol Oom masuk ke memiaw kamu. Sekarang ganti kamu yang harus memberikan kenikmatan oral seks sama Oom.”

“Ma…ma…maksud Oom apa? Chacha nggak ngerti Oom.”

“Kamu jilatin tongkol Om dengan lidah kamu, lalu kamu hisep2 pake mulut dan bibir kamu yang seksi itu he…he….”.

“Ah Enggak Oom. Chacha nggak mau, khan jijik.”.

“Eits kamu jangan egois gitu donk. Oom tadi kan nggak jijik waktu jilatin memiaw kamu, bahkan anus kamu pun Oom jilatin, dan kamu nikmatin semua itu kan?”.

“Ta.. tapi Chacha nggak bisa Oom.”

Tangan Raj Kumar pun segera menjambak rambut Marshanda, lalu dia membentak gadis manis yang ketakutan itu.

“UDAH!! Jangan banyak omong. Pokoknya sekarang kamu jilatin tongkol Oom atau Oom nggak akan ngelepasin kamu. Ngerti!!”

Dengan perasaan takut dan jijik, Marshanda pun mulai menjilati tongkol Raj Kumar.

“Nah, gitu dong. Aaakh… enak. Jilatin juga kepalanya aakhh… bagus. Lubang kencingnya juga Aakhh….”

Slruup…sllrrupp….

“Sekarang masukin tongkol Oom ke mulut kamu. Hisap kayak kamu menghisap permen lolipop.”

Marshanda mencoba memasukkan tongkol yang besar itu ke dalam mulutnya, tapi hanya kepala dan sebagian kecil dari batangnya saja yang bisa masuk. Raj Kumar mendesah keenakan, dia menyuruh gadis cantik itu mengeluar masukkan tongkolnya ke mulut. Raj Kumar memberi Marshanda petunjuk tentang cara blowjob. Petunjuk Raj Kumar pun dituruti Marshanda dengan baik agar dia tak lagi menerima perlakuan kasar dari bajingan itu. Raj Kumar pun mendesah keenakan karena Marshanda ternyata cepat sekali belajar dan sekarang sudah bisa melakukan blowjob dengan bibirnya yang lembut itu.

“Aaaakhh….. yak gitu Cha aakhh… enak. Kamu pinter banget Cha. Kayaknya kamu berbakat. Natural Cocksucker aahh…. Oom mau nyampe aaakkhhh….. telen semua mani Oom Cha aaaaakkhhh…”

Raj Kumar pun akhirnya orgasme karena nikmatnya blowjob Marshanda. Dia menahan kepala Marshanda agar tak melepas kulumannya. Maninya menyemprot deras di dalam mulut Marshanda. Artis belia itu pun terpaksa menelan sebagian sperma Raj Kumar, sebagian lagi meleleh di sela-sela bibirnya yang masih disumbat tongkol raksasa Raj Kumar.

“Uhuk..uhk…”, Marshanda terbatuk-batuk setelah dia bisa melepaskan tongkolkan Raj Kumar dari mulutnya.

“Aaahh…. kamu benar-benar cewek yang luar biasa Cha. Nggak cuma memiaw kamu aja yang enak, mulut kamu juga yahut he… he… he…”

Setelah Marshanda selesai batuknya, Raj Kumar segera menarik gadis itu ke arahnya. Raj Kumar menyuruh Marshanda memasukkan tongkol Raj Kumar kedalam memiawnya sambil duduk di pangkuan Raj Kumar.

“Ja.. jangan Oom. Chacha nggak mau lagi. Jangan.”

“Sayang, kemaren kita khan juga udah ngelakuin jadi sekali lagi nggak masalah khan?! Awas, kalo kamu nggak nurut perintah Oom, Oom nggak akan ngelepasin kamu dan Oom akan memperkosa kamu terus tiap hari. Kalo kamu nurut apa kata Oom, Oom janji habis ini Oom akan ngelepasin kamu dan nganterin kamu pulang.”.


Marshanda pun akhirnya memilih untuk mematuhi semua perintah bajingan terkutuk ini agar ia bisa bebas. Raj Kumar menyuruhnya untuk mengangkangi Raj Kumar yang masih duduk di toilet. Posisi badan mereka berhadapan.


“Nah, sekarang kamu pegang tongkol Oom, lalu masukin sendiri ke memiaw kamu. Cepat.”

“Akkhh… aduh.”


Marshanda merintih ketika memaksa tongkol besar itu ke memiawnya yang sempit. Gadis itu melakukannya dengan perlahan agar tidak terlalu sakit, sampai akhirnya kepala tongkol Raj Kumar pun bisa masuk ke memiaw sempit itu. Raj Kumar pun menyuruh artis remaja itu untuk memasukkan lebih dalam. Marshanda pun menurutinya, dia memaksa tongkol itu semakin masuk ke dalam liang vaginanya sampai akhirnya dia merasa ujung tongkol yang besar dan panjang sampai menyentuh mulut rahimnya. Raj Kumar lalu menyuruhnya melakukan gerakan naik turun sehingga sekarang kelihatan seperti Marshanda yang ngentot Raj Kumar.

“Aaahh….ssst…aahhh…”, rintihan dan desahan nikmat Marshanda mulai terdengar lagi.

“Aaakhh…. kamu pinter Cha. Terus aaahhh…. enak. Sambil goyangin pantat kamu. Puter-puter kayak goyangan ngebornya si Inul aaakhh…”

Marshanda terlarut dalam birahinya. Pantatnya terus dia naik turunkan menunggangi penis Raj Kumar. Kadang pantatnya dia goyangkan, berputar, maju-mundur yang membuat Raj Kumar makin keenakkan. Bahkan ketika Raj Kumar memeluk lalu melumat bibirnya, Marshanda membalasnya tak kalah bernafsu. Desah kenikmatan mereka makin keras berpadu dengan indahnya. Setelah hampir setengah jam mereka berpacu dalam birahi, Marshanda merasakan kalo orgasmenya akan datang. Dia semakin liar menggoyang Raj Kumar, insting alami yang dimilikinya membuat ia tanpa sadar makin mempercepat tempo genjotannya. Raj Kumar yang juga merasa kalo orgasmenya akan datang, segera memegangi pantat Marshanda, membantunya agar naik turun lebih cepat. Bahkan Raj Kumar dengan paksa mencoba membuat tongkolnya menusuk lebih dalam sampai-sampai Marshanda seakan merasa kalo tongkol itu menusuk sampai ke perutnya.

“AAAAKKKHH…….Oom nyampe Cha aaaaakhh….”

“Chacha juga aaaaaakkhhh………..”

Kedua insan itu orgasme bersamaan. Mereka berpelukan erat menikmati sensasi luar biasa yang baru saja mereka rasakan. Setelah beberapa lama mereka tetap dalam posisi itu, Raj Kumar lalu mengajak Marshanda mandi kembali. Setelah mandi dan berganti pakaian, Raj Kumar mengantarkan Marshanda pulang. Dan didalam mobil, dalam perjalanan pulang, Raj Kumar menyuruh Marshanda sekali lagi melakukan blowjob sampai akhirnya dia keluar dalam mulut dengan lesung pipit manis itu. Sebelum melepaskan Marshanda, Raj Kumar mengancam agar gadis itu tidak menceritakan perbuatannya kepada siappun terutama Polisi. Raj Kumar bilang dia merekam persetubuhan mereka berdua tadi malam dalam kamar untuk koleksi pribadi, tapi kalau Marshanda macam-macam, rekaman itu akan disebarkannya hingga karir Marshanda pun akan hancur. Marshanda menangis memohon Raj Kumar agar tidak melakukan hal itu. Raj Kumar menyanggupinya asalkan Marshanda tidak berbuat macam-macam.

Setelah kejadian itu Marshanda tak mau datang ke lokasi syuting. Dia mendesak mamanya agar dia bisa pindah ke PH lain. Mamanya bingung dan mencoba bertanya ada masalah apa, tapi Marshanda tak mau menjelaskan pokoknya dia mau pindah dari Multivision Plus yang telah mengontraknya. Mama Marshanda pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti permintaan putrinya itu. Maka terjadilah skandal perseteruan antara Marshanda dan Multivision Plus seperti yang diberitakan di beberapa media cetak beberapa waktu lalu.
……..

beberapa tahun kemudian………..

“Ah..ahh….ahhh….”

Desahan-desahan nikmat terdengar bersahutan dari sebuah apartemen di Jakarta. Seorang gadis cantik dengan liarnya menunggangi seorang laki-laki yang tidur terlentang di ranjang dalam kamar salah satu apartemen itu. Gadis itu bagaikan seorang joki yang ahli sedang mengendarai kudanya. Goyangannya begitu erotis dan panas. Sang lelaki cuma bisa mengerang nikmat karena goyangan si gadis cantik. Liukan liar sang gadis membuat pria itu tak bisa bertahan lama dan dia pun menyemprotkan spermanya ke liang kenikmatan gadis itu. Sang gadis yang belum mencapai puncaknya makin mempercepat goyangannya agar dia bisa mendapatkan puncaknya sendiri. Tapi apa daya penis sang lelaki telah lemas padahal baru satu ronde mereka berpacu. Sang gadis yang penasaran segera turun dari tubuh sang lelaki. Penis sang lelaki yang sudah lemas itu segera dikulum dengan mulutnya. Hisapan mulut, permainan lidah dan segala teknik yang dimilikinya dalam oral seks dikeluarkan gadis itu dengan harapan sang penis bisa berdiri kembali.

“Aaahh…. sudah Cha. Gue udah capek nih. Kamu memang bener-bener cewek yang luar biasa. Permainan kamu diranjang ganas banget. Aahh… gue puas banget bisa ngentot sama kamu. Makasih ya sayang. Sekarang gue mau tidur sebentar, nanti sore khan kita syuting lagi.”, kata Baim Wong sambil memejamkan matanya, mencoba beristirahat sesudah puas berpacu dalam birahi.

Gadis itu yang ternyata adalah Marshanda yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa dengan lekak-lekuk tubuh yang makin indah. Payudara membulat penuh, tak seberapa besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Payudara itu dihiasi putting indah yang terlihat selalu mengacung menantang. Vagina yang terawat rapi tanpa rambut. Kaki jenjang. Wajah manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Benar-benar suatu keindahan yang sempurna.

Dengan kesal Marshanda meninggalkan Baim yang tak sanggup memuaskannya dan menuju ke kamar mandi. Dalam kamar mandi, dibukanya lemari kecil yang ada di dalam kamar mandi itu. Marshanda mengambil sesuatu dari lemari itu. Ternyata benda yang diambilnya adalah sebuah dildo yang berukuran besar, dua kali lebih besar dari penis si Baim. Lalu artis cantik yang sedang naik daun itu segera memasukkan dan memainkan dildo itu di dalam memiawnya. Dia berusaha mencapai puncak yang gagal dia dapatkan dalam persetubuhannya dengan Baim Wong. Desahannya pun mulai memenuhi kamar mandi itu.

“Aah..ahh…ini baru namanya tongkol aah…”

Marshanda mendesah nikmat. Dildo dengan ukuran inilah yang bisa memuaskannya, dildo dengan ukuran sebesar tongkol Raj Kumar, bajingan yang mengambil keperawanannya. Marshanda masturbasi sambil mengenang pengalamannya waktu diperkosa Raj Kumar. Dia teringat bagaimana rasanya saat tongkol Raj Kumar yang besar, panjang, dan keras menusuk sampai dalam ke dalam lubang memiawnya. Membuatnya orgasme berkali-kali. Marshanda masih ingat kalo tongkol Raj Kumar masih bisa berdiri dengan gagahnya setelah mengeluarkan maninya. Dia teringat bagaimana hanya dengan permainan lidah Raj Kumar, Marshanda bisa mencapai orgasme. Kenangan-kenangan itu semakin meningkatkan birahi Marshanda, sampai akhirnya dia pun menjerit keras saat orgasmenya pun datang.

Setelah sejenak beristirahat menikmati sisa-sia orgasmenya, Marshanda pun lalu mandi dan kembali lagi ke kamar. Dia melihat Baim sudah terlelap dalam tidurnya. Dasar cowok lemah dan egois, maki Marshanda dalam hati.

Marshanda memang dikenal dalam pandangan khalayak umum sebagai artis yang baik-baik, jarang digosipin. Tapi dikalangan selebriti sendiri, Chacha lebih dikenal sebagai cewek yang bisa diajak “having fun”. Asal cocok, mereka bisa menikmati tubuh Marshanda yang indah itu. Bahkan kepiawaian Marshanda dalam urusan seks menjadi legenda tersendiri dalam kalangan selebritis. Tapi sayang jarang banget yang dapat memuaskan Marshanda dalam urusan birahi.

Marshanda melamun dalam kamar itu. Dia berpikir siapa lelaki yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti saat pertama kali dia mengenal seks. Kenikmatan yang begitu intens dan berulang-ulang. Bahkan sampai saat ini tak ada seorang pun yang bisa membuatnya multi orgasme seperti waktu itu. Akhirnya setelah melamun hampir satu jam, Marshanda pun bangkit dari duduknya. Dia meraih Handphonenya lalu memencet-mencet nomor dalam keypadnya. Terdengar nada tunggu.

Tut…. tut…..

“Halo?”, jawab seorang lelaki dari speaker handphone Marshanda.

Marshanda ragu untuk menjawab, dia hanya diam.

“Halo?! Siapa nih?”, tanya laki-laki itu lagi.

Setelah menarik nafas panjang dan mengumpulkan keberaniannya, Marshanda pun berbicara melalui handphonenya.

“Halo. Eeeng.. Oom Kumar. Enggg…. i…ini Chacha Oom.”

Cerita Sex Duo Maia

Ternoda - Prrokk..prokk.prokk..’ tepuk tangan yang riuh dan kencang mengiringi Maia dan Mey Chan yang baru selesai bernyanyi. ‘Terima kasih semuanya..’

Duo Maia tersebut membungkukkan badan dan melambaikan tangan sebagai ucapan terima kasih kepada para penonton kemudian mereka pun jalan menuju ke belakang panggung. Mereka baru saja selesai membawakan dua lagu di sebuah pentas di mal di daerah Jakarta Utara. Maia dan Mey Chan lebih dikenal dengan Duo Maia. Maia berumur 31 tahun dan sedang sibuk dengan perceraiannya serta anak-anaknya yang masih kecil namun tentu saja ia juga sibuk dengan kegiatan bernyanyi. Sejak kisruh di tubuh Ratu yang berakhir dengan hengkangnya Mulan Kwok dari band yang membesarkan namanya, Maia kemudian membentuk Duo Maia, dengan merekrut Mey Chan, seorang penyanyi lokal asal Malang.Sementara Mey Chan berumur 22 tahun dan menggantikan Mulan yang selama ini menjadi duet Maia. Mey Chan sendiri belum banyak dikenal di dunia musik Indonesia, meski perempuan yang mengaku bermusik sejak usia 14 tahun itu telah bergabung di beberapa grup musik. Namun demikian kemampuan bermusiknya terbilang mumpuni, dilihat dari kemampuannya memainkan piano, gitar, bass dan juga drum. Hal ini akan memberi energi baru bagi Maia dan grup duonya.

‘Hmmmpphhh.. akhirnya selesai juga ya bunda..’ kata Mey seraya mendaratkan pantatnya di sofa ruang ganti artis tersebut.
‘Iya. Padahal hari ini kita nyanyi ga lama loh..tapi kok kayaknya capek banget ya..’ kata Maia seraya membongkar tas nya dan mengambil air minum.
‘Kayaknya tadi kelamaan nunggu deh kita..jadi keburu capek duluan..’
‘Iya juga sih.. kamu mau bersihin make up disini apa di hotel ?’ tanya Maia.
‘Di hotel aja deh..’ kata Mey Chan sambil ikut menengguk air dari botol Maia.
‘Bentar ya aku mau nelpon anak-anak di rumah..’ kata Maia sambil memencet tombol HPnya.
‘Halo…Ti..Siti..anak-anak dah pada tidur belom ?’ tanya Maia kepada pembantunya.
‘Oh..sudah Bu.. barusan mereka tidur..’ kata Siti.
‘Bsok jangan lupa siapin sarapan buat mereka, sama susu ada di kulkas kayak biasa ya..’
‘Baik Bu..mmm…Ibu kapan pulangnya ?’
‘Ohh..saya paling bsok rada sore-sore juga udah pulang.. Ya udah kamu jaga rumah baik-baik ya Ti..’
‘Iya, Bu..’
Maia pun kemudian mematikan HPnya. Dilihatnya Mey Chan ternyata sedang sibuk ber-SMS-an ria.
‘Mau ke hotel sekarang Mey?’ tanya Maia.
‘Yuk..’ jawab Mey Chan sambil tetap matanya memandang ke HP dan jarinya sibuk memencet tombol-tombol.

Mereka pun berjalan ke arah parkiran.
‘Bun, minggu ini jadi ke Jepang?’ tanya Mey sambil berjalan.
‘Jadi..abis itu mau ke Eropa juga.. kamu mau ikut ga ?’
‘Ah ga enak ah bunda… Bunda kan pergi sama keluarga…’ kata Mey.
‘Yeeee.. ya gapapa lah..ikut aja.. toh orang-orang rumah juga kenal sama kamu..’ Maia coba membujuk.
‘Iya sih..tapi ga usah deh..aku di Jakarta aja..hehehe..’ Mey tersenyum manis pada Maia.
‘Ya teserah kamu aja..’ kata Maia sambil memencet remote pada kunci mobil yang dipegangnya.
Maia tidak berlama-lama dan langsung menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian mereka pun melaju menuju ke hotel untuk beristirahat. Mereka tidak tahu kalau esok harinya akan menjadi hari yang melelahkan. Jauh lebih lelah dari hari ini. Sebuah mobil membuntuti mereka dari belakang namun tentunya mereka tidak sadar.

#############################
Di Hotel

‘Parkir situ aja bunda..’ kata Mey sambil menunjuk ke arah parkiran yang kosong.
Maia pun langsung bergerak tanpa menjawab. Dengan sigap ia pun langsung melakukan parkir mundur. Setelah beres mereka mulai mengambil tas masing-masing, turun, dan kemudian masuk ke dalam hotel tersebut.
‘Malam mas..’ Mey Chan menyapa receptionist di hotel tersebut.
‘Malam mbak Mey Chan dan mbak Maia..’ receptionist itu pun membalas dengan ramah. ‘Ini kartunya..’ kata pria itu seraya menyodorkan kartu untuk kamar mereka.
‘Wah uda hafal ya..hehehe.. makasih ya mas..’ kata Mey seraya berjalan menuju lift.
Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah Mey yang masih lincah saja di malam hari. Maia pun hanya tersenyum kecil kemudian menyusul Mey. Tidak lama berselang, receptionist itu dikejutkan karena kedatangan seorang bapak-bapak.
‘Malam, pak..ada yang bisa saya bantu?’
Bapak tua itu hanya tersenyum dan mengangkat kopernya, diletakkannya di depan receptionist itu dan dibukanya. Si receptionist sungguh kaget melihat isi koper tersebut. Sementara si bapak tua tersenyum terkekeh-kekeh.

############################## #
Lantai 5…

Tinnggg..lift pun terbuka di lantai tempat kamar mereka berada. Mereka pun berjalan menuju ke kamar dan masuk ke dalamnya.
‘Hhhmmpp akhirnya bisa istirahat..’ Mey merebahkan diri di tempat tidur.
‘Eh jangan langsung tidur aja Mey..bersih-bersih dulu sana..ganti baju dulu..’ kata Maia sambil mengorek isi koper bajunya.
‘Bunda duluan aja deh..’ kata Mey sambil memejamkan mata.
Maia pun membawa sikat gigi dan pembersih muka menuju kamar mandi. Mey Chan sambil tidur-tiduran matanya memandang seisi kamar. Ia sendiri sedang tidur di atas sebuah kasur ukuran king size yang besar dan empuk. Tepat di seberang tempat tidur itu ada TV dan di sebelahnya ada meja rias. Di kanan tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan dua tempat duduk untuk tamu yang ingin bersantai sambil minum teh. Mereka memang mengambil kamar yang terkesan standard karena mereka hanya ingin menginap selama satu malam.
‘Mey..aku udahan.. tuh pake aja kamar mandinya..’ Maia keluar dari kamar mandi sambil memakai baju tidur yang sudah dibawanya dari rumah.
‘Iya bunda..’ Mey Chan pun bangun dari tempat tidur, menuju tas nya, mengambil sikat gigi dan pembersih muka lalu ke kamar mandi.

Maia menghidupkan TV mencoba mencari acara TV yang bagus.
‘Bunda, bsok mau ke mal dulu ga?’ tanya Meychan dari dalam kamar mandi.
‘Mau ngapain ?’
‘Mau cari sepatu, baju, sendal, ya shopping-shopping aja..mau ga ?’ tanya Mey sambil menyikat giginya.
‘Ya uda boleh..tapi abis kita check-out aja..kita check-out, makan siang, terus jalan ke mal..ok?’
‘Siap, bunda !!’ kata Mey sambil kembali ke kamar mandi.
‘Mey, aku tidur duluan ya..ngantuk..’ kata Maia sambil mematikan TV karena tidak ada acara yang bagus.
‘Iya, aku juga mau langsung tidur nih..ngantuk.. hoooaaahhmm..’ Meychan yang sudah selesai bersih-bersih dan sudah memakai baju tidurnya pun naik ke atas tempat tidur itu dan tidak lama kemudian mereka berdua pun tertidur.
Foto Erotis       

Jam yang sama..lantai dasar hotel..

‘Ini pak jadwal pelayan yang tugas bsok..’ kata receptionist tadi yang bernama Herman.
‘Hmmm..’ sementara bapak tua yang bernama Bapak Kuncoro itu hanya memandangi jadwal tersebut.
‘Ok..bapak bisa minta bantuan sama yang namanya Rudi..karena saya tau persis dia lagi butuh uang buat bayar bandar karena dia kalah judi pak..satu lagi ini namanya Udin pak.. dia petugas kebersihan kamar buat bsok pagi..’
‘Baik..besok saya akan ketemuin mereka..kamu besok bertugas malam lagi?’ tanya bapak tua tersebut.
‘Iya pak..tapi hari ini saya tugas sampai sekitar jam 8 pagi.. jadi saya bisa anterin ketemu Rudi dan Udin..’
‘Bagus…sampai ketemu bsok.. dan menurut saya, kamu bsok jangan jauh-jauh dari hotel ini..hehehehe’ pak Kuncoro pun tertawa dengan nada yang berat kemudian berjalan ke arah keluar hotel.
Herman pun segera berlari untuk mengembalikan jadwal kerja yang seharusnya dipegang manager HRD tersebut. Herman adalah seorang bujangan berumur 25 tahun, orangnya tidak jelek namun tidak ganteng. Tingginya cukup tinggi tapi ia orang yang cukup gemuk. Ia sangat senang dengan model rambutnya yang spike itu. Sementara bapak-bapak yang tadi adalah pak Kuncoro. Seorang konglomerat, pengusaha tekstil yang sukses. Beliau adalah duda. Kepalanya botak hanya kumis yang mau tumbuh di kepalanya. Perutnya buncit dan wajahnya sudah mulai mengkeriput karena umur.

############################## ###
Jam 9 pagi, keesokan harinya..

‘Mey..bangun Mey.. kamu ga mau sarapan ?’ kata Maia mencoba membangunkan Mey Chan.
‘Mmmmmmhhhhhh..emang uda jam berapa sih bunda ?’ tanya Mey dengan mata tertutup.
‘Udah jam 9..buruan aku aja udah rapi nih..hehe’ Maia berkata sambil senyum.
Mey Chan pun mencium dengan jelas bau parfum Maia. Parfum mahal dengan wangi khas seorang ibu.
‘Hoooaaaahhhmmm..ya uda aku mandi dulu, bunda turun aja duluan nanti kita ketemu di restorannya aja..’ Meychan pun bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
‘Ya uda..jangan lama-lama ya..’ Maia pun menuju ke arah keluar kamar.
Maia hari ini mengenakan you can see warna putih dipadu celana jeans panjang warna hitam serta sepatu hak tinggi warna putih. Sepanjang perjalanan menuju lift beberapa karywan yang kebetulan lewat menyapa Maia dengan ramah. Ada juga orang yang menginap disitu dan mengetahui bahwa itu adalah Maia, maka mereka pun tidak mau membuang kesempatan dan mengajaknya foto bersama. Setelah melayani beberapa penggemarnya itu untuk foto bersama, Maia mengambil ponselnya, seperti kebiasaanya hari-hari ini, setiap pagi Maia menelpon kerumah, sekedar memastikan keadaan ketiga anaknya, terlebih urusan sekolah mereka yang sering diabaikan oleh ayah mereka yang diktator itu,.. perlahan jantungnya kian berdebar kencang, ya seperti inilah keadaan Maia, bahkan untuk menelpon anak-anaknya sendiri pun ia harus menahan rasa takut kalau-kalau yang mengangkat adalah suaminya.

Perlahan nada tunggu terdengar di telinga Maia, hingga beberapa saat kemudian seseorang mengangkat telepon-nya.
” Halo,.. ” tanya Maia perlahan,.
” Ya,.. ” jawab diseberang sana singkat,..Mas Dhani
Jantung Maia berdebar keras, karena tau siapa yang mengangkat teleponnya,..
” Dul mana ?? ” Tanya Maia, karena ia memang sengaja menghubungi ponsel Dul,.
” Masih tidur, kenapa ?? “
” Sekarang kan jam-nya sekolah, kenapa gak sekolah,.. ” kata Maia cetus, karena selalu begitu, anak-anaknya jarang sekolah kalau ia sedang tidak ada dirumah,..
” Loh, kasian kan anak-anak, lagi katanya malas,.. ” Jawab Ahmad Dhani tak bertanggung jawab,..
” Loh gak bisa gitu donk,.. sini kasih teleponnya ke Dul,.. ” Maia malas menanggapi suaminya itu yang pasti mengajaknya bertengkar,..
” Masih tidur, nanti ajalah” jawabnya sok bijak,..
” Gak cepat,..kasihin sekarang !! ” Bentak Maia,..
” Loh, kenapa jadi membentak,.. ” Kata Dhani
” Tolong,.. ” Maia mengalah,..
” Yawda nanti saya sampaikan, teleponnya nanti saja,.. ” Dhani menutup telepon,..
” Dasar Kambiiiii,… ” tak sempat terucap, Maia masih menahan emosinya, bagaimana pun yang ada di pikirannya adalah bagaimana mendapatkan hak asuh anak-anaknya itu,..

Begitulah keadaan keluarganya sekarang, bahkan untuk sekedar bisa bercerita, dan berbincang panjang lebar seperti dihalang-halangi, terhalangi oleh ke-egoan suaminya yang masih terjebak dengan kejayaan masa lalu, yang membuatnya menjadi sombong dan diktaktor, memakai topeng bijak, padahal memeluk wanita-wanita lain. Dengan menahan rasa kesal, Maia pun menekan tombol lift untuk turun, ia hanya bisa terus mengalah sambil menahan rasa jengkel terhadap kambing yang sampai saat ini masih menjadi suaminya itu. Sementara Meychan sedang mandi sambil menyabuni seluruh badannya. Di bawah siraman shower tersebut Meychan pun bernyanyi nyanyi kecil sambil sedikit melakukan dance. Bersiul-siul, Meychan memang sosok yang sangat lincah dan enerjetik. Setelah selesai ia pun mengenakan bra warna biru muda tanpa tali dan celana dalam yang sepadan warnanya dengan bra tersebut. Kemudian dikenakannya tank top warna pink serta rok mini dari bahan jeans. Sepatu hak dengan warna silver dan semprotan parfum yang wanginya segar itu pun membuat Meychan tampil sangat cantik. Setelah mengatur rambutnya, ia pun keluar kamar dan bergegas menuju ke bawah karena Maia sudah menunggu.

Tidak lama setelah mereka pergi, ternyata ada yang hendak masuk ke kamar itu…
‘I-ini pak kartunya..’
‘Ya uda buka donk !!’ pak Kuncoro membentak Udin. Udin adalah seorang petugas kebersihan disitu. Ia yang bertugas membersihkan setiap kamar di lantai 5 hotel tersebut. Kulitnya hitam karena sering naik bus dan angkot. Umurnya baru 20, 30 tahun lebih muda dari pak Kuncoro.
‘Ba-baik pak..’ Udin pun gemetar karena dibentak bentak.
Setelah dibuka pak Kuncoro pun masuk dan memberikan uang 100.000 untuk Udin.
‘Makasih pak..’ kata Udin.
‘Iya..iya..sudah sana kamu pergi..’ kata pak Kuncoro.
Udin pun pergi dan meninggalkan pak Kuncoro di dalam seorang diri. Pak Kuncoro pun hanya tersenyum-senyum duduk di tepi ranjang sambil menunggu kedua korbannya datang.

############################## #
Di saat yang sama, restoran hotel…
Foto Erotis
‘Bunda sori ya lama..’ kata Meychan sambil duduk di sebelah Maia.
‘Kamu tidur kok kayak pingsan gitu loh..hehehe’ kata Maia sambil tertawa.
‘Kan capek bunda..’ Mey bergaya ngambek sambil memonyongkan bibirnya.
‘Tuh disana ada bubur, ada roti, terserah kamu aja mau yang mana..ambil gih…’ kata Maia.
Meychan pun menuju ke arah tempat pengambilan bubur. Setelah diambilnya semangkok bubur, ia pun mengambil segelas jus yang sudah disediakan. Meychan kembali ke meja.
‘Pagi mba Maia dan mba Meychan.. mau kopi atau teh?’ seorang pelayan berumur 23 tahun berperawakan kurus dengan cepak mencoba menawarkan mereka teh atau kopi.
‘Mmmm aku kopi..’ kata Maia.
‘Aku teh..’ Meychan menyusul jawaban Maia.
‘Baik..segera saya ambilkan…’ pelayan itu pun menuju ke arah dapur.

‘Rud, teh yang di dalem kenapa loe taro sini? Ini ada pot kopi juga disini’ tanya seorang chef.
‘Oh maaf ya pak saya tadi lupa bawa itu keluar..’
‘Rudi..Rudi.. jangan lupa lagi ya..nanti pelanggan pikir kita ga nyediain teh sama kopi..ok?’ tanya sang chef.
‘Baik pak..ini ga akan terulang.’
Chef itu mengangguk-angguk dan kemudian berlalu untuk memasak kembali. Sementara Rudi mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebungkus serbuk ‘ajaib’ persembahan pak Kuncoro tadi pagi. Tanpa buang-buang waktu Rudi pun memasukkan serbuk itu ke dalam cangkir yang satu serta cangkir yang kedua.
‘Segini kebanyakan ga ya..’ pikir Rudi dalam hati. ‘Katanya sih suruh 2 gram aja cukup tapi gue mana ngerti 2 gram seberapa.. ah uda setengah sini setengah sana deh..’ akhirnya Rudi memasukkan bubuk tersebut dan kemudian menuangkan kopi di atasnya. Sementara yang satu lagi dituangnya teh. Setelah beres, Rudi pun kembali ke meja dimana Maia dan Meychan telah menunggu.
‘Silahkan..’ kata Rudi sambil meletakkan cangkir itu sesuai pesanan masing-masing.
‘Makasih ya mas..’ kata Mey Chan.
Rudi pun hanya menjawab dengan senyuman.

‘Mey kalo sepatu model gini cocok ga sih buat aku?’ tanya Maia sambil menunjuk gambar di majalah yang sedang dibacanya.
‘Kayaknya sih cocok-cocok aja..nanti kita cari aja di mal..’ kata Mey sambil menenggak habis jusnya.
‘Aku juga mau cari tas ah nanti..hehehe’ Maia tertawa sambil terus asyik membaca majalah itu.
‘Bunda udahan makannya?’ tanya Mey.
‘Udah..kenyang banget..’ Maia pun meminum kopi yang tadi dipesannya.
Mey pun meminum teh tersebut sambil ngobrol ringan dengan Maia. Sambil sesekali membahas soal fashion atau pun soal berita yang ada di majalah. Tanpa terasa teh dan kopi itu pun habis. Maia dan Meychan mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa.
‘Bunda kok kayaknya tiba-tiba panas ya..gerah..’ kata Meychan.
‘Iya nih apa ACnya mati ya..tapi kok yang laen pada tenang-tenang aja tuh..’ kata Maia sambil melihat ke sekeliling.
Meychan tidak menjawab karena tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, ia merasa ada sesuatu yang lain dari dalam dirinya. Darahnya serasa mengalir lebih kencang, wajahnya pun tiba-tiba memerah semu, dirasakannya selangkangannya pun mulai mengeluarkan cairan tanpa bisa ia kendalikan. Dilihatnya Maia, ternyata Maia pun megalami hal yang sama. Maia mulai tampak tidak tenang dan gelisah, kakinya pun ditutup rapat sambil mulutnya menggigit bibir bawahnya. Karena tidak tahan lagi Maia pun hendak kembali ke kamar.
‘Mey..a-aku ke kamar dulu ya..’ kata Maia sambil merapikan majalahnya kemudian mengambil tasnya dan hendak bergegas menuju ke kamarnya.
Meychan menahan tangan Maia dan berkata, ‘A-aku juga ikut ya bunda..’
‘Kamu tunggu sini aja..aku paling bentar doank..’ kata Maia mencoba menutupi birahi yang melandanya. Memang Maia berniat kembali sendiri ke kamar dan melakukan onani.
‘Please..’ Meychan memohon.

Karena tidak tega dan Maia mengetahui apa yang sedang menimpa dirinya, menimpa Mey juga, maka ia pun mengangguk pelan dan kemudian menggandeng tangan Mey untuk segera naik ke atas. Mereka pun menuju ke lift dengan napas yang sudah memburu. Napas untuk segera disetubuhi. Mereka sudah tidak bisa tahan lagi. Meychan pun mengenggam tangan Maia dengan erat karena sudah sangat terangsang.
Tinnggg.. beruntung lift itu tidak terlalu lama untuk mereka tunggu. Mereka pun segera masuk dan lift tersebut kebetulan kosong. Maia dan Meychan tidak membuang kesempatan itu. Mereka saling berciuman satu sama lain, berpagutan, dan saling membelit lidah satu sama lain.
‘Mmmmhhhh…hhhhhmmhh..’ hanya itu yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
Tangan Maia pun naik dan meremas dada kanan Meychan. Sementara Meychan membalas dengan meremas bongkahan pantat Maia. Tapi sebelum melangkah lebih jauh lagi Maia sadar bahwa mereka sedang berada di dalam lift.
‘Mey, kita lanjutin nanti ya..uda mau sampe nih..’ kata Maia dengan napas tersengal-sengal.
Meychan pun mengangguk pelan. Tiinnnggg.. lift itu pun sampai. Mereka berjalan dengan cepat sambil bergandengan tangan menuju ke kamarnya. Sapaan dari orang yang ada di lorong itu tidak mereka gubris sama sekali, sehingga membuat beberapa orang heran.
‘Itu duo maia kan?’ tanya seorang bapak pada istrinya.
‘Iya..tapi kok sombong banget ya..tadi mama sapa mereka diem aja..’ kata sang istri.
‘Lagi buru-buru kali ma..udah yuk kita turun aja..’ keluarga tersebut pun berjalan dan berlalu.

Sementara Maia dan Meychan telah sampai di depan kamar mereka…
‘Ayo cepet Mey..buka pintunya..’ Maia mencoba memburu-buru Meychan.
‘Sabar donk bunda..tadi aku taro di dalem tas kok..aduhh mana ya..’ Meychan berusaha mengaduk-aduk tasnya sambil mencari kartu untuk membuka pintu tersebut.
Jeggrekk.. Maia dan Meychan sungguh kaget melihat pintu itu terbuka dengan sendirinya dari dalam. Sesosok pria tua ada di balik pintu itu dan dengan senyumnya yang licik ia mempersilahkan masuk.
‘Ahh..rupanya kalian sudah datang.. ayo silahkan masuk..’ kata pak Kuncoro.
Tapi keduanya hanya bisa terdiam dan bengong. Mereka bingung kenapa bisa ada orang di dalam kamar mereka dan apa yang telah tua bangka ini lakukan selama mereka pergi.
‘Loh kok semuanya diem? Bingung? Sudah ga usah bingung..masuk..’ pak Kuncoro pun bergaya seolah mempersilahkan mereka masuk.
Mereka pun masuk ke dalam karena tidak mungkin juga melampiaskan birahi di luar.
‘Kok..kok..bapak bisa disini?’ tanya Meychan.
Pak Kuncoro menutup pintu itu kemudian berjalan menuju ke arah kursi kecil di samping ranjang.
‘Nama saya Bapak Kuncoro…Saya disini hanya sebagai sutradara kok..silahkan kalian melakukan apa yang perlu kalian lakukan..’ pak Kuncoro berkata demikian sambil meminum tehnya yang diletakkan di meja kecil di sampingnya.
Kedua wanita itu bingung harus melakukan apa. Di satu sisi mereka malu bergumul di depan orang yang tidak dikenal tapi di sisi lain mereka sudah sangat tidak sabar lagi untuk disetubuhi.


meychan, meychan duo maia, bugil, foto bugil, foto erotis, erotis, foto meychan bugil, cewek oriental, telanjang, telanjang bulat, foto meychan asli bugil, foto, foto bugil seleb, duo maia

‘Gimana nih bunda?’ tanya Meychan dengan napas yang mulai tidak terkendali.
‘Biarin aja lah Mey..toh kita ga kenal sama dia.. biarin aja.. lagian aku uda ga tahan lagi..’ selesai berkata demikian Maia kembali melumat bibir Meychan yang tipis itu.
‘Mmmhhh..mmmhhh…’ Meychan pun membalas dengan memasukkan lidah ke dalam mulut Maia.
Pak Kuncoro pun tersenyum penuh kemenangan melihat adegan tersebut. Ia pun megeluarkan HP dan merekam kejadian itu, ya itung-itung buat jaga-jaga aja seandainya mereka mau berbuat yang aneh-aneh. Meychan mendorong tubuh Maia hingga Maia terlentang di tempat tidur yang ada di kamar tersebut namun kakinya masih menjuntai ke lantai. Tanpa berlama-lama lagi Meychan pun hendak membuka tank topnya.
‘Eit eit eit..no..no..no…’ tiba-tiba pak Kuncoro menghentikannya. ‘Meychan kamu buka bajunya Maia dan Maia kamu buka bajunya Meychan..semuanya..cepet..samp ai bugil…hehehe..’ setelah berkata demikian pak Kuncoro kembali mengarahkan HPnya.
Meychan pun menurut dan kemudian membuka baju Maia, sehingga tampak lah gunung kembar yang ditahan oleh bra warna putih. Tidak berlama lama segera dibuka sepatu hak dan diturunkan jeans yang dikenakan Maia beserta celana dalamnya. Sehingga tampaklah vaginanya yang berbulu lebat itu.
‘Sini Mey..gantian…’ kata Maia.
Dibukanya tank top pink tersebut, pak Kuncoro yang melihat adegan tersebut menelan ludah karena melihat keseksian dua wanita itu. Apalagi Meychan mengenakan bra biru muda tanpa tali. Maia pun membuka rok yang dikenakan Meychan sehingga tampaklah celana dalam dengan warna yang sama. Maia pun melepaskan celana dalam itu dan tampaklah vagina Meychan yang ditumbuhi oleh bulu-bulu tipis saja. Meychan melepaskan BHnya sendiri begitu pula dengan Maia. Sehingga di kamar itu hanya ada 2 wanita cantik tanpa sehelai benang pun dan seorang lelaki tua.

Setelah itu, Mey duduk di sebelah kiri Maia dan mereka akhirnya kembali berciuman satu sama lain. Kali ini Maia semakin agresif dan tangan kanannya langsung meremas dada kanan dari Meychan. Diperlakukan demikian, Meychan tidak pasif, tetapi tangan kirinya meremas payudara Maia kiri kanan secara bergantian.
‘Mmmhhh..mmmhhh..’ air liur mereka mulai keluar karena ciuman mereka yang sangat bernafsu.
Ciuman Meychan mulai berpindah ke leher Maia. Dijilatinya dan dihisapnya leher ibu 3 anak tersebut. Wangi dari parfum Maia membuat Meychan semakin bernafsu saja. Tangannya pun diturunkan dari payudara meuju selangkangan Maia.
‘Aaaahhh..’ Maia melenguh saat dirasakannya 2 jari temannya itu memasuki vaginanya.
Meychan menggerakkan jarinya mundur maju dengan cepat. Dirasakannya vagina Maia yang memang sudah becek dari tadi.
‘Bunda, aku mau nyusu ya?’ tanya Meychan manja.
Maia hanya bisa mengangguk. Dirasakannya lidah Mey bermain main di putingnya yang berwarna coklat kemerahan. Gerakan lidahnya memutar, melingkari, dan menyentil ujung putingnya sehingga membuat benda itu mengeras. Setelah puas dengan yang kanan, Mey pun berpindah ke kiri. Maia pun hanya bisa menahan kepala Mey agar tidak berhenti menyusu. Jari-jari dari Mey pun semakin cepat saja keluar masuk sehingga tubuh Maia mulai bergoncang-goncang keenakan. Pak Kuncoro yang melihat adegan itu, sudah tidak tahan lagi. Ia membuka kemeja dan celananya sendiri. Kemudian ia pun berdiri di depan Maia. Maia pun mengerti keinginan dari orang tua tersebut. Digenggamnya penis hitam dengan kepala disunat itu, ukurannya lumayan panjang. Dijilatnya dan kemudian dimasukkan benda tersebut ke mulutnya.

‘Uhhh..’ pak Kuncoro merasakan kenikmatan mulut artis tersebut.
Pak Kuncoro menggerakan pinggulnya seperti menyetubuhi mulut Maia. Untungnya ibu yang satu ini sudah berpengalaman sehingga bisa mengimbangi perlakuan dari pak Kuncoro.
‘Mmmmhhh..mmhhh..mmhhhh..’ Maia merasakan nikmat yang melanda dirinya. Payudara kirinya sedang diserang oleh Meychan, sementara yang kanan diremas oleh pak Kuncoro. Vaginanya sendiri sedang ditusuk oleh 2 jari Meychan, jari-jari itu keluar masuk semakin lama semakin cepat. Bahkan terkadang Mey menggerakan jari-jarinya di dalam sehingga menimbulkan sensasi tersendiri buat Maia.
‘Mmmmmhhhhhhhh…’ satu erangan panjang menandakan orgasme Maia telah datang.
Mey mengeluarkan jarinya yang belepotan dengan cairan tersebut kemudian menjilati dan mengulumnya jarinya sendiri sampai bersih. Pak Kuncoro mengeluarkan penisnya dari mulut Maia dan memberinya kesempatan untuk beristirahat. Maia pun rebahan di tempat tidur itu sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
‘Mey..lanjutin nih..’ kata pak Kuncoro sambil menunjuk kemaluannya itu.
Meychan menjulurkan lidahnya dan menjilati kepala penis tersebut, memutar, dan terus sampai ke buah zakarnya. Dijilati buah itu, bahkan dikulumnya. Dikocoknya sebentar dengan tangannya yang halus kemudian dibimbing ke dalam mulutnya.
‘Woogghh..’ pak Kuncoro keenakan dengan perlakuan dari Mey.

Meychan mulai memaju mundurkan kepalanya sambil lidahnya terus menjilat dengan gerakan memutar. Tangan pak Kuncoro tidak tinggal diam, tangan kanannya menahan dan membelai rambut Meychan sementara tangan kirinya bergerilya di payudara perempuan tersebut. Dipilin dan dicubitnya putting Meychan yang pink kecoklatan itu dengan gemasnya.
‘Mmmmhhhhh..’ desahan Meychan tertahan karena penis pak Kuncoro memenuhi mulutnya.
‘Mey..cukup..tiduran sana..’ kata pak Kuncoro sambil melepaskan penisnya karena ia tidak ingin buru-buru menyudahi permainan ini.
Meychan pun tiduran tepat di sebelah kiri Maia. Penis pak Kuncoro terasa mulai membelah bibir vaginanya. Terasa vaginanya sudah sangat basah. Wajar saja karena memang sudah sedari tadi terangsang baik karena obat ditambah karena perlakuan dari pak Kuncoro sendiri.
‘Engghhh..pe-pelan pelan pak..’ kata Meychan. Meskipun sudah tidak perawan tapi vaginanya terasa sangat sempit.
‘Siap ya Mey..’ kata pak Kuncoro. Belum sempat dijawab, pak Kuncoro sudah keburu mendorong pinggulnya sekuat tenaga dan amblas lah penis itu ke dalam vagina Meychan.
‘Aaaaaaahhhhhhhhhhhh…’ Meychan hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibirnya menahan sakit.
‘Sori Mey abis saya udah ga tahan sih..’ kata pak Kuncoro sambil cengegesan.

Setelah Meychan terlihat mulai tenang, pak Kuncoro menggerakan pinggulnya mundur maju secara perlahan. Meychan yang sudah tidak tahan pun ikut menggerakan pinggulnya sendiri berharap pak Kuncoro mau menungganginya dengan lebih cepat. Pak Kuncoro yang paham dengan maksud Mey, memenuhi permintaan wanita itu dengan menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi. Bunyi plokk..plokkk.. terdengar tiap kali dua benda itu bertemu.
‘Ahhh..aaahh..ahhh…’ Meychan mendesah sejadinya.
Disaat mulutnya terbuka tiba-tiba dirasakannya Maia kembali menjulurkan lidahnya ke arah mulut terbukanya. Meychan menanggapi dengan mengulum lidah Maia. Kedua wanita itu saling berpagutan. Remasan pun medarat di kedua payudara Meychan. Di bawah pun pak Kuncoro semakin cepat memacu vagina Mey. Serangan – serangan itu membuat Mey tidak tahan lagi. Namun tiba-tiba di saat sudah hampir mencapai orgasme, pak Kuncoro mencabut penisnya. Meychan menjadi heran.
‘Pa-pak..please masukin lagi..’ kata Meychan sambil melepaskan cumbuan Maia.
Pak Kuncoro malah berjalan menuju ke arah kursi kecil tempat pertama ia duduk. Ia memencet HPnya, tampak ia mengirim sebuah SMS. Di tempat tidur Meychan yang merasa sangat tanggung itu membuka bibir vaginanya dengan kedua jari tangan kanannya sendiri, sementara jari tangan kirinya digunakan untuk menusuk lubang kewanitaannya sendiri. Maia membantu dengan memberi rangsangan pada payudara Meychan. Dihisapnya puting sebelah kanan serta dipilin puting yang sebelah kiri. Terus menerus secara bergantian.
‘Ahhh..ahh..ahhhhhhhhhhhhhh’ Meychan pun mengerang dan cairannya membanjiri selangkangan serta jarinya.
Maia mengambil tangan kiri Mey dan kemudian menjilati jari yang penuh cairan tersebut.
‘Mmmhhh..mmmmhhh..’ Maia mengulum jari Mey sambil mendesah.

Tiba-tiba…Tok tok tok tok.. ada suara orang yang mengetuk pintu…
Maia dan Meychan terkesiap. Mereka langsung memandang ke arah pak Kuncoro yang sedang terkekeh-kekeh.
‘Hehehe… tenang-tenang kalian berdua ga usah panik.. itu pasti temen saya…ayo Maia tolong dibukain pintunya..hehehe..’ Maia pun sudah seperti kerbau dicucuk hidungnya dan menurut saja.
Jeggreekk…pintu pun dibuka..
‘Halo..mbak Maia…wah udah enak nih kayaknya..hehe..’ ternyata yang memulai pembicaraan adalah Herman.
‘Saya Herman..’ receptionist itu menjabat tangan Maia sambil meremas dadanya.
‘Kalau saya Rudi..yang tadi pagi itu loh mbak..’ Rudi meremas pantat Maia.
‘Sa-saya Udin mbak..’ Udin dengan tampang mupengnya seperti serigala hendak memangsa domba.
‘Ayo sini masuk semua..’ kata pak Kuncoro.
‘Wah..wah..wah mbak Meychan juga sudah panas toh rupanya..hehehe.. saya Herman’ Herman tertawa sambil melihat Meychan yang sedang rebahan di atas tempat tidur.
‘Tinggal dipake aja berarti ini Man..o iya saya Rudi’ kata Rudi. Mereka pun tertawa terbahak bahak. Meychan sendiri sudah tidak peduli. Karena pengaruh obat itu masih belum hilang, sehingga ia masih ingin dipuaskan. Begitu pula Maia.
‘Buset..!! Din loe uda mulai aja..bawa masuk dulu sini..’ kata Rudi pada Udin. Udin memang sedang bercumbu dengan Maia sambil bertautan lidah.
‘I-iya mas..maaf mas..’ Udin pun menutup pintu sementara Maia berjalan masuk.

‘Maia kamu kesini.. kalian bertiga silahkan garap yang satu lagi..’ kata pak Kuncoro sambil memerintah.
‘Ok, pak..’ jawab Herman.
‘Nah Maia nih isap lagi sampai keluar ya sekarang…’ perintah pak Kuncoro.
Maia pun berlutut di depan Maia dan memasukan penis itu ke dalama mulutnya. Ia menggerakkan kepalanya naik turun. Pak Kuncoro senyum-senyum sambil membelai rambut Maia yang pendek itu. Rudi dan Udin hanya bisa ternganga melihat kejadian itu.
‘Woi Rud, Din..!!! Kenapa loe berdua jadi bengong? Nih kan ada…’ kata Herman sambil menunjuk Meychan.
Rudi dan Udin pun tersadar dari lamunannya. Mereka bertiga segera membuka pakaian masing-masing hingga tidak tersisa sehelai benang pun. Herman maju terlebih dahulu dan mecium bibir Meychan. Mey menyambut dengan menjulurkan lidahnya, Herman menghisap lidah Mey, hingga akhirnya mereka saling bertukar lidah. Tiba-tiba dirasakannya ada lidah yang membelai vaginanya, ternyata Rudi sudah menempatkan kepalanya disana. Mey pun hanya bisa merapatkan pahanya seolah olah mencegah agar Rudi tidak pergi dari sana. Sapuan lidah Rudi semakin lama semakin dalam sehingga menyentuh klitorisnya. Udin tidak mau ketinggalan, ia berdiri di sebelah Mey, tanpa diperintah Mey segera mengambil penis itu dan mengocoknya. Kehalusan tangan Meychan membuat Udin serasa melayang.
‘Mey isepin donk..’ Herman menyodorkan penisnya itu ke dekat mulut Mey.
Meychan dengan tanggap langsung memasukkan seluruh batang itu ke dalam mulutnya. Ia maju mundurkan kepalanya sendiri sementara Herman hanya bisa mengerang keenakan. Udin pun mulai menggerakan tangannya untuk meremas payudara Meychan. Digenggamnya payudara itu dan terasa sekali kekenyalan dan kehalusannya. Udin meremas dengan kuat sehingga Meychan pun merespon dengan mengocok penis Udin lebih cepat lagi.

‘Oooouuuggghhh…’ tiba-tiba terdengar suara dari pak Kuncoro. Ternyata pak Kuncoro sudah tidak bisa bertahan lagi.
Maia pun menelan sperma dari pak Kuncoro dan membersihkan yang tersisa di penis itu.
‘Enak banget.. Din kamu sama yang ini aja..’ pak Kuncoro memanggil Udin.
‘Ba-baik pak..’ ia pun melepaskan tangannya dari dada Meychan dan wanita itu pun melepaskan tangannya dari penis Udin.
Udin mendekati Maia yang sedang mengambil napas dan beristirahat sambil berdiri ia menopang tubuhnya dengan meletakkan tangan di atas meja. Dirasakannya Udin hendak membelah bibir vaginanya dari belakang. Kepala penis itu mendesak paksa. Udin bertumpu pada kedua dada Maia.
‘Ohhhhh..’ Maia mendesah saat dirasa penis Udin telah sepenuhnya masuk.
‘Memek mbak Maia..enak ya…se-sempit..’ Udin mencoba berkomentar.
‘I-iya bang..ayo bang jangan diem aja..’ Maia menjawab.
Udin pun semakin kesetanan dijawab demikian. Ia pun menyodok dari belakang sekuatnya, secepatnya, dan semampunya. Tangannya terus meremas dada Maia dari belakang.
‘Ah..ah…ah…ah…ah..’ Maia mendesah keenakan.
‘Pelan-pelan aja Din…ssshhh..ntar pinggang loe patah..hahaha..’ kata Herman di tengah-tengah kenikmatannya yang sedang dioral Meychan.
Sementara itu Rudi tengah bersiap memasukkan penisnya ke dalam vagina Meychan. Digeseknya terlebih dahulu secara perlahan di atas vagina itu. Tidak lama kemudian Rudi memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Meychan yang memang sudah tidak sulit lagi karena vagina itu sudah banjir.
‘Wooowww.. manteb banget neh Man… sempit, kayak dipijet gitu rasanya..haha..’ kata Rudi sambil mulai menggerakan pinggulnya.

Herman membelai rambut Meychan yang sudah berantakan itu. Sambil memandang wajah wanita itu, pipinya tampak menggembung karena ada penisnya di dalam sana.
‘Mmmmhh..’ Meychan kaget karena Rudi ternyata membalik tubuhnya menjadi menyamping. Dikaitkan kaki kiri Meychan di bahu kanannya.
Herman mengeluarkan penisnya, penis itu sudah penuh liur. Meychan menjulurkan lidahnya hendak menjilati penis Herman. Herman pun mendekatkan penisnya itu dan dijilati oleh Meychan.
‘Aaahhh…mmmmhhh…ahh..ah…’ Meychan mendesah karena perlakuan Rudi yang menyetubuhinya membentuk menyamping.
‘Gu-gue..mau..ke-keluar nih…ssssssshhhh…’ Meychan merasa pertahanannya jebol karena cara Rudi menyetubuhinya dari samping.
‘Aaaaaaaahhhhhhhhhh..’ Meychan mengalami orgasme kembali.
‘Hehehe… Enak ya Mey?’ tanya Rudi sambil mencabut penisnya sendiri.
Meychan mengangguk. Belum sempat beristirahat, Herman ternyata sudah siap dengan penisnya yang mengacung tegak untuk membobol vagina Meychan. Diposisikannya Mey untuk membelakangi dirinya sehingga Herman bisa melakukan posisi doggy style. Setelah siap, langsung ditusukannya penis itu dari belakang.
‘Aaahhhh…’ Meychan kembali merasakan nikmat karena disetubuhi.
Dilihatnya Maia sedang disetubuhi dalam posisi berdiri oleh Udin. Perbandingan tampak sangat jelas, Udin kulit hitam, muka jelek, badan tidak tinggi, sedang menyetubuhi Maia yang cantik, tinggi, dan putih mulus. Namun Maia justru tampak sangat menikmati perlakuan Udin dimana satu kakinya diangkat oleh Udin, dia sendiri bertumpu pada bahunya Udin. Udin pun menggenjotnya dari depan dengan sangat cepat sambil menyusu.

Meychan sedikit terkejut saat Rudi berlutut di depannya dan minta dioral. Meychan membuka mulutnya selebar mungkin dan membiarkan penis itu masuk. Penis Rudi termasuk yang paling besar diantara yang lain sehingga membuat Meychan kesulitan bernapas saat mengoralnya. Di belakang, Herman tetap menggenjotnya sambil sesekali menepuk pantatnya jika goyangan Mey terasa mulai menurun kecepatannya. Rudi mulai tidak tahan, sambil meremas rambut Mey, ia pun mengerang dan menyemburkan spermanya di mulut Meychan. Creettt…crett…crettt.. Meychan pun semua sperma itu, meskipun sebagian meleleh lewat bibirnya.
‘Bersihin tuh Mey..’ kata Rudi. Meychan pun menjilat sisa sperma di sekitar bibirnya dan di penis Rudi.
Herman di belakangnya juga tidak bisa bertahan dan memuntahkan cairan putihnya di dalam vagina Meychan tapi sebagian mengenai pantatnya saat Herman mencabut penisnya sendiri.
‘Gila..enak banget..’ kata Herman sambil tiduran dan beristirahat. Rudi pun beristirahat di tempat tidur itu.
Udin terlihat masih menggenjot Maia. Sekarang ia merebahkan Maia di lantai sambil meyetubuhinya dari depan. Maia pun melingkarkan kakinya di pinggang Udin supaya tusukan Udin terasa lebih dalam lagi. Herman turun dari tempat tidur dan mengorek kantong plastik yang tadi ia bawa, ternyata Herman mengeluarkan segulungan tali rafia.

‘Rud bantuin gue Rud..’ kata Herman sambil mencoba mengulur tali tersebut.
‘Guntingnya mana?’ tanya Rudi.
‘Nih… segini cukup lah ya?’ tanya Herman sambil membentangkan tali tersebut.
Meychan yang sedang beristirahat tiba-tiba tersentak karena kedua tangannya diangkat ke atas oleh Rudi, sementara Herman dengan cepat langsung mengikat tangan Meychan jadi satu. Lalu ujungnya diikat di sandaran tempat tidur tersebut. Sehingga posisi Meychan membentuk garis horizontal, dalam posisi tersebut Meychan tampak lebih menggairahkan karena tubuhnya yang telah basah dan mengkilat oleh keringat menjadi semakin terekspos dengan jelas. Herman mengambil celana dalam berwarna biru muda yang ada di lantai dan menggunakanya untuk mengelap keringat pada tubuh Meychan.
‘Ke-kenapa gue diiket neh?’ Meychan mencoba bertanya.
‘Sssssstttttt.. uda nikmatin aja..’ kata Rudi.
‘Din, bawa sini..’ kata Herman pada Udin yang masih sibuk menggarap Maia di lantai.
‘I-iya mas..’ Udin tidak berani melawan dan membantu Maia untuk berdiri.
Maia cukup heran juga. Apa sebenarnya mau mereka. Pak Kuncoro tampak tersenyum melihat tingkah teman-temannya itu. Herman memerintahkan Maia untuk tiduran tepat di atas Meychan dalam posisi berhadapan dengan Meychan. Maia pun hanya bisa menuruti. Sehingga sekarang wajahnya berhadapan dengan wajah Meychan dan dadanya bergesekan dengan dada Meychan.
‘Iket tuh tangannya..’ kata Herman pada Rudi. Rudi pun menyatukan tangan Maia menyatukan dan mengikatnya kemudian diikat di sandaran tempat tidur yang sama seperti Meychan.

Pak Kuncoro bangkit dari tempat duduknya mengambil celana dalam yang tadi dikenakan Maia kemudian mengelap keringat dari tubuh dan wajah Maia. Sungguh pemandangan yang sangat membangkitkan birahi, 2 wanita cantik dalam keadaan terikat dan saling berhadapan seperti ‘sandwich’ hanya saja tidak ada ‘daging’ di tengah-tengah mereka.
Pak Kuncoro sudah siap untuk melakukan penyerangan pertama dan kali ini ia punya 2 vagina yang tersedia dan bebas dipilih. Ia lebih memilih untuk menyetubuhi Meychan. Diposisikannya penisnya itu di depan bibir vagina Meychan dan didorongnya hingga tertelan seluruhnya. Maia yang berada di atas Meychan tidak diam saja ia pun berciuman dan berpagutan dengan Meychan. Sementara pak Kuncoro menggenjot Meychan sambil jari telunjuk kanannya ia gunakan untuk mengorek liang vagina Maia. Ketiga pria lainnya hanya bisa menelan ludah menyaksikan kejadian di depan mata mereka. Seorang pria gendut dan tua sedang menyetubuhi 2 wanita cantik sekaligus. Setelah puas dengan vaginanya Meychan, pak Kuncoro memindahkan penisnya ke vagina Maia. Ia pun meremas pantat Maia yang terpampang dengan jelas. Bunyi kecipak kecipuk terdengar memenuhi ruangan tersebut.
‘Uooogghhh..’ pak Kuncoro mendengus karena jepitan dari vagina Maia yang ia rasakan.
Tidak berlama lama ia pun berpindah kembali ke vaginanya Meychan. Kali ini tangannya mulai menjamah payudara wanita tersebut. Karena gerakan maju mundur pak Kuncoro, tubuh Meychan pun bergoncang sehingga menyebabkan gesekan antara dadanya sendiri dengan dada Maia. Pak Kuncoro pun mulai sering berpindah dari Meychan ke Maia dan sebaliknya. Diperlakukan sedemikian rupa Maia dan Meychan tidak tahan lagi dan akhirnya orgasme secara bersamaan.
‘Aaaaaaahhhhh….’ Mereka berteriak secara bersamaan dan menandakan double orgasme.

Cairan kewanitaan Maia yang menetes itu membuat pak Kuncoro semakin bernafsu menggenjot vagina Meychan dan pada akhirnya ia pun menyemburkan spermanya di dalam vagina wanita itu. Jepitan dinding vagina Meychan memang terasa sangat sempit dan lebih nikmat daripada Maia. Pak Kuncoro mengeluarkan penisnya dan kembali beristirahat di kursi kecil tadi tempat ia duduk. Ketiga lelaki yang lain yang sedari tadi sudah menunggu giliran itu pun merangsek maju. Dimulai dari Herman, ia memposisikan penisnya tepat di depan vagina Meychan dan blleesss kembali sebuah penis memenuhi vaginanya tersebut. Rudi berada di sebelah Meychan, ia mendekatkan kepalanya ke arah ketiak Meychan.
‘Rud..tangan gue pegel…aaahh..ssshhh’ kata Meychan mencoba merayu Rudi agar melepaskan ikatan yang mengganggunya itu.
Namun Rudi tidak menggubrisnya dan malah mendaratkan satu jilatan telak pada ketiak kanan Meychan.
‘Ooohhh.’ Meychan kembali melenguh.
Sementara Maia kembali sibuk melayani penis Udin dengan mulutnya. Herman masi sibuk menggenjot vagina Meychan sambil mengusap punggung Maya yang halus. Meychan sendiri memeluk Herman dengan kakinya.
‘Din lepasin si Maia deh..dia jatah loe..’ kata Rudi kepada Udin.
Udin pun tersenyum senyum gembira. Diambilnya gunting yang ada dan kemudian memotong tali yang mengekang tangan Maia. Setelah terlepas Maia mencoba memijat pergelangan tangannya yang terasa pegal. Udin tidak membiarkan hal itu terlalu lama karena ia segera menarik tangan Maia dan direbahkannya di sebelah Meychan. Setelah itu Udin kembali menggenjot Maia tanpa mempedulikan tiga orang di sebelahnya.

Meychan sendiri tidak dilepaskan oleh Rudi dan Herman. Mereka malah berganti posisi, sekarang Rudi sedang menggenjot vagina Meychan sementara Herman menggenjot mulut Meychan, tangannya merambah dada dari Meychan, diremasnya dengan kuat sehingga Meychan meringis kesakitan.
‘Aaaaaaaaaahhhhhh…’ tiba-tiba terdengar jeritan Maia yang menandakan kalau ia kembali orgasme.
‘Wah dia keluar lagi..udah Din loe join sama kita aja sini..’ kata Rudi.
Rudi mencabut penisnya dan mendorong kaki Meychan ke arah payudaranya sendiri. Kakinya dibuat posisi mengangkang namun terangkat sehingga baik vagina maupun lubang anusnya terpampang jelas. Sehingga Meychan sekarang dalam posisi seperti orang ‘dilipat’.
‘Mmmmhhh.’ Penis Herman di mulutnya membuat ia tidak bisa protes.
‘Taliin lagi Din kakinya..’ kata Rudi.
Udin pun memberi satu utas tali untuk masing-masing kaki. Rudi memanfaatkan kesempatan ini untuk menggarap anus dari Meychan. Diludahinya jarinya sendiri kemudian ditusukan ke lubang anusnya Meychan. Mencoba untuk membuka lubang tersebut agar lebih lebar.
‘Eeeeemmmmhhhhhh..’ hanya itu yang keluar dari mulut mungilnya akibat Herman menahan kepalanya agar tetap mengulum penisnya.

Setelah dirasa cukup, Rudi pun mencoba memasukkan kepala penisnya sedikit demi sedikit. Terasa sekali sangat sempit sehingga perlu dilakukan penetrasi yang cukup sulit. Namun setelah beberapa kali percobaan Rudi pun menghentak dan akhirnya berhasil.
‘Mmmmmmmmmmhhhhhhhhh…’ kali ini erangan Meychan diiringi air mata karena sakit.
‘Tenang nanti juga enak kok..’ kata Rudi sambil menggerakan pinggulnya.
‘Arrrgggghhhhh…’ Herman ternyata sudah tidak kuat dan memuncratkan isi senjatanya di dalam mulut Meychan.
Melihat itu Udin pun mendekatkan senjatanya ke mulut Meychan, setelah selesai menelan semua sperma dari Herman, Meychan pun kembali melakukan oral untuk Udin. Maia tampak tertidur karena kelelahan, sementara pak Kuncoro sudah bersiap siap dan berpakaian lengkap.
‘Bayaran kalian semua..sudah saya transfer ya…’ kata pak Kuncoro.
Mereka pun mengangguk angguk.
‘O iya buat kamu Mey, jangan coba-coba lapor ke siapa pun kalau masih mau jadi artis…hehehehee..’ sambil tertawa pak Kuncoro pun berlalu keluar kamar.
‘Oooouuugghhhh’ sempitnya jepitan lubang anus Meychan membuat Rudi keluar disana. Spermanya sebagian meleleh keluar membasahi pantat Meychan. Herman dan Rudi sudah ambruk hingga tersisa Udin. Udin mengeluarkan penisnya dan berpindah ke arah anusnya Meychan. Karena tadi sudah digarap maka tidak terlalu sulit lagi bagi Udin untuk melakukan pencoblosan. Dengan beberapa kali percobaan, sudah tertelan semua penisnya.
‘Aaahhh..ahhh..’ Meychan hanya bisa mendesah. Dirasakan vaginanya pun ditusuk oleh jari Udin.

‘Din..le-lepasin iketannya donk…ssshhh.. nan-nanti gue yang pu-puasin loe deh..’ kata Meychan sambil terbata-bata.
Udin merenungkan sejenak dan kemudian mengambil gunting di dekatnya. Dengan beberapa kali gunting maka Meychan pun terbebas. Ia pun mendorong Udin hingga terlentang, naik ke atasnya dan memasukan penisnya ke dalam vaginanya sendiri. Woman on top adalah posisi yang sangat disukai Udin. Naik turun, Meychan bergerak dengan cepat, berharap cepat selesai. Stamina Udin tampaknya lebih besar dari yang lain. Udin memencet kedua puting Meychan kemudian menariknya hingga badan Meychan jatuh ke depan dan sekarang Udin bisa berpagutan dengan Meychan. Mereka berpagutan dengan begitu liar bahkan terkadang Udin menjilat wajah dan ketiak Meychan. Mereka melakukan sambil Meychan tetap menggoyangkan pinggulnya sendiri.
‘Din..gu-gue ga tahan lagi…ssshhhhh…aaaaaaaaaahhhhhh hhhhhhh’ Meychan pun mengalami orgasme kembali hingga akhirnya ambruk di atas Udin.
Udin pun sudah merasa hendak sampai puncaknya. Dicabutnya penis itu kemudian dia kocok-kocok sendiri dan dimuntahkan lah isinya di perut, dada dan wajah Meychan. Udin lalu memegang tangan Meychan dan membimbingnya untuk meratakan sperma tersebut. Meychan yang sudah mulai hilang kesadarannya meratakan sperma itu pada seluruh tubuhnya dan kemudian tertidur.

############################## #
Pukul 15.00..di kamar hotel…

‘Mey..bangun Mey..’ kata Maia membangunkan Meychan. Maia sudah berpakaian lengkap.
‘Jam berapa nih bunda?’ tanya Meychan yang merasa sekujur tubuhnya pegal apalagi pada bagian anus terasa perih.
‘Jam 3′ kata Maia.
‘Loh bukannya kita mustinya uda check-out ya?’
‘Kata Herman, pak Kuncoro udah perpanjang waktu kita sampe besok siang.’ Maia menjawab.
‘Oh gitu..’ Meychan menjawab sambil merebahkan dirinya kembali.
Maia pun menceritakan cerita keseluruhannya yang ia dapat setelah mengorek informasi dari Udin si tukang bersih-bersih kamar.
‘Ini semua emang kerjaannya si Kuncoro tua bangka itu…’ kata Maia dengan kesal. ‘Dari awal dia yang bikin rencana dan ngejebak kita…’ tambah Maia lagi.
‘Brengsek..kita lapor aja !!!’ Meychan merasa sangat marah karena sudah dijebak.
‘Ga bisa Mey, Kuncoro udah punya rekaman kita..mau reputasi ancur?’ tanya Maia.
Meychan pun diam dan air mata mulai mengalir. Maia sebenarnya masih punya 1 berita buruk lagi.
‘Mmmmm Mey..yang jadi masalah sekarang…gini loh…mmmm’ Maia enggan menyelesaikan kata-katanya karena tidak tega melihat kondisi Meychan.
‘Tapi apa ?’ tanya Meychan penasaran. ‘Aku gapapa kok bunda..’ kata Meychan sambil menyeka air matanya dan mencoba tersenyum karena tahu pasti berita yang disampaikan adalah berita buruk.
‘Kita emang check-outnya diperpanjang sampe besok siang..tapi kata Udin..mereka berempat mau kesini lagi malem ini..’
Meychan pun memasang muka kaget dan seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tapi toh mereka sekarang memang tidak punya pilihan lain lagi selain melayani makhluk-makhluk bejat tersebut.