blog visitors
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Sedarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex Sedarah. Tampilkan semua postingan

Cerita sex Kontol Besar Papaku

Cerita sex Kontol Besar Papaku, Selepas SMA, Fenti, waktu itu 20 tahun, melanjutkan studinya ke Akademi Sekretaris ternama di Bandung. Dengan wajah sangat cantik, tubuh tinggi semampai, dan kemampuan akademis yang cukup baik, pantaslah kalau Fenti memasuki akademi tersebut. Pacar Fenti sejak SMA, Ganjar, tetap setia dan semakin serius dalam menjalin hubungan dengan Fenti.

"Mau kemana lagi, Fen?" tanya Ganjar sambil melirik ke Fenti.
"Pulang, ah.. Aku capek sehabis ujian tadi," jawab Fenti sambil bersandar pada jok mobil, matanya terpejam.

Ganjar sekilas melirik pada paha Fenti yang putih mulus. Rok mini yang dipakai Fenti naik tersingkap dengan posisi duduk Fenti tersebut.

"Fen, kita ke motel dulu, ya..?" ajak Ganjar.
"Yee, kamu horny ya?" kata Fenti melirik Ganjar sambil tersenyum.
"Habisnya aku tidak tahan melihat kamu..." kata Ganjar sambil tersenyum pula.
"Ya sudah, mau dimana?" tanya Fenti sambil tangannya mengelus paha Ganjar yang sedang mengemudi.

Ganjar tak menjawab. Hanya senyuman saja yang tampak di wajahnya sementara mobil diarahkannya menuju sebuah motel..

"Buka dong semua pakaian kamu," kata Ganjar sementara dia sendiri melucuti semua pakaiannya.
"Ih dasar otak horny!" kata Fenty tersenyum sambil melepas seragam kuliahnya.
"Aku cinta kamu.." kata Ganjar sambil memeluk tubuh telanjang Fenti dari belakang.

Satu tangan meremas buah dada Fenty, sementara satu tangan mengelus dan mengusap memeknya.

"Mmhh..." desah Fenty sambil terpejam. Tangan Fenty menggenggam kontol Ganjar yang sudah tegak dan sesekali mengenai belahan pantatnya.
"Mmhh.. Enak sayang..." bisik Ganjar ketika Fenty mengocok kontolnya.

Fenty tersenyum dan langsung membalikkan badannya menghadap Ganjar lalu mengecup bibirnya. Ganjar membalas kecupan bibir Fenty dengan hangat.

"Hisap, dong..." bisik Ganjar di telingan Fenty.

Fenty tersenyum sambil merendahkan badannya dan langsung berjongkok. Wajahnya tepat di depan kontol Ganjar yang sudah berdiri tegak. Lidah Fenty mulai menjilati kepala kontol Ganjar sementara tangannya tetap mengocok batangnya.

"Ohh.. Enak sayang..." bisik Ganjar sambil memompa kontolnya pelan ketika Fenty mulai mengulum batang kontolnya.

Jilatan, hisapan serta kocokan tangan Fenty pada kontolnya membuat Ganjar mengejang menahan nikmat.

"Gantian dong..." kata Fenty sambil bangkit setelah beberapa waktu.

Fenty bersandar ke dinding sambil berdiri. Ganjar jongkok lalu diciumnya bulu kemaluan Fenty. Fenty memejamkan matanya dan melebarkan kakinya ketika lidah ganjar mulai menelusuri belahan memeknya.

"Oww.. Enak banget, sayang," kata Fenty sambil memegang kepala Ganjar dan mendesakan ke memeknya.

Pinggulnya bergerak naik turun ketika lidah Ganjar bermain di lubang memek dan kelentitnya bergantian.

"Ohh.. Sshh..." desis Fenty merasakan kenikmatan yang tak terhingga.

Fenty terpejam dan mendongak sambil mendesakkan kepala Ganjar lebih keras ke memeknya ketika ada sesuatu yang sangat nikmat tiada tara yang mau keluar..

"Ohh.. Ohh.. Ohh..." Fenty menjerit pelan tertahan ketika mencapai puncak orgasmenya.

Terasa ada yang menyembur hangat enak di dalam memeknya.

"Mmhh.. Enak sekali sayang," kata Fenty sambil agak membungkuk lalu mencium bibir Ganjar yang masih basah oleh cairan memeknya.

Ganjar sepertinya sudah tidak tahan lagi. Setelah membalas ciuman Fenty sesaat, segera ditariknya tubuh Fenty ke atas ranjang. Fenty telentang sambil membuka kakinya lebar. Dengan tak sabar Ganjar segera menaiki tubuhnya lalu mengarahkan kontolnya ke memek Fenty. Tangan Fenty segera menggenggam dan membimbing kontol Ganjar ke lubang memeknya. Dengan sekali desakan, kontol Ganjar sudah masuk ke memek Fenty. Kontol Ganjar keluar masuk memek Fenty disertai bunyi khas..

"Mmhh..." Fenty mendesah sambil terpejam sementara pinggulnya bergoyang mengimbangi gerakan Ganjar.
"Enak sekali, sayangghh..." desah Ganjar.

Setelah beberapa waktu dan beberapa posisi bersetubuh mereka lakukan, Ganjar hampir mencapai puncak kenikmatannya. Kontol Ganjar semakin cepat keluar masuk memek Fenty. Ketika puncaknya, Ganjar segera mencabut kontolnya lalu turun dan berdiri di pinggir ranjang. Fenty yang sudah terbiasa, langsung mengerti. Kontol Ganjar yang masih basah oleh cairan memeknya segera dikulum han dihisap kuat sambil dikocok pelan. Ganjar terpejam sambil memegang kepala Fenty dan mendesakkan kontolnya agak dalam ke mulut Fenty. Tak lama, crott! Crott! Crott! Air mani Ganjar tumpah di dalam mulut Fenty yang terus menghisap kontolnya.

"Wohh.. Enak sekali, sayang," ujar Ganjar dengan nafas berat.

Fenty tersenyum sambil menjilati batang dan kepala kontol Ganjar dari sisa air maninya yang masih menempel. Lalu mereka berciuman..

"Cepat pulang ah..." kata Fenty setelah mereka selesai berpakaian dan merapikan diri.
"Ya sayang..." kata Ganjar sambil menggandeng Fenty keluar kamar.

Sesampai di rumah, Ganjar segera pulang setelah berpamitan kepada Papa dan mama Fenty.

"Lama amat sih, Fen?" tanya mamanya.
"Iya, mam.. Tadi kami nyimpang dulu ke tempat makan," kata Fenty ringan sambil segera ke kamarnya untuk ganti pakaian.

Malam harinya, ketika mereka sedang nonton TV, Papa dan Mama Fenty segera bangkit dari tempat duduk karena sudah waktunya jam tidur.

"Kamu jangan terlalu malam begadang, nanti sakit kepala," kata mamanya kepada Fenty.
"Iya, Mam.. Tanggung nih film sedang seru-serunya," kata Fenty sambil matanya terus melihat TV.

Lalu mereka segera masuk kamar. Setelah beberapa menit, telinga Fenty menangkap suara ranjang berderit berulang-ulang. Sebetulnya Fenty sudah mengerti apa yang sedang terjadi di kamar orang tuanya. Fenty bersikap cuek saja awalnya. Tapi rasa penasaran dihatinya membuat Fenty ingin mengintip mereka. Segera fenty bangkit lalu mengendap mengintip dari lubang kunci. Walaupun tidak terlalu jelas tapi Fenty dapat melihat Papa Mamanya sedang bersetubuh.

Darah Fenty berdesir karenanya. Ketika mata Fenty melihat buah zakar dan kontol papanya yang keluar masuk memek Mamanya, darahnya makin berdesir. Matanya lebih jelas lagi melihat kontol papanya ketika mereka telah selesai bersetubuh, papanya bangkit dan mengelap kontolnya yang basah. Tampak jelas di mata Fenty betapa kontol papanya lebih besar dari kontol Ganjar. Fenty segera berdiri, mematikan TV lalu segera bergegas masuk kamarnya. Di atas ranjang, Fenty tidak bisa memejamkan matanya. Terbayang terus persetubuhan Papa Mamanya tadi, terlebih ketika terbayang kontol Papanya yang besar.. Perasaan Fenty jadi gelisah.

Sejak saat itu Fenty secara sadar arau tidak selalu memperhatikan gerak gerik Papanya. Apalagi bila Papanya hanya memakai kolor saja. Mata Fenty selalu mencuri pandang ke paha dan selangkangan Papanya. Papa Fenty waktu itu berumur 43 tahun. Badannya bersih dan tegap.

Suatu malam..

"Pijitin pundak Papa, Fen.. Pegal amat," kata Papa Fenty waktu mereka nonton TV.
"Kalau begitu Papa duduk di bawah biar Fenty gampang mijitnya," kata Fenty.

Papanya segera turun dari kursi lalu duduk di lantai. Fenty segera memijit pundak Papanya sambil nonton TV.

"Mama ngantuk ah.. Mau tidur duluan, Pa..." kata Mamanya sambil bangkit dan menuju kamarnya.
"Fenty sayang Papa," bisik Fenty sambil merangkulkan tangannya ke leher Papanya.
"Nah, biasanya suka ada maunya kalau kamu sudah begini," kata Papanya sambil tersenyum dan menoleh ke Fenty.
"Mm.. Fenty tidak minta apa-apa kok, Pa..." bisik Fenty lagi manja.
"Fenty hanya mau bilang kalau Fenty sayang Papa," kata Fenty sambil mencium pipi Papanya.

Papanya diam sambil tersenyum sambil tanganya memegang tangan Fenty yang sedang memeluk dirinya dari belakang.

"Tumben kamu manja begini," kata Papanya sambil menoleh dan menatap Fenty lama.

Fenty tersenyum lalu mencium pipi Papanya lagi berkali-kali. Darah Fenty mulai berdesir.

"Ada apa sih, Fen?" kata Papanya lagi sambil tersenyum.

Ucapan Papanya tidak bisa terus ketika bibir mungil Fenty mengecup bibirnya.

"Fenty sangat sayang Papa," bisik Fenty lirih sambil bibirnya melumat hangat bibir Papanya.

Papa Fenty pada awalnya kaget atas tindakan putrinya ini, tapi lama kelamaan sentuhan hangat bibir Fenty bisa menghangatkan perasaan dan gairahnya. Dibalasnya ciuman Fenty dengan hangat pula.

"Mm..." suara Fenty terdengar pelan.

Papa Fenty bangkit lalu duduk berhadapan dengan Fenty. Kembali dilumat bibir Fenty dengan agak panas. Fentypun membalasnya dengan agak panas pula. Tangan Fenty bergerak ke arah selangkangan Papanya. Sambil tetap berciuman diremasnya pelan kontol Papanya. Terasa kontol Papanya mulai bergerak tegak dan tegang..

"Fenty sayang Papa," kembali Fenty berbisik.
"Papa juga sama..." kata Papanya dengan nafas memburu.
"Jangan disini, Pa.. Nanti Mama tahu," kata Fenty sambil bangkit dan menarik tangan Papanya ke kamar belakang.

Papanya menurut mengikuti Fenty. Fenty langsung memeluk dan melumat bibir Papanya dengan liar, Papanyapun membalasnya semakin panas. Tangan Fenty mulai berani disusupkan dan masuk ke celana kolor Papanya, lalu tanpa ragu menggenggam dan meremasnya pelan.

"Mmhh..." suara Papanya tertahan karena masih berciuman.

Fenty kemudian melepaskan pelukannya lalu merendahkan tubuhnya hingga jongkok. Diperosotkan celana kolor Papanya sampai lutut hingga kontol besarnya yang tegak tampak di depan wajahnya. Fenty mengocok pelan kontol Papanya lalu segera mengulumnya. Papanya terpejam sambil memegang kepala Fenty.

"Ohh..." desah Papanya.

Dimaju mundurkan kontolnya di dalam mulut Fenty. Setelah beberapa lama, tubuh Papanya bergetar lalu... Crott! Crott! Crott! Air mani Papanya muncrat di dalam mulut Fenty. Fenty dengan tenang menelannya habis. Fenty lalu berdiri sambil tersenyum.

"Fenty pengen, Pa.." pinta Fenty berbisik.
"Tidak bisa sekarang sayang," kata Papanya sambil membetulkan celananya.
"Kapan, Pa?" kata Fenty sambil memeluk dan mengecup bibir Papanya.
"Kamu pulang kuliah jam berapa?" tanya Papanya.
"Jam 11, Pa..."
"Kalau begitu Papa jemput kamu di kampus jam 12 untuk makan siang, lalu kita cari tempat..." kata Papanya sambil tersenyum.
"Iya, Pa..." kata Fenty sambil tersenyum pula.
"Kasih tahu pacar kamu untuk tidak jemput, ya?" kata Papanya. Fenty mengangguk.
"Sekarang tidurlah," kata Papanya sambil mencium bibir Fenty mesra.

Besok harinya sesuai dengan rencana, Fenty dijemput di kampus.

"Mau makan siang dimana?" tanya Papanya.
"Tidak usah makan siang, Pa..." kata Fenty manja.
"Langsung saja..." kata Fenty tersenyum.

Papa Fentypun tersenyum. Mobil langsung di arahkan ke hotel. Di dalam kamar, mereka langsung berciuman. Fenty menatap mata Papanya lalu melepas kancing kemeja Papanya satu demi satu.

"Biar Papa buka sendiri biar cepat. Waktu kita sedikit sayang. Papa harus segera ke kantor lagi," kata Papanya sambil tersenyum lalau melepas semua pakaiannya.

Fenty juga sama. Tubuh Fenty telentang di atas ranjang. Papanya segera duduk di pinggir ranjang. Tangannya mulai mengelus dan meremas buah dada Fenty. Fenty terpejam menikmati belaian Papanya itu. Sementara tangannya dengan segera meraih kontol Papanya yang sudah tegang besar. Diremas dan dikocoknya pelan. Tangan Papanya mulai turun ke memek Fenty. Diusap dan di gosoknya memek Fenty dengan mesra. Lalu salah satu jarinya mulai memainkan kelentit dan lubang memeknya bergantian. Fenty terpejam sambil menggigit bibir sementara tangannya tak henti mengocok kontol Papanya.

"Cepat masukkan, Pa..." pinta Fenty.

Papanya tersenyum lalu bangkit dan segera menaiki tubuh anaknya. Disentuhkan kontolnya ke memek ke belahan memek Fenty. Fenty menatap mata Papanya sambil tangannya segera meraih kontol dan mengarahkan ke lubang memeknya. Dengan sedikit desakan, kontol Papanya perlahan masuk ke memek Fenty. Fenty terpejam merasakan rasa nikmat dari orang yang sangat disayanginya. Tak terasa air matanya mengalir di pipi.

"Ada apa sayang?" tanya Papanya sambil terus memompa kontolnya.
"Fenty sangat bahagia bisa bersama Papa saat ini," kata Fenty sambil memeluk erat Papanya.
"Fenty sangat sayang Papa," bisik Fenty.
"Papa juga sangat sayang kamu," kata Papanya.

Fenty tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggul Papanya. Kenikamatan dan sensasi yang sangat luar biasa dirasakan oleh Fenty saat itu. Siang itu Fenty dan Papanya dengan liar bersetubuh bermandi peluh dan desahan serta jeritan kenikmatan. Sampai akhirnya terasa kontol Papanya berdenyut tanda akan mencapai orgasme. Dicabutnya kontol dari memek Fenty lalu digesek-gesekan ke belahan memeknya. Tapi Fenty dengan segera bangkit dan langsung menghisap serta mengocok kontol Papanya sampai akhirnya.. Crott! Crott! Air mani Papanya menyembur banyak di dalam mulut Fenty. Fenty menelannya dengan tenang lalu tersenyum. Papanya lalu mencium bibir Fenty.

"Kamu hebat sayang..." bisik Papanya.
"Lebih hebat dari Mama kamu," kata Papanya lagi.
"Fenty sayang Papa..." bisik Fenty sambil tersenyum.

Mereka berpelukan..

Sesuai dengan penuturan Fenty, sejak saat itu hampir tiap hari Fenty dan Papanya bersetubuh pada jam istirahat siang. Sesekali mereka bersetubuh di hotel bila ada waktu. Juga dengan Ganjarpun, Fenty tetap melayaninya setiap ada kesempatan.

Sekarang Fenty sudah menikah dengan Ganjar, dikaruniai anak 2. Masih tinggal di Bandung. Ketika masih mempunyai anak 1, Fenty masih berhubungan badan dengan Papanya. Tapi setelah punya anak 2 sekarang ini, aktifitas itu berhenti karena usia Papanya yang sudah uzur. Fenty sangat menyayangi Papanya.

Abang Tolong Cepat Masukin Penis Besarnya

 
Ternoda - Cerita Seks Dewasa
Satu hari aku jajan di satu mal sama sodara sepupuku, orangnya si cantik, chubby dan tonjolan dibadannya lebi nampak nyata dari yang ada di badanku. Hari itu kami berdua hanya pake tenk top ketat dan aku berhins ketat sedang dia pake jins 3/4 yang juga ketat, sehingga banyak cowok2 menyusuri bodi sodara sepupuku dari rambut ampe ke kaki. Dia si seneng banget jadi pusat perhatian banyak lelaki yang makan di foodcourt mall. Deket mejaku ada seorang lelaki, yang pasti bukan abege dan belon om2, kutaksir umurnya 30an, ganteng, kumisan dan atletis badannya, tipeku bangetz. Sodaraku berbisik, "Nez tu ada cowok keren banget". "Mana", tanyaku. "Seblah kanan rada kedepan, dia lagi ngliatin kita". Aku menatap kearah yang ditunjukkan Santi, sodaraku itu. Si abang, sebut ja demikian, juga lagi menatap kearah kami, tatapanku amprokan dengan tatapan matanya, dia ngangguk, akupun ngangguk dan senyum. "Ganteng banget San". "Iya, aku suka banget ngeliat dia", Santipun menatap wajah si abang dan senyum, dibales senyum juga. Waktu Santi ke toliet, si abang nyamperin mejaku dan kenalan, dia nanya siapa yang bareng aku, aku bilang Santi, dia minta nomer hape Santi, wah rupanya matanya dah kelilipan bodinya Santi. aku kasi ja no hapeku, dan dia pamit duluan karena dah beres makannya. Ketika Santi balik dia kecewa karena si abang dah pergi. Aku bilang, "Di mal kan banyak lelaki ganteng yang bakalan kelilipan bodi kamu kan, satu pergi dateng seribu". "Bisa ja kamu Nez". Peristiwa itu berlalu begitu aja.
Sampe satu waktu d hapeku ada message, "San, ini aku yang ketemu di mal waktu itu, yang di foodcourt itu". "Wah dari si abang rupanya". "Wah abang, pa kabar, Santi tunggu2 kok gak da kabarnya, baru skarang ada kabar, sibuk banget ya bang". Aku nyaru jadi Santi aja. "Ketemuan lagi yuk San, berdua aja". "Dimana bang". "Di mal, di foodcourt ja, sore jam ... (dia menyebutkan waktunya), bisa kan". "Bisa bang". "aku pake (dia nyebutkan warna pakeannya)". Sampe di foodcourt, dia belon dateng, aku duduk di meja yang strategis yang pandangannya bisa kemana2, tak lama datenglah lelaki dengan pakean yang disebutkan tadi. aku bangun dan menyambutnya. "Santinya mana", tampak da kekecewaan diwajahnya, kok aku yang nongol. "Santi dadakan sakit perut bang, diare kayanya, makanya dia nyuru aku nemuin abang, takut abang kecewa". "O gitu ya, gak apa deh, kamu bisa nemenin aku". "Kalo gak bisa, Inez ya gak kemari lah bang". "Kita makan dulu yuk". "ayuk", jawabku. kita brosing makanan, pesen kesukaan masing2, ketika aku mo bayar makananku, si abang yang bayarin duluan. Ternoda

“Lama juga ya cap cay-nya. Hhh!” keluhnya karena pesanannya gak dateng2 sedang pesananku udah. “Sabar saja bang, maklum malming gini pengunjungnya banyak”. Tidak berapa lama pesanannya datang. Dia menambahkan lada putih ke dalam capcaynya. Setelah itu dia masih minta cabe rawit beberapa butir pada pelayan. aku tersenyum kecil. “Biasanya orang yang kuat makan pedas nafsunya gede,” komentarku. dia hampir tersedak mendengar candaanku. Namun kemudian dia menguasai diri, dia minum air putih dan menjawab, “Kalau ada sambal atau cabe memang nafsu makan jadi kuat”. aku tertawa tertahan. Dia tersenyum sambil memandang deretan gigiku yang rapi dan gingsulku kelihatan. Dia membalas godaanku tadi,”Orang yang giginya gingsul kudengar juga gede nafsunya”. Gingsul itu gigi tarning yang letaknya lebi kedepan dari deretan gigi laennya, kaya bintang sinetron Chelsi olivia gitulah, ato bintang jepang banyakan juga gingsul. Aku gak mo kalah, "Kalo gitu abang pasti cewek dan ttm nya banyak". "Napa gitu". "Kan napsu makan dan napsu laennya gede". Dia tertawa. "sama dong, kamu pasti gak pena puas cuma ma 1 lelaki kan". Guyonan vulgar gitu mencairkan suasana, kami jadi lebi akrab, gak nampak kekecewaan diwajahnya karena yang dateng bukan santi. "Kok skarang malming Inez gak ma cowoknya, malah becanda ma aku". "Kan demi abang biar abang gak kecewa". "Gak tersalurkan ma cowoknya dong malem ini". "Panya yang disalurkan bang, sembako?" "he he, kura2 dalam perahu". "Mana ada kura2 disimpen di perahu bang", aku belaga pilon ja. "kan gingsul". "kok?" "iya kan kalo prempuan gingsul napsunya gede, trus malming gak ketemu cowoknya, jadi gak tersalurkan dong napsunya". "Kan ada abang", sengaja aku to the point ja menyatakan kalo aku suka ma dia, "cocok kan penggemar cabe ketemu ma gigi gingsul, sama2 napsu gede". tertawanya berderai. "Bisa aja kamu, mangnya kamu mau ma aku". "Bangetz, sejak pertama kali ketemu Inez dah suka liat abang, tipe inez bangetz". "Masak si". "iya, Inez tu seukanya lelaki dewasa kaya abang, macho". Aku makin to the point aja, "Palagi kalo napsunya gede, he he". Dia tertawa juga. "abang suka gak ma prempuan kaya Inez", aku uber dia terus. "Suka juga, kamu cantik, proporsional lagi bodinya". "Tapi kan gak semok kaya Santi bang". "iya Santi napsuin, kamu juga kok, imut tapi napsuin juga". Wah dia dah to the point juga. "Mau dong abang gantiin cowok Inez". "Hm gimana ya, gak enak lah nyrobot cewek orang laen". "Gak apa kok bang, cowok Inez juga klayapan tau kemana, makanya bisa ktemuan ma abang, semua ada hikmahnya". "Tadi bilangnya demi aku". "iya demi abang dan demikian", candaku. Dia tertawa lagi. "Kamu asik juga ya Nez orangnya". "asik apanya bang". "Ya asik diajak bertemen, gak tau asik gak diajak bercinta". "Wah, gawat". "Kok gawat si". "abang to the point jadi pengen neh Inez, hayo abang tanggung jawab lo". "Pengen paan". "pengen nonton", aku tertawa. "Yuk kita nonton, kamu beneran kan gak da cowoknya malem ini". aku menggangguk.

Dia menggandengku menuju ke cinema yang ada di mal, kami milih filmnya, "inez ikut abang ja deh nonton yang mana". Dia milih film percintaan. "biar jadi mood bercinta ya Nez". "abang mo bercinta ma Inez ya". "Kalo kamu mau". "Mau bang". Kami masuk ke gedung, bole milih tempat duduk bebas, dia milih yang agak disudut seblah atas, ternyata setelah filmnya maen, yang nonton gak banyak, jadi kami terpisah dari pnonton yang laen. "Inez sering ya bercinta ma cowoknya". Aku cuma ngangguk. "Dimana maennya". "ditempat kok Inez, kadan dirumah dia kalo sepi, kadang di motel kalo pengen all nite". "Mangnya kalo allnite maennya brapa kali". "Kalo dah lama gak maen, dia bisa 4 kali bang". "wah lemes dong". "bangetz bang, tapi nikmatnya juga bangetz. abang kuat brapa kali maennya bang". "ya segitu itu". "Wah asik dong, bisa abis2an tu maennya ampe lemes". Dia memeluk pundaku, mukaku diarahkan kemukanya dan dengan lembut dia mencium bibirku. Lidahnya segera menerobos mulutku dan membelit lidahku. Sementara lidah kami saling bergelut, tangannya milai mengelus2 toketku. "Kecil ya bang", kataku setelah bibirnya melepas bibirku, dia meremes toketku sambil mencium telingaku, sampe aku menggelinjang. "Segini mah gak kecil, proporsioanl, jadi gemes ni". "Kalo gemes ya ditemes2 trus ja bang". "Kamu enak ya diremes gini". "Suka ja bang". Dia mencium bibirku lagi. Dia memegang tanganku dan meletakkannya diselangkangannya. terasa ada sesuatu yang keras banget dibalik clananya. "Bang ngacengnya keras banget, cabenya dah kerja ya". Dia gak menjawab malah meremas2 toketku lagi. aku elus2 tonjolan keras diselangkangannya. "diremes dong Nez". Aku meremes sebisanya, terasa besar tonjolan itu. "Abang punya besar ya". "besaran mana ma punya cowok kamu". "besaran abang punya deh". "Mo ngrasain?" "Bangetz bang". Dia mengelus selangkanganku, aku mengangkangkan pahaku, gak bisa lebar2 karena terhalang kursi, aku duduk rada selonjor, biar pahaku bisa lebi lebar ngangkangnya. Memekku jadi gatel dielus kasar dari luar clanaku gitu. "dah basah ya Nez". Aku ngangguk, "Inez dah pengen bang". "Bener kan prempuan gingsul napsunya gede". "Abang..." lenguhku manja sambil merems tonjolan di slangakngannya dengan keras. Gak lama kemudian film usai, lampu menyala. Segera kami memisahkan diri, bangkit dari tempat duduk dan kluar beriringan dengan penonton laen.
“aku anterin pulang ya, ujan lagi". Saat itu ujan deres. "Kamu tinggal dimana". "Di kos bang". "Gak bebas dong". "bebas kok, Inez tinggal sendiri". "Mahal tu". "Kan dibayarin cowok Inez bang". Kami berlari-lari di pelataran parkir menuju ke mobilnya. Dia membuka pintu depan sebelah kiri setelah mematikan alarm mobilnya, aku masuk dan diapun segera masuk, baju kami basah karena hujan yang deres gitu. "Dingin ya Nez, gak usah pasang Ac deh ya". "ya bang". "Ntar pilek lagi". Tempat kos ku kebetluan gak jauh dari mal, sehingga kami gak lama di mobilnya. Mobilnya parkir persis didepan kamar kosku, segera aku membuka pintu mobil dan berlari menembus ujan ke depan kamarku, diapun menyusul. "Basah semuanya bang, ntar dikeringin deh pake hair dryer". "Kamar kamu gede banget Nez, ada ruang tamunya lagi". Memang kamar kosku lumayan gede, furnitur lengkap, pake Ac lagi, bayarannya juga lumayan mahal, gak peduli aku toh cowokku yang bayarin semuanya. Ada ruang tamu merangkap ruang makan dan pantri, dan kamar tidur + kamar mandinya. Aku segera mengambil handuk dan hair dryer untu si abang, aku pun masuk ke kamar mandi, melepaskan semua yang menempel dibadanku dan menggantinya dengan kaus dan celana pendek longgar. aku melap rambutku yang basah dan kukeringkan dengan hiar dryer satu lagi biar gak pusing.
Aku keluar dari kamar sambil membawa kaosku yang paling gede ukurannya, dia duduk di sofa sambil melap rambutnya yang basah, "Kok gak di hairdryer bang". "Gak usah, pake anduk ja cukup kok". "Bajunya basah semuanya tu bang. Ganti ma kaos Inez ja ya, iar gak masuk angin, gak tau cukup gak. Kalo celena pendek gak da yang ukuran abang". Dia melepas bajunya didepanku, aku suka banget melihat dadana yang bidang, samar keliatan muali terbentuk sixpack diperutnya. "Wah abang sering fitness ya, ada sixpacknya gitu, sexy banget deh bang". Baeknya bajuku muat walaupun rada ketat untuknya. "celananya basah bang, dilepas ja, pake daleman kan". Dia senyum dan beneran melepas celananya. Tampak tonjolan besar di selangkangannya yang sekarang cuma tertutup cd. Dia memperhatikan toketku yang tetap terlihat membusung di balik kaus longgarku. “Minumannya sebentar lagi ya. Airnya lagi dimasak. Termosnya pas kosong. Mau minum apa bang?” Dia terkejut, kelamaan memperhatikan toketku. “Ahh.. E.. E. Eeh. Susu.. Eh.. Teh susu,” sambil tergagap kata-katanya keluar begitu saja. Namun disaat terakhir dia masih tetap bisa menguasai dirinya. “Teh saja atau kopi. Susunya habis. Sorry,” aku tersenyum melihatnya terbata-bata kemudian menuju ke pantri menyiapkan segelas teh panas. Aku duduk di depannya. Dia menyeruput tehnya yang masi panas. "Manis gak bang". "manis, kaya yang buat". Aku mencibirkan bibirku. “Jadi gak kita mau adu kekuatan cabe dengan gingsul?” tanyanya dengan bergurau.

Aku segera pindah kesebelahnya di sofa dan merapatkan kepalaku di dadanya. Diciumnya pipiku dan aku mulai membuka kancing bajunya. “Di kamar Inez aja yuk bang”. "Dah gak nahan ya gingsulnya". Aku memejamkan mata. bibirnya kembali memagut bibirku yang merekah. Lidahnya menerobos lagi ke mulutku dan menggelitik lidahku. Aku menggeliat dan membalas ciumannya dengan meliukkan lidahku yang langsung dihisapnya. Tangannya mulai menari di atas dadaku. Diremasnya toketku yang sudah mengeras. Jarinya terus menjalar mulai dari dada, perut terus ke bawah hingga pangkal pahanya, masi dari luar pakeanku. Aku makin menggeliat kegelian. Lidahnya sudah beraksi di lubang
telingaku dan giginya menggigit daun telingaku. Pelukan dilepas dan dia bergerak berputar ke belakangku. Tangannya mendekap dadaku. Rambutku diciumnya. Mulutnya menggigit tengkukku. Badanku mulai menghangat. Bibir dan hidungnya makin lancar menyelusuri kepala dan leherku. Aku makin menggelinjang apalagi waktu tangannya meremas toketku yang masih tertutup baju kaus itu dari belakang. Diletakkannya mukanya dibahuku dan disapukan napasnya di telingaku. Aku menjerit kecil menahan geli tapi malah menikmati.

Aku dipeluknya dari belakang, kami berdiri sambil pelukan dan berjalan beriringan ke arah kamarku. Tanganku ke belakang dan meremas isi cdnya yang mulai memberontak. Setelah masuk ke dalam kamar dilepaskannya pelukannya. Aku mematikan lampu besar dan mengantinya dengan lampu tidur. ranjang yang besar telah menanti kami. Dia merendahkan badan dan mulai mencium dan menggigit pinggulku. Aku mendongakkan kepala dan berdesis lirih. Dia dibelakangku berlutut dengan meneruskan aksi tangannya ke betisku, sementara bibirnya masih bergerilya di lipatan lutut belakangku. Aku merentangkan kedua kakiku dan bergetar meliuk-liuk. Diciumnya pahaku dan diberikan gigitan kecil. Aku makin meliukkan badannya, napasku mulai memburu. Pada saat aku sedang menggeliat, dihentikannya ciumannya di lututku dan dia berdiri di hadapanku. Diusapnya pantat dan pinggulku. Kembali aku berdesis pelan. Dengan cepat langsung disapukannya bibirnya ke leherku dan ditarik pelan-pelan ke bawah sambil menciumi dan menjilati leher mulusku. Aku semakin merepatkan tubuhku ke dadanya. Dengan sebuah tarikan pelan aku melepas kaosnya. Kuusap-usapnya dadanya dan kemudian pentilnya kumainkan dengan jari. Diciumnya bibirku, aku membalas dengan lembut. Lumatannya mulai berubah menjadi lumatan ganas. Ia melepaskan ciumannya.

Dia menyingkapkan kausku. Aku mengangkat kedua tanganku. Dengan mudah dibukanya kaosku. Kini tangannya membuka celana pendekku. Kini kami tinggal mengenalan pakaian dalam saja. Bra dan celana dalamku berwarna krem berpadu dengan kulitnya yang sawo matang. Braku memang tidak penuh menutupi toketku sehingga dapat terlihat lingkaran kemerahan di sekitar pentilku. Cdku dari bahan sutra transparan sehingga padang rumput di bawah perutku terihat membayang. “Eehhngng, ..” aku mendesah ketika leherku dijilatinya. Kulihat ia melirik bayangan
kami di cermin dilemari yang besar. Dia mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Tangannya bergerak punggungku membuka pengait braku. Disusurinya bahuku dan dilepasnya tali braku bergantian. Toketku yang imut dan kencang dihiasi pentil berwarna coklat kemerahan dan sangat keras. Digesek-gesekkannya dadanya ke pentilku. Bibirnya yang agak tebal dengan lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Dia mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Aku hanya sekedar mengimbangi. Sesekali gantian lidahku yang mendorong lidahnya. Tangan kanannya memilin pentilku serta meremas toketku.

Aku menggeserkan tubuhku ke arah bagian atas tubuhnyasehingga toketku tepat berada di depan mukanya. Segera dilumat nya toketku dengan mulutnya. Pentilku diisap pelan dan dijilati. “Aaacchh, Ayo bang.. Lagi.. Teruskan”. aku mulai melenguh keenakan. Kontolnya terasa semakin mengeras. Disedotnya toketku sehingga semuanya masuk ke dalam mulutnya, dihisap pelan namun dalam, pentilku dijilat dan dimainkan dengan lidahnya. Dadaku bergerak kembang kempis dengan cepat, detak jantungku juga meningkat, pertanda nafsuku mulai naik. Tanganku menyusup di balik cdnya, kemudian mengelus, meremas dan mengocoknya dengan lembut. Pantatnya dinaikkan dan dengan sekali tarikan, maka cdnya sudah terlepas. Kini dia sudah dalam keadaan polos tanpa selembar benang. Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit daun telingaku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati pentilku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupegang pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian bergerak membuka cdku dan melemparkannya begitu saja. Jembutku tidaklah lebat dan kupotong pendek. Sementara ibu jarinya mengusap dan membuka bibirmemekku, maka jari tengahnya masuk sekitar satu ruas ke dalam lubang memekku . Diuusap dan ditekannya bagian depan dinding memekku dan jarinya sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang. Setiapkali dia memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya aku mendesis, “Huuhh.. Aaauhh.. Engngnggnghhk”. Ia melepaskan tangannya dari selangkanganku. Tanganku kembali diarahkan ke kontolnya, bibirku terus menyusuri perutnya, semakin ke bawah. Aku memandang sebentar kepala kontolnya yang lebih besar dari batangnya dan kemudian kukecup. Belum kukulum, hanya mengecup dan menggesekkan hidungku pada batang kontolnya dan dua buah bola yang menggantung di bawahnya. Dia hanya menahan napas setiap aku mengecupnya.
Aku kembali bergerak ke atas, tanganku masih memegang dan mengusap kontolnya yang telah berdiri tegak. Dia menggulingkan badannya sehingga berada di atasku. Kembali kami berciuman. toketku diremas dan pentilnya dipilin dengan jarinya sehingga aku mendesis perlahan dengan suara di dalam hidungnya. “SShh.. Ssshh.. Ngghh..” Perlahan lahan dia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Kepala kontolnya kupegang, ,kemudian kugesek-gesekkan di mulut memekku. Terasa basah banget.
Aku mengarahkan kontolnya untuk masuk ke dalam memekku. Ketika sudah menyentuh lubang memekku, dia menekan pantatnya perlahan. tapi belum bisa masuk. Aku merenggangkan kedua pahaku dan pantat kuangkat sedikit. Kepala kontolnya sudah mulai menyusup di bibir memekku. Digesek-gesekkannya di bibir luarnya sampai terasa keras sekali dan ditekan lagi. Aku merintih dan memohon agar dia segera memasukkannya sampai amblas.

“Ayolah bang tekan.. Dorong sekarang. Ayo". Dia mencoba untuk memasukkannya lagi, masih dengan bantuan tangannya, dan Blleessh. setengah batang kontolnya sudah tertelan dalam memekku. “Ouhh.. bang,” desahku setengah berteriak. Dia bergerak naik turun. Kadang gerakan pantatnya dibuat naik turun dan memutar sambil menunggu posisi dan waktu yang tepat. Aku mengimbangi dengan gerakan memutar pada pinggulku. Ketika dirasakan gerakannya sudah lancar, maka dipercepat gerakannya. aku menggeleng dan menahan pantatnya, kemudian
mengatur gerakan pantatnya dalam tempo sangat pelan. Untuk meningkatkan kenikmatan maka meskipun pelan namun setiap gerakan pantatnya selalu penuh dan bertenaga. Akibatnya maka keringatpun mulai menitik di pori-porinya. “Bang. Ouhh.. Nikmat.. Ooouuhh. Abang memang betul-betul perkasa” desisku sambil menciumi lehernya.

Kini kedua kaki kurapatkan dan dijepit dengan kedua kakinya. Kontolnya hampir-hampir tidak bisa bergerak dalam posisi ini. Tidak ada kontraksi otot memekku namun dia merasa memekku sangat sempit menjepit kontolnya. Dia menggulingkan badan lagi sampai aku menindihnya. Kakiku keluar dari jepitan kakinya dan kembali aku yang menjepit pahanya. Dalam posisi ini gerakan naik turunku menjadi bebas. Kembali dia dalam posisi pasif, hanya mengimbangi dengan gerakan melawan gerakan pinggul dan pantatku. Tanganku menekan dadanya. Dicium dan diremasnya toketku yang menggantung. Kepalaku terangkat dan tangannya menarik rambutku kebelakang sehingga kepalaku semakin terangkat. Setelah dia menjilat dan mengecup leherku, maka kepalaku turun kembali dan bibirku mencari-cari bibirnya. Dia menyambut mulutku dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Aku mengatur gerakanku dengan tempo pelan namun sangat intens. Pantat kuturunkan sampai menekan pahanya sehingga kontolnya terbenam dalam-dalam sampai kurasakan menyentuh dinding rahimku. Ketika kontolnya menyentuh rahimku, aku semakin menekan pantatku sehingga tubuh kamipun semakin merapat. Aku menegakkan tubuh sehingga dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkangannya. Aku kemudian menggerakkan pantatku maju mundur sambil menekan kebawah sehingga kontolnya tertelan dan bergerak ke arah perutnya. Semakin lama-semakin cepat aku mengerakkan pantatku. “Ouhh.. Ssshh.. Akhh!” Desisankupun semakin sering. Aku dah hampir nyampe rasanya. Kontolnya dikeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot antara biji peler dan anusnya seolah-olah menahan kencing. Aku kembali merebahkan tubuhku ke atas tubuhnya, mataku berkejap-kejap dan bola mataku memutih.

Gigiku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan, "Bang .. Sekarang say.. Hhhuuaahh!” aku memekik kecil. Pantatku menekan kuat sekali di atas pahanya. Dinding memekku berdenyut kuat menghisap kontolnya. Dia menahan tekanan pantatku dengan menaikkan pinggulnya. Bibirku menciuminya dengan pagutan-pagutan ganas dan diakhiri dengan gigitan pada dadanya. Dia memeluk tubuhku erat-erat dan ditekannya kepalaku di dadanya. Napasku yang bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. aku dah nyampe. Denyutan demi denyutan dari memekku kemudian melemah. Pejunya yang muncrat bebrarengan dengan klimaxku masuk dalam memekku sebagian tertumpah keluar lagi di atas pahanya. Aku berguling kesampingnya sambil tangan dan mukaku tetap berada di lehernya. Dia memberikan kecupan ringan pada bibirku, dan usapan pada pipiku.

“Terima kasih bang. Abang sungguh luar biasa. Perkasa dan romantis". Kami masih berpelukan sampai keringat kami mengering. Setelah mandi dan hendak mengenakan pakaian, aku menahan tangannya yang sudah memegang celana dalam. “Abang tidur disini saja malam ini. Inez.. masih..”, aku tersipu-sipu dan tidak melanjutkan perkataanku. Malam itu kami tidur dengan telanjang dan berpelukan ditutup selimut ditemani dengan suara rintikan hujan.

Aku tidak tahu sudah tidur berapa lama ketika kurasakan sebuah lengan melingkar di pinggangku. Aku membuka mata mengambil arloji di atas kepalaku dan melihat sebentar. “Hmm.. Baru jam satu, tidur lagi yuk!” kataku sambil memejamkan mata dan tangannya memelukku kembali. Diciumnya ketiakku dan digelitikin pinggangku. Aku menguap dan meregangkan badan. “Ooahh, abang emang..!” Tangannya menangkap tanganku. Didaratkan sebuah ciuman pada bibirku. Aku mengelak dan berdiri berjalan ke arah kulkas di dalam kamarku. Mengambil air putih, meminum dan mengangsurkannya kepadanya. Dia duduk, menyambut dan menghabiskan sisa air dalam gelas tadi. Aku masih berdiri dalam keadaan telanjang. Dia mengamat-amati tubuhku, "kamu sexy sekali nes kalo bugil gitu". "semua prempuan juga sexy kalo telbul bang". Aku duduk dipinggir ranjang, dia bangun dan memelukku. Bibirnya mendarat di bibirku. Kali ini ia menciumiku dengan ganasnya. Akupun membalas dengan tak kalah ganasnya. Dia meremas toketku dengan keras. Ia mendorongku dan beberapa saat kemudian kami sudah bergulingan di atas ranjang besar yang empuk. Dia menindih dan menjelajahi sekujur tubuhku. Aku menggeliat-geliat hebat dan mengerang. Dari dada, lidahnya pindah ke samping menyusuri pinggul dan pinggangku, ke arah perut dan pahaku. Aku meronta hebat penuh kenikmatan sewaktu tangannya memainkan pentilku. Tangannya ditempelkan di bibir memekku. “Baaang.. nikmat bangetz!” pekikku. Bibirku naik ke leherku lagi dan menjilatinya. Elusan tangannya pada pinggang membuat aku ia meronta kegelian. Dia menghentikan elusannya dan tangannya meremas lembut toketku dari pangkal kemudian ke arah pentil. Dimainkan jemarinya dari bagian bawah, melingkari gundukannya dengan usapan ringan kemudian menuju ke arah pentilku. Sampai batas pentil sebelum menyentuhnya, dia menghentikannya dan kembali mulai lagi dari bagian bawah.

Dia menggantikan jari dengan bibirnya, tetap dengan cara yang sama disusuri toketku tanpa berusaha mengenai pentilku. Kini aku bergerak tidak karuan. Semakin bergerak semakin bergoyang toketku dan membuat jilatannya makin ganas mengitari gundukan mulus itu. Setelah sebuah gigitan dia berikan di belahan toketku, bibirnya diarahkan ke pentilku, tapi dijilatnya dulu daerah sekitarnya yang berwarna merah sehingga membikin aku penasaran dan gemas. “Bang.. Jangan dimaenkan gitu dong.. Isep cepetan yang,” pintaku. Dia masih ingin mempermainkan gairahku dengan sekali jilatan halus di pentilku yang makin mengeras itu. Aku mendorong toketku ke mulutnya, sehingga pentilnya langsung masuk, dan mulailah dia kulum, digigit kecil serta dijilat bergantian. Tangannya berpindah dari pinggang ke memekku yang kini menjadi basah.

Jari tengah kirinya dimasukkan ke dalam memekku dan tidak lama sudah menekan apa yang dicarinya. Lumatan bibirnya di pentilku makin ganas. Aku berusaha mengulingkan badannya tetapi ditahannya. “Aaagh..”, aku memekik-mekik. Diciuminya lagi bibir dan leherku. Kontolnya makin membesar dan mengganjal di atas perutku. Diangkatnya pantatnya sedikit dan akupun mengerti apa yang harus kulakukan. Kukocok kontolnya sampai keras sekali dan kukangkangkan pahaku lebar-lebar. Diarahkannya kontolnya ke memekku dan “Masukin bang...Cepaat!,” pintaku sambil semakin melebarkan pahaku. Didorongnya kontolnya memasuki memekku, digerakkannya kontolnya pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat. Memekku makin lembab, namun tidak sampai becek. Akulangsung mengerang hebat merasakan hunjaman kontolnya yang keras dan bertubi-tubi. Tanganku mencengkeram pinggulnya. Gerakan maju-mundurnya kuimbangi dengan memutar-mutarkan
pinggulku, semakin lama gerakan kami semakin cepat. Aku semakin sering memekik dan mengerang. Tanganku kadang memukul-mukul punggungnya. Kepalaku mendongak ketika dia menarik rambutku dengan kasar dan kemudian dikecupnya leherku dan digigitnya bahuku.

Setelah beberapa lama aku minta untuk di atas. Dengan cepat kami berguling. Tak berapa lama kemudian kontolnya sudah terbenam di liang memekku. aku menaikturunkan pantatku dengan posisi jongkok. Aku seperti penunggang kuda yang sedang memacu kudanya dalam lembah kenikmatan mendaki menuju puncak. Tubuhku naik turun dengan cepat dan dia mengimbangi dengan putaran pinggulnya, sementara toketku yang tegak menantang diremas-remas dengan tangannya. Gerakan kami makin cepat, eranganku makin hebat. Dia duduk dan memeluk pinggangku. Kami berciuman dalam posisi aku duduk berhadapan di pangkuannya. Dia bebas mengeksplorasi tubuhku dengan tangan dan bibirnya.“Aaagghh.. bang..,” teriakku. Dia membalikkan tubuhku kebawah dan langsung digenjot dengan tempo tinggi dan menghentak-hentak. Nafas kami semakin memburu. Dia mengganti pola gerakan. Dia cabut kontolnya trus dimasukkan kembali setengahnya. Demikianlah dia lakukan berulang-ulang sampai beberapa hitungan dan kemudian dihempaskannya pantatnya dalam-dalam. Aku setengah terpejam sambil mulutku tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepedasan. Pinggulku tidak berhenti bergoyang dan berputar
semakin menambah kenikmatan. Lubang memekku yang memang sempit ditambah dengan gerakan memutar dari pinggulku membuat dia semakin bernafsu. Ketika dihunjamkannya seluruh kontolnya ke dalam memekku, aku pun menjerit tertahan dan wajahku mendongak. Dia menurunkan tempo dengan membiarkan kontolnya tertanam di dalam memekku tanpa menggerakkannya. Dia mencoba memainkan otot kontolnya. Terasa kontolnya mendesak dinding memekku dan sedetik kemudian ketika dia melepaskan kontraksinya, kurasakan memekku meremas kontolnya. Demikian saling berganti-ganti. Permainan kami sudah berlangsung beberapa saat. Kedua kakiku diangkat dan ditumpangkan di pundaknya. Dengan setengah berdiri di atas lutut dia menggenjotku. Kakiku diusap dan diciumnya lipatan lututku. Aku mengerang dan merintih-rintih. Dia memberi isyarat kepadanya untuk menutup permainan ini. Akupun mengangguk.

Kamipun berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran. Gerakan demi gerakan, pekikan demi pekikan telah kami lalui. Dia semakin cepat menggerakkan pantatnya. Aku menjambak rambutnya dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisku segera menjepit erat pahanya. Badanku menggelepar-gelepar, kepalaku menggeleng ke kiri dan ke kanan, tanganku semakin kuat menjambak rambutnya dan menekan kepalanya lebih keras lagi. Dia pun semakin agresif memberikan kenikmatan kepada aku yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang. “Aaahh.. Ssshh.. Ssshh” Gerakan tubuhku semakin liar. “Ouoohh nikmatnyaa.. Inez ingin segera sampai..” Dia juga merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam kontolnya ingin keluar. “Ouuwww..!” Dia mengangkat pantatnya, berhenti sejenak mengencangkan ototnya dan segera menghunjamkan kontolnya keras-keras ke dalam memekku. Tubuhku mengejang dan jepitan kaki kuperketat, pinggulku naik menjambut kontolnya. Sejenak kemudian
memancarlah pejunya di dalam memekku, diiringi oleh jeritan tertahan dari mulut kami berdua. “Awww.. Aduuh.. Hggkk” Kami pun terkulai lemas dan tidak berapa lama sudah tidak ada suara apapun di dalam kamar. Tangannya memeluk erat tubuhku dengan mesra. lemes banget badanku setelah melalui percumbuan yang sangat panjang, tapi nikmatnya juga bangetz.

Cerita sex Liburan Keluarga

Ternoda - Pengalam liburan menyenangkan, menegangkan dan mengairahkan. Nama 2 dibawah sengaja disamarin ma penulis. Kisah ini 80% nyata Cuma sedikit dibumbui dengan alur2 dramatis biar lebih menarik.

Saya Fian, 33 thn seorang pengusaha muda yang baru merintis . Cerita ini sebenarnya sudah lama berlalu. Namun, karena pengalaman yang sangat mengesankan sehingga sulit untuk dilupakan. Berawal dari liburan panjang ke rumah nenek di daerah Garut sekitar pertengahan 2003, waktu itu saya masih mahasiswa di sebuah pergutruan tinggi negeri di Jakarta. Di Jakarta saya tinggal koskosan di daerah Pejaten, Jak-Sel. Orang tua tinggal di Bekasi. Karena ingin menghemat makanya saya tinggal di dekat daerah kampus. Seminggu sebelumnya nenek menelepon saya untuk mengajak liburan ke rumahnya di Garut.

Nenek : “ an, km gimana kabarnya?”
Aku : “ baik nek. Ada apa tumben nelpon?”
Nenek : “Minggu depan kamu ada acara?”
Aku : “ ga ada nek, minggu ini sudah mulai liburan semester. Awalnya Fian mau ngambil semester pendek, tapi gak jadi deh. Mang kenapa Nek?”
Nenek : “ Kebetulan nenek mau ngajak liburan ke Garut, sekalian kumpul2 keluarga. Tadi nenek nelpon Ibu kamu tapi dia gak bisa Cuma kakak kamu Dina yang bisa, sekalian ngajak juga Istri kakak sepupu kamu Fitri sama anak2nya, suaminyakan lanjut ke sekolah keluar negeri. Daripada dia sendiri repot ngurusin anaknya mending nenek ajak sekalian liburan ke Garut sini, ngitung-ngitung liat proses panen di perkebunan teh kakek kamu.”
Aku : “ wah!, boleh nek Fian juga butuh refrsing neh.”
Nenek : “ Baiklah klo begitu nenek suruh mang Ujang jemput yah pake mobil, ntar kamu yang tunjukin rumah Kak Fitri, tahu kan?”
Aku : “ mmm, gak begitu apal sih nek soalnya baru sekali kesana. Ntar coba Fian telpon nanyain alamatnya.”
Nenek : “Ya, udah dulu klo bgt, nenek tunggu yah disini.”
Aku : “ oke nek”

Singkat cerita hari yang ditunggupun tiba. Saya dan kakak saya (Dina) menunggu jemputan mang Ujang di koskosan saya. Wah, lama juga neh mang Ujang. Molor 2 jam neh dari jadwal, kak Fitri dah 2 kali nelponin kak Dina. Namun akhirnya mang Ujang dating dengan muka paniknya. “ den, map den mang Ujang tersesat dan kejebak macet”, “ y awes mangy ok kita go, jemputin mbak Fitri dulu yah”.
Mobilpun melaju tenang ke daerah Jakarta Timur tempat tinggal Kak Fitri. Sebetulnya saya tidak begitu mengenal istri kakak sepupu saya ini Cuma pernah sekali ketemu pas acara akikahan anaknya yang pertama itupun saya tidak terlkalu perhatikan. Singkatnya kamipun tiba di alamat yang dituju. Kak Fitri dan 2 anaknya dah nunggu di 
depan rumahnya.

Pertama melihatnya. Waaaah, manis banget ternyata, Kulit putih (tapi ga putih2 amat sih). Tinggi sekitar 168 cm berat 56 Kg sehingga kelihatan sedikit semok.Dengan dadanya membusung yang ukurannya kira2 36D (pengakuan sendiri, gan!). dengan celana jeans ketat dan baju putih sedikit trnasparan karena bra hitamnnya menerawang dibalik bajunya. Oh, ya. Doi (KAK Fitri) ini adalah campuran Madura-Arab makanya wajahnya amat manis. Ibunya adalah pengusaha madu terkenal di Madura dan Bapaknya punya restoran Arab di Surabaya, doi sendiri kerja di bank swasta terkenal (karena niat liburan makanya doi ngambil cuti seminggu). 

Setelah kenalan dan mengatur barang2 bawaan doi ngambil duduknya di tengah (atas anjuran saya biar anaknya leluasa bermain). Karena kak Dina lebih senang di depan makanya dia langsung ambil posisi di samping mang Ujang, awalnya Ane nih yang pengen di depan tapi ga’ papalah di belakang juga oke dan ternyata membawa berkah dan awal seru dari cerita ini.
Selama perjalanan kamipun ngobrol ngidal-ngidul ketawa-ketiwi dan yang lebih asik lagi doi ternyata GFE bgt orangnya enak ngobrolnya dan suka bercanda. Menjelang sore mang Ujang singgah di pom bensin di daerah tol sekalian beristirahat, kamipun mengisi perut di resto pom bensin tsb, setelah itu lanjut.

Sebagian sudah terlelap termasuk kak Dina dan anak pertama nya Doi . Doi sendiri sibuk ngelonin anak bungsunya yang agak rewel karena susu botolnya abis. Iseng ane Tanya. “ kenapa nih si adee?(sambil gw sandari dagu dijok tengah sebelah kepala Doi” . “Iya an tadi lupa isi termos, jadi gak bisa bikini susu neh.” Nahhh sodara agan2 pemandangan berikutnya bikin ane takjub,bin senang bin konak. Tanpa basa-basi doi ngangkat tuh kaos sampai kelihatan branya dan mulai membuka cupnya (ane hanya diam terpaku dg dagu masih bersandar di Jok, Cuma berjarak sekitar 20 cent gan Dari target). Busyet kata ane dalam ati, putih n montok bgt pentilnyas gak terlalu besar dengan warna coklat muda, beda bgt dengan pacar gw. Kalah besar (walopun dah malam nih mata tajam bgt kelihatannya)… “cup…cup sayang sini nenen aja susu botolnya abis yah”.

Maklum anak2 mungkin dah favorit susu botol jd sedikit jual mahal. Dibiarin tuh toket ngelewer-ngelewer agak lama baru deh di emut dan langsung tidur. Ane masih sedikit terpaku neh dengan kecuekan Doi dan lagi si Joni dah ngaceng bgt di bawah. “wah dah bobo kak.”, “ iya, loh kamu dr tadi disitu? Enak neh liat gratis..hehe”, “ heheh (gw cengengesan salah tingkah)… enak yah, gimana rasanya tuh (sedikit berbisik)”, “ga tau deh Tanya aja ma Dino, hehehe”. Waktu itu ane belum berani macem2, sekitar 5 menit berlalu doi pun tertidur dan si Dino masih nenenin tuh toket montok. 
Walopun berusaha ikut tidur, namun keringat dingin membasahi kening karena nafsu yang teramat sangat. Ane gak sanggup gan ngebayangin ngemut tuh toket sambil ngelusin Si Joni. Karena dah sange bgt ane putusin keluarin si Joni (niatnya onani sambil ngebayangin ngemut tuh toket montok) maklum selama ini pacar gw cuma ngasih serpis handjob+grepe2 toket n fk. 

Nah, mulai deh ritual handjob, ane buka tuh resleting perlahan dan keluarin si Joni dan ane elus –elus tuh meriam belanda (heheh), gak puas ngebayangin ane mulai deh nyuri2 nyium rambut doi (hmm ajib, harum bgt), sambil tetep ngocok si Joni makin lama gw makin cepet neh serasa dah mau meledak gan. Namun tiba2 mobil terguncang karena ada lobang dan karena dah pulas si Doni ngelepasin tuh toket, gw yang dari tadi hanya nyium2 tuh rambut sedikit kaget bin takjub melihat pemandangan toket ngelewer2 didepan mata gw. Tensi kocokanpun sedikit melambat melihat pemandangan tsb. Wah.. pikiran gw semakin liar jadinya, pengen banget remes tuh toket namun sayang gw takut bgt. Untungnya mang Ujang konsen bgt nyupirinnya jadi ga sadar dengan kejadian di belakang. Berjuta2 setan pun mulai merecokin pikiran saya (“dah gan! Pegang ajah, emut klo bisa” kata salah satu setannya). Dan gw beraniin mengelus tuh toket dg tangan kanan dan yang kiri masih sibuk ngocokin si Joni. 

Tangan gw gemeter bgt awalnya. Satu jari gw sentuhin di pentilnya (serasa basah karena masih ada sisa asi yang keluar. Gw jilatin jari gw… hmmm manis juga rasanya). Setetes asi ternyata memberikan kekuatan padaku untuk bertindak lebih jauh, kemudian gw pegang lagi tuh toket montok, anget dan gede bgt sampai tangan gw gak cukup tutupin tuh toket, dengan gerakan sedikit meremas terasa kenyal bgt dan lama kelamaan makin keras tuh toket (sepertinya doi terangsang dalam mimpi). Tangan kiri gw semakin cepet ngocoknya, sepertinya lahar dah mau meledak dan tangan yang satunya negremes makin dalam kerena sensasi tuh toket yang makin keras ketika diremes (sayup2 doi sedikit melenguh, namun gw cuek aja) dan pas Joni mau meledak sedikt ane peratiin mang Ujang (aman masih konsen nyetir dan ga peratiin tuh spion tengah). Ane langsung majuin kepala ke depan ngemut tuh pentil, otomatis asinya keluar deh ngebanjirin mulut gw. Sepet2 manis gan rasanya, dan tak lama Joni-pun memuntahkan laharnya. Banyak bgt sekitar 8 kali tembakan (maklum lama gak dikeluarin ma pacar… hehe). Nih mulut masih ngemut toh toket sampai gw sedikit tersadar dan untungnya Doi masih terlelap. 

Gw lepesin tuh mulut dang gw beri sedikit kecupan di pentilnya dalam ati gw bilang mudah2an doi pikir anaknya yang emutin. Gw masukin tuh Joni lagi kesarangnya terus bersihin tuh lahar yang berceceran dilantai mobil kemudian dan berusaha terlelap. Perlahan sekilas kulihat doi terbangun tanpa melihat kea rah gw, doi betulin tuh bra dan posisi si Dino trus lanjut tidur (cihuuuuyyy!! Aman pikir gw) ….
Menjelang tengah malam kamipun tiba di rumah nenek. Rumah yang asri dengan suasana sejuk dikelilingi perkebunan teh yang cukup luas. Yah, almarhum kakek adalah seorang pengusaha teh yang cukup terkenal di Garut. Sepeninggalan beliau nenek Cuma dibantu beberapa orang karyawan, makanya nenek agak kesepian tinggal di rumah yang lumayan besar. Nenek sudah menyiapkan segalanya ketika kami sampai. Mulai dari makan malam sampai urusan kamar sdh beres. Kamipun kangen2nan dengan nenek berbagai ceritapun mengalir malam itu di meja makan hingga terasa lelahpun menerpa kami. Kamipun bergegas ke kamar masing. 

Karena nenek sendiri makanya nenek meminta Kak Dina menemaninya tidur. Sedang Aku tidur di kamar paman saya dan doi dengan anak2nya tidur di kamar tamu yang cukup besar dan letaknya tepat bersebelahan dengan kamarku. Lelah banget piker gw namun entah mengapa mataku sulit terpejam mengingat kejadian di mobil tadi berbagai pikiran kotor mengalir di kepalaku, ingin rasanya meninkmati setiap bagian tubuh kak Fitri, tapi bagaimana caranya yah (sebuah angan2 yang tidak mungkin tercapai).

Sayup2 terdengar guyuran air di kamar sebelah, rupanya dinding kamarku tepat berdampingan dengan kamar mandi di kamar doi. Hmmmm … enak neh ngintip pikr gw…. Pikir2 gmana caranya yah, masak harus ngendap2 di kamar doi terus ngintip dari lubang kunci… ntar anaknya bangun terus teriak gimana… arghhh!!… Namun karena dah nafsu gan, gwpun meluncur ke target, dengan mengendap-ngendap pakai jurus kucing garong (heheh). Sampai depan kamar doi n pegang hendel pintu dan……………… arghhhh TERKUNCI GAN!!! SIAL!!! 

Bulik kamar dengan perasaan dongkol dan muka kelipet 12 plus Joni yang mulai memberontak gw hempaskan badan gw di kasur yang empuk dan, apa yang terjadi ???? …. 
Dasar otak setan gw emang punya beribu strategi. Melihat Plapon kamar muncul strategi jitu mengintip doi lewat plapon. Kutelusuri setiap sudut mencari manhole plapon tempat orang bisa masuk. Dan engingong…. Sebuah lubang yang emang khusus dibuat untuk masuk jika ada masalah dg kabel listrik, dsb terlihat di sudut ruangan. Selanjutnya cari akal buat manjat ke atas, gw lihat tuh lemari gede di sebelah tempat tidur dan dengan kekuatan gw, Joni dan setan2 yang pada setia kawan bantu gw dan walopun gede lemarinya namun bisa juga kegeser hingga tepat di bawah tuh lubang. Gw tarik kursi untuk manjat ke lemari dan sesampainya di atas gw geser tuh tutup lubang manhole plapon. 

Berbekal hp yang ada senternya mulailah gw panjat tuh lubang dan mencari-cari bagian plapon kamar mandi doi, mengandalkan pendengaran gw yang tajam gw cari tuh arah guyuran air dan ketemu juga akhirnya. Setelah meraba-raba setiap sisi plapon kamar mandi mencari lubang bwat ngintip dan emang dewi fortuna mihak gw bgt malam itu, bukan lubang kecil yang gw dapat namun ternyata di plapon kamar mandi juga ada manhole buat orang bisa masuk…. Heheheh salut gw dengan kakek yang pinter bgt ngerancang rumahnya… Gw geser tuh dikit2 tutupnya sampai terasa cukup bwat ngintip…. Dan…. Lampu kamar mandi masih menyala, mata tajam gw menyusur setiap sudut dan… dan.. dan.. kok ga ada orangnya???!!! Yah SIALLLLLLLL !!! dah mandi rupanya si Doi. Lelah bercampur dongkol gw gesertuh perlahan-lahan kembali tutup plapon, dan apa yang terjadi selanjutnya ….
sekelebat bayangan terlihat di bawah sana…… siapakah gerangan ??
Wwaaah!!! 

rupanya dewi keberuntungan masih mihak gw malam itu. Gw geserlagi tutup palponnya dan tampaklah pemandangan indah di bawah sana, kulit putih nan mulus plus toket gede dengan pentilnya coklat muda yang manacung banget ditambah lagi bokong doi yang montok bgt. Sementara itu sang empunya sedang asik membasuh tubuhnya dengan sabun di bawah shower yang memancarkan air hangat. Otomatis nih tangan segera mencengkram si joni dan dengan gerakan halus mulailah ritual handjob part2.

Setelah bersabun ria dan membersihkan sisa sabun di tubuh doi gw piker udahan mandinya, namun rupanya doi masih pengen berendam di bathub. Dengan mata tertutup rupanya doi menikmati bgt berendamnya malam itu, tangan doi rupanya sangat memuja tuh body, elusan dan rabaan mulai digencarkan ke setiap bagian tubuh sampai ke bagian dada, dengan gerakan memutar dari pangkal menuju pentilnya doi remes2 sendiri tuh toge sambil memilin2 pentilnya… hmmm rupanya doi terangsang juga neh. Rangsangan ke Joni gw pending dulu karena menyaksikan doi yang terangsang sendiri.
Bibirnya digigit plus sedikit erangan kecil sayup2 terdengar. Mungkin karena suaminya lagi lanjut studi ke luar negeri jadi doi haus belaian neh rupanya. Dari atas satu tangan doi menuju ke mekinya yang ditumbuhi bulu yang tercukur rapi… pemandangan makin panas gerakan halus memutar di meki doi berlanjut dengan tusukan 2 jari ke dalam, dengan gerakan maju mudur perlahan namun pasti doi masturbasi dengan asiknya. Terlihat jari doi makin masuk ke dalam semakin dalam terlihat doi sangat menikmati, mulut terbuka seolah-olah berteriak namun Cuma terdengar erangan kecil dari doi.

Tersadar gw Joni masih tegak berdiri dan butuh sentuhan pula. Dengan gerakan mengocok seirama dengan gerakan tangan doi dan semakin lama semakin cepat hingga tubuh doi terlihat mengejang, mata terbuka namun Cuma kelihatan putihnya saja, bokong terangkat ke atas demikian pentil yang semakin mancung dan erangan sedikit lebih keras … Tuh jari masih maju mundur dengan cepatnya sampai puncaknya doi lepas tuh jari dan meki doi menyemprotkan banyak banget cairan namun bukan pipis , gw ternganga melihatnya, seperti di pelem blue yg pernah gw lihat. Rupanya doi mendapatkan orgasme yang hebat bgt sampai squirt segala. Tak terasa jg Joni dah siap melepaskan laharnya dan… crot…crot…crot.. nikmat banget semburan lahar Joni. 

Gw lemes demikian pula doi, terlihat senyuman dari bibirnya damai namun terasa nikmat dengan gerakan dada pelan sepertinya doi lelah namun menikmatinya. Original dan tidak dibuat-buat. Gw perhatiin aja hingga doi bangkit mengambil handuk dan keluar lampupun dimatikan. Gw puas gan malam itu hingga tidurpun terasa lelap hingga pagi menjelang.

Pagi harinya gw lelep bgt tidurnya tak terasa terdengar gedoran pintu…. Wah rupanya mang Ujang. 
“Ada apa mang???”, “Gpp den. Tadi Ndoro putri nyariin aden, mang Ujang bilang sepertinya masih tidur mungkin masih lelah. Semuanya dah pada ke kebun teh Den”. “ y awes mang gw mandi dulu br kesana”

Gw mlas2an krn emang masih lelah bgt krn kejadian semalam. Setelah mandi dan berpakaian santai plus sweeater (dinging an, maklum suasana puncak kebun teh)gwpun meluncur ke TKP. Lumayan juga jalannya sekitar 200 meteran. Gw lihat nenek ma kak Dina lagi main2 ma anaknya doi. Lucu juga yah…heheh.. “Loh kak Fitri mana nek?” 
“ itu sana lagi pengen motret katanya”. Terlihat di kejauhan sesosok tubuh indah berada di bukit perkebunan teh . “ kesana an tadi dicariin ma mbak fitri” kata Kak Dina, “knapa emangnya? “ kata gw. “Diakan baru beli camdig seri pro, cm belum begitu ahli, makanya gw bilang minta ajar aja ma si fian soalnya lo kan jurnalis di kampus sedikit banyak tahulah seluk-beluk fotografi”…. Waaaaaaaah petik mangga dapet kedongdong niat gw kesampaian dong ngedeketin doyong (doi maksudnya… maksa bgt pantunnya)… pinter bgt kakak gw rupanya (dalam ati gw). Dan pucuk di anti ulam tiba, doi manggil2 gw dari kejauhan …. “aaaaaaaaaaaaaaaannnn” dengan gerakan tangannya memanggil gw kesana. 
Dengan berjalan santai namun pasti gw panjat tuh bukit. Lumayan jauh juga sekitar 200 meteran dari tempat kak Dina, nenek dan anak2 doi. Sampe di sana dengan sedikit ngos2an gw bilang : “kenapa mbak?” wah indah bgt , doi pake baju bali item yang tipis bgt tuh sedikit menerawang tuh bh putihnya, lengkap dengan celana hot pan warna putih (pahanya montok bgt Dan putih gan). Rambut di iket. Gw nyeletuk : “ hehe.. cantik banget kak” doi cuman senyam-senyum. “ an, lu katanya jurnalis di kampus yah? Ajarin gw dong teknik motret”. Gw : “ ah kak dina melebih-lebihkan mbak, gw masih belajar jg. Tapi sedikit2 tahulah…heheh. Hmmm… kameranya bagus. Seri pro neh”.

Mulailah gw menerangkan bagian2 kamera dan cara2 memotret yang benar. Dengan gayanya Darwis Triadi namun tanpa kumis yang tebal…heheh. Gw gini2 pernah ngikutin trening fotografinya mas Darwis Triadi loh. Doi amat menikmatinya dan mengikuti penjelasan gw dengan seksama.
Sampai nenek dan kak dina dah teriak2 manggil kami. “ayo pulang!!! Mw ujan kata” kak Dina. “Iya ntar lagi kata gw” sial ganggu bgt orang lagi asik berdua dg doi (guman gw dalem ati). Dan bener juga ujan mulai turun dengan derasnya, tampak nenek, kak Dina ma anak2 doi berlari masuk ke pekarangan rumah dari kejauhan. Gw pun berlari sambil mebuka sweeter menutupi kepala gw dan doi yang gw rangkul mesra bgt (heheh). Sampai kami melewati rumah2an pondok tempat biasanya para pemetik teh beristirahat. “ berteduh dulu an” kata doi. “oke mbak”. Baju gw basah neh demikian pula doi namun gak sampai kuyup juga seh. Hp Doi bunyi, rupanya kak dina menelepon nanyain kabar. “ iya Din, lagi berteduh sama fian di pondok kebun, nuggu ujan reda. Udah gak usah dijemput. Belum selesai nih belajarnya, ntar klo dah reda baru balik. Ok”. 

“Ujannya makin deres aja mbak”, 
“iya an mana baju basah neh”,
“klo basah yah dibuka dong ntar masuk angin loh”, canda gw
“enak di elu dong…hehe. Ayo dong an ajarin lagi”

Gwpun ngambil posisi disampingnya doi, bahu kami merapat. Sekalian buat menghangatkan badan. Lanjut gw neranginnya . Sangking semangatnya nerangin gak sengaja sikut gw nyenggol tuh toge. Empuk banget gan. Namun apa dinyana doi cuek bebek. Gw makin semangat ajah, satu tangan gw mulai agak merangkul ke pinggang doi sambil menerangkan ke doi yang lagi memfokus sebuah objek. Bibir gw sedikit gw deketin ke telinga doi… hmmm wangi bgt parfumnya. Dan tiba2 doi berbalik dan nih bibir mendarat mulus di pipi doi. Doi sedikit terpana dan gwpun demikian, sedikit tersadar gw : “ bilang maap mbak”. Doi : “ yah lo an nyantai aja gw yang salah kok” sambil doi elus pipi gw. Busyeeet mesra bgt neh pikir gw. Doi masih cuek bebek. Doi : “ wah ribet jg yah dunia fotogfrafi musti banyak belajar lagi neh”. Gw : “ga juga kok, klo ada keinginan pasti bisa mbak”. Doi tiba2 ngankat kedua tangannya untuk merenggangkan otot sambil menguap, keliatan tuh ketek mulus plus toge sebelah kiri dari samping. Hmmmm…. Pemandangan yang indah bgt, si Jonipun mulai beraksi gan. 
Tiba2 doi bilang : “ an minta tolong pijetin pundak mbak neh, pegel bgt”… hihihi, girang plus tegang langsung aja tangan gw samperin tuh pundak, gw pijet2 lembut dan Nampak doi sangat menikmatinya, pake tutup mata segala dan disertai gumanan2 kecil. Si joni makin keras aja di dalam sangkar. Gw beralih ke sekitar lehernya. Doi :” enek bgt disitu an” badan doi sedikit bersandar di dada gw, biking w n joni makin nafsu aja gan. Panasnya nafsu makin menjalar di seluruh tubuhku. 

Tangan doi kemudian kesamping untuk nyimpan kamdignya, kemudian doi pengen garukin punggungnya tanpa sengaja tuh tangan nyenggol si Joni. Doi sedikit terkejut, sambil tertawa kecil doi bilang : “ tau ujan2 gini, dingin pula terus mijitin cewek lagi. Tiba2 bangun2 aja sesuka hati ya an”… “eh…eh..hi” gw gelagapan “iya mbak”….
Guyonan2 kecil nan nakalpun mengalir waktu itu. Iseng doi Tanya : “ km dah punya pacar an?” . Gw. :”udah mbak”. Doi : “Ya wes km kawin ajalah tuh adik kamu dah haus belaian wanita rupanya..heheh”. Gw : “ Iyah sih mbak pengen bgt rasain tubuh kayak mbak.”gak sadar gw gan ngomongnya. Doi : “apa an??? “, Gw. : “ eh..eh maksdunya tubuh wanita” . Doi : “oooo... km klo pacaran ngapai aja??”. Gw : pura2 bingung. “maksudnya???”. Doi : “ yah ngapain aja, ciuman, petting, ml dsb”. Gw: kaget bgt denger pertanyaannya. “heheh, cm FK ajah mbak”. Doi : “ ah boong pasti grepe2 jg tangan km.” . GW : “iya seh dikit…heheh”

Entah setan apa yang nyembit gw tanpa sadar dan nafsu makin memuncak tiba2 gw peluk doi dari belakang tepat di bawah pangkal togenya. Doi tiba2 berontak. “an….an …jangan!!!” sedikit teriak doi membentak gw sambil ngelepasin pelukan gw. Gw kaget dong. Maap mbak gw kangen pacar. Terus gw mulai nyerang lagi. Sambil mengiba “plis mbak gw pengen peluk aja” . Mungkin karena kasihan dan doi jg butuh kehangatan doi pun bilang : “ya udah peluk aja yah jangan macem2”. Karena nafsunya sambil pelukin doi bibir gw nyuri2 ciumin tuh leher dan doi kegelian sambil sedikit teriak : “annn!!” dan tiba2 plakkkk!!!!! Tamparan mendarat dipipiku. Gw kaget lg. Muka doi memerah. Gw. : sambil meluk doi dari depan “maaf mbak, fian mau buat pengakuan”. Doi diam saja, nafasnya makin cepat sepertinya emosi memuncak. Mulailah gw ngakuin klo suka bgt dengan doi semenjak kemarin, “ntah ini nafsu ataupun masalah hati (sepertinya berat di nafsu gan), apa lagi kemarin di mobil mbak perlihatkan ke fian susu mbak, fian suka bgt mbak dan nafsu bgt ngelihatnya sampe2 tanpa sepengatuhan orang2 fian onani di jok belakang. Gwpun mulai menceritakannya sampai kejadian ngintip semalam juga tidak terlewatkan. Tiba2 doi ngedorongin gw dan menutup matanya sambil menangis sesugukan. Doi : “ Harusnya gak boleh an, mbak kan sudah punya suami, kakak sepupu km sendiri. Tapi emang mbak salah juga”
Doi makin nangis aja tuh sambil ngejatuhin wajahnya ke pundak gw. (hmm..tampaknya mulai nyerahni), gw spik aja pelukin doi sambil ngelus punggung doi. Gw : “Iya mbak Fian salah juga, gak bisa nahan nafsu Fian”. Tangan gw ngelus kepala doi dan gw angkat dagunya, terus gw apusin tuh air mata dengan mesranya. Gw kecup matanya. Doi diem aja. Terus gw kecup lembut tuh bibir….. 
waaaaaaaaaaawwwwwwww serasa gw diestrum dengan jutaan kilovolt listrik… serasa nikmat dan hangat, makin lama lidah gw mulai masukin ke rongga mulut doi, doi masih diam dan menutup mata. Tiba2 doi ngedorong gw. Doi :” udah an jangan di terusin”. Gw dah nafsu bgt neh. Gw tarik aja tuh kepala dan gw lumat tuh bibir dengan kasarnya. Doi gelagapan sedikit berontak…”blbbjhj..amkhj…an…nkgh dahhh”, gw makin dalem bgt kiss doi, hingga pertahanan doi melemah dan sedikit menikmati ciuman gw. Gw pun sadar dan berhenti. Kami saling berpandangan dan tiba2 mata doi sayu seperti mengharapkan bibirnya disentuh lagi. Perlahan nih bibir maju dan doipun memiringkan kepalanya siap menerima ciuman gw dan…. Mphhhh…..mphhh.mphhh…. kamipun saling melilitkan lidah dengan hangatnya, gw angkat tubuhnya dang w sandarin di dinding sambil tetap saling melumat. Tangan gw mengikuti alur pergumulan, perlahan namun pasti tangan kanan gw menjelajah diluar bajunya tepat di atas bukit kembar nan indah dengan sedikit remasan terasa tuh bukit awalnya terasa lembek namun lama kelamaan keras sekeras batu. Sadar doi makin terangsang nih tangan mulai masuk menjelajah di sekitar bra doi, gw turunin satu cupnya dang w pilin2 tuh pentil…. Hmm terasa kasar, keras dan berdiri tegak. 

Gw. :” mbak sayang….fian pengen nenen”. Doi : tersenyum dan Cuma mengangguk pelan. Hujan yang makin keras makin ngedukung aja pergumulan kami. Gw mulai tiduran di pahanya dan doi mengangkat bajunya dan membuka kaitan bra di depanya. Mulai deh gw isep dan lumet th toge sampe2 asinya tumpah di mulut gw. Doi : melenguh kenikmatan “gimana an rasanya??” . GW : “ enak mbak, manis.” Sambil tersenyum penuh kemenangan. Doi mulai deh sedikit aktif sambil gw nenen doi ngelus Joni dari luar. Doi : “ gede jg an punya km”, doi mulai nurunin celana gw dan mulai mengocok si Joni dengan perlahan. Gw bangkit dari tuh bukit kembar sambil ciumin bibr doi. Doi : “ enak say?? “ gw cm mengangguk. “yah wes mbak kocokin aja yah say”. Gw :”mbak mau diisepin” gw ngerengek sperti bayi. Doi: “ jangan say, ntar kelihatan” tapi gw paksa aja tuh kepala menuju batang perkasaku. Sedikit ragu, doi mulai membuka mulutnya dan memulai kuluman lembut di kepala Joni, sangat telaten. Pelan tidak terburu-buru dan yang gw suka, gak kena gigi gan. Doi tersenyum melihat mimik wajahku sampai Nampak Joni dah mau muncrat isepan doi dipercepat dan sepertinya semakin dalam menelan Joniku sayang… dan… arghhhhhh…. Mbak …enakhhhh bgt!!! Crot…crot…crot. Joni sukses CIM nya. Doi sdikit gelagapan karena kepalanya gw tahan. Terasa banyak bgt yang masuk kemulut doi. Gw Tanya : “spermanya mana mbak, perasan banyak nyemprotnya?” sambil perhatiin mulutnya. Doi nyubit aku “ dasar kamu an, ketelen semua!!!. Tapi kok manis punya kamu an? Punya suami mbak agak asin jadi kadang bikin mual.” … gw : sambil tersenyum “ mungkin kemarin karena kebanyakan makan buah2an mbakku sayang”

Masih ujan ajah terpikir gw balesnya gimana neh. Doi masih bersih2hin mukanya pake tisu. Gw bersandar di bahunya. “mbak sayang fian pengen bales juga muasin mbak”. Doi : “ udah sayang nanti kita dicariin” tapi gw paksa aja, gw tarik celana nya sampai selutut dang w cium2 tuh meki dari luar cdnya… baunya khas, namun harum bgt. 

Terakhir gw tahu klo Doi ngerawat bgt daerah kewanitaannya dengan minum jamu2an dan rajin melakukan ratus vagina (maklum anak juragan Jamu di Madura). 
Doi sedikit melakukan perlawanan sambil mendorong kepala gw. Namun rasa nikmat yang dirasa mendadak mengendurkan perlawanan doi takkala bibir gw melumat klitoris doi. Doi sedikit melenguh, perlahan gw bangkit dan membuka perlahan cd doi, reflex ajah pantat doi diangkat biar gampang lepasnya. “fian isep yah mbak?”. Doi cuman mengangguk pasrah. Mulailah ane oral tuh meki berdasarkan pengalaman ane nonton bokep, semakin lama semakin basah. Isepan dilengkapi dengan tusukan satu jari ane kedalam meki doi, makin lama makin cepet. Hingga tak lama pertahanannya mulai lemah…. “ annnn, mbak mau keluar sayaaaaaaaaaanggg!!!” dann.. tubuh doi mengejang hebat seperti terkena kejutan listrik berkali-kali sementara itu doi meki doi memancarkan cairan orgasme yang menembus kencang kerongkongan gw. Gw gelagapan, gw lepasin mulut gw dari mekinnya. Nampak cairan tersebut masih menyembur sedikit disertai dengan badan doi mengejang hebat.

Gw rebahan disamping doi, sambil mengecup mesra keningnya. “Makasih yah mbakku sayang”. “ iya an, mbak juga terima kasih dah lama gak ngrasain kayak gini. Thanks yah say” sambil doi mengecup mesra bibirku. Nampak Joni bangkit lagi dari peraduan. “hihihi… an, cepet bgt bangun lagi tuh”. “ mbak pengen rasain lobang yang di bawah” . “ udah an. Kita dah lama bgt ntar dicariin lagi”. Gw bangkit mulai mencoba memasukkan Joniku sayang. Doi reflex ngepit pahanya menutupi tuh meki. Sedikit memaksa gw buka pahanya dan gw masukin pelan tuh Joni… Hangat bgt, dasar mang enak, Joni serasa ada yang pijet, Otot2 mekinya memijit2 Joni dengan lembut. Baru aja 5 gerakan maju-mundur. Telepon Doi bunyi. Doi kaget dan kami reflex memakai baju kami… siaaaaaaaaallll kentang bgt!!!! Rupanya nenek menelepon katanya si Dino dah rewel pengen bobo. Ahhhh. Dasar Dino gak tau kami lagi asyik ajah. Mang ujangpun diserahin tugas menjemput kami, walopun ujan dah mulai reda, sambil membersihkan diri merapikan pondok biar gak ada yang curiga. 

Di perjalanan pulang Doi cengengesan ajah ngeliat muka gw yang kusyut bgt… sambil berbisik “ nanggung nih yeee…hihih”. Kami sepayung berdua dan mang ujang ngikutin dari belakang. “ iyyya neh… urgghh ” bisik gw. “kasihan deh… cup2..sayang, nanti deh lanjut lagi”… “janji yah” kata gw. Dan doi cuman ngedipin matanya ke gw.
Malam harinya semua sudah berkumpul di ruang keluaraga, tawa membahana di ruang tersebut membangunkanku dari tidurku yang leleap karena kelelahan. Kulihat doi bersama nenek dan kak Dina lagi bercengkrama bersama 2 anak doi dan tanpa mempedulikan keberadaanku. Nenek bun nyeletuk " loh an, bru bangun? dah sana cuci muka n makan dulu", " iya nek, mau berendem air anget dulu nih, badan pegel semua ", " ya wes mandi sana, tapi jangan lama2 ntar masuk angin lho". gw mengangguk dan si doi tetep aja asik bermain dengan anak2nya tanpa sedikitpun melirik ke gw.
Selesai mandi dan makan kemudian gw keluar ke halaman menikmati bebrapa batang rokok... eh mang Ujang datang ngajakin ngobrol ngidal-ngidul hingga tanpa terasa hari dah larut. Dari dalam rumah nenek menyuruhku bangun dan beristirahat krn sudah larut. Sisa kopi terakhir yang dibuatin mang Ujang ku hirup kencang dan sebiji pisang goreng kucomot. "oke thanks gw istirahat dl", "iya den sama2". Ternyata mang Ujang pandai juga bercandanya. Masuk rumah semua sudah gelap saat melewati kamar doi iseng gw buka handelnya.... lho kok?!!! TERKUNCI LAGI.. arghhhhhhh!!!. Gw ke kamar gw berbaring di tempat tidur, udah 1 jam bolak-balik namun mata belum redup juga dan tiba2 si Joni pengen pipis (mungkin kebanyakan ngopi tadi). Karena kamar mandinya di ruang keluarga gwpun keluaar dan menuntaskan hasratt kebelet si Jonjon... Keluar kulihat di lampu kecil dapur yang remang menyala. Gw pikir mungkin mang ujang, gw ke dapur minta mang Ujang bangunin gw pagi2 eh ternyata doi lagi masak air buat termos susu anaknya. Dengan mengendap2 gw deketin doi yang hanya memakai daster tipis pendek di atas lutut. Gw peluk aja doi dari belakang dan tentu saja doi kaget bukan main dan berteriak, namun untung saja tangan gw dah membekap dl mulutnya. "maaaff mbak ini fian...heheh", "ah.. an kamu bikin gw kaget ntar ada yang denger terus lihat kita gini gmana? dasar kamu!!". Doi kesel bgt. Gw nyengir aja kayak kuda...heheh. "kangen kak" kata gw. " kangen apa nanggung..heheh" heheh ... gw nyengir lagi. terus aja gw peluk sambil ngeremes2 toketnya dari belakang yang ternyata tidak ditutupi bra (emang klo mw tidur bra doi dilepas). "gimana mbak adek dah tidur?" ... "udah ini siapin air di termos, kali aja bangun tengah malem cari susu"... "ow.. " . Iseng tangan gw yang satu ke arah mekinya dan mengusapnya dari luar. Doi melenguh.... gw angkat dasternya dan memasukkan tanganku ke balik CD doi.. hmm sedikit basah. "kak ******* disini yuk " bisik gw.. "An !!! jangan nekat ntar ketahuan gimana??!".. "gak kok makanya pelan2" gw pelorotin aja cd doi sampe lepas dan gw kantongin, gw balikin dan angkat dasternya terus gw isep2 tuh meki, lidah gw tusuk2 di lobangnya dan klitorisnya gw isep lembut. Doi cm bisa melenguh pelan dan menggigit bibir bawahnya.. Terasa sudah basah.. Gw balik tubuhnya terus gw suruh menunduk bersandar di atas meja marmer dapur (posisi DS), kolor gw turunin dan coba memasukkan si Jonjon... n eh..eh susah (maklum belum pengalaman apalagi posisi joni yang mendongak ke atas). Doi sadar dan mencoba membantu dg menggenggam Joni ke sarangnya dan... slleb..akhhirnya masuk jg... Gw diemin dulu dan terasa ada yang memijat2... otot rahim doi ternyata berkontraksi memijat (hmm efek jamu2an P. Madura neh). kemudian gw sodok2 pelan deh.... "an ... ah..ah..ah, cepetan ntar ketahuan" bisik doi sambil mematikan tuh kompor karena air dah mendidih hebat. Gw cepetin aja gerakan gw dan tiba2 doi dorong perut aku.. " Dah sayang dikamar aja, kakak ga konsen klo disini " setelah merapikan dan memasukkan air ke termos kita menuju kamar doi..

Dikamar doi melihat anak2nya masih pules bgt. "Mainnya di bawah aja yah an". Gw mengangguk dan mengambil selimut tebal dan bantal sebagai alas. Doi melepas dasternya dan berbaring di bawah, melihat bukit kembarnya langsung aja gw nenen dan remes2 sampai keras banget. Gw rasa dah cukup gw lebarin pahanya dan mulai memasukkan Joni. Dasar amatiran gerakan gw ga teratur bgt, Doi tersenyum "pelan2 aja dl say. Km blm pengalaman rupanya, sini biar kakak di atas. Klo km pengen keluar bilang yah?" dongkol juga rasanya ditegur gt(tp emang bener sih gw emang blm pengalaman..heheh). Gw rebahan dan doi mulai memposisikan WOT, setelah masuk doi mulai bergerak pelan namun pasti, sengaja doi gesekin mekinya ke bagian kepala hingga sedikit dibawah kepala Joni saja sehingga rangsangan ke Joni gak terlalu hebat namun diselingi dengan sodokan hingga ke pangkal ( sensasinya emang nikmat bung!). gerakan doi teratur dan seirama, uh toket terguncang-guncang seolah menyuruhku untuk meremasnya. Tak lama gw bangkit dan memeluknya "akhhh kak.. mw keluar". doi mengelusi punggungku. napas kami ngos2an. "udah say km rebahan saja" sedikit kocokan meki doi, tiba2 jari doi menjepit pangkal batang si Joni (agak keras jg), posisi Joni masih keras di dalam meki doi. Satu jarinya mencubit pinggang gw(agak sakit jg) doi bilang "tahan yah biar konsen pengen muncret kamu buyar" sambil tersenyum. Setelah merasa cukup, doi mulai beraksi lagi mengulek-ngulek Jonjon. (emang jitu juga tekniknya). Tak lama doi merasa pengen keluar... dan "arhhhh." doi melenguh pelan dan tubuh doi mengejang hebat ke belakang. Gw bangkit dan memeluknya, pijetan otot rahimnya terasa berkedut-kedut. Kemudian doi tersenyum dan mulai bergoyang lagi dengan posisi masih gw peluk, makin lama makin cepet... "Kaakk maw keluarrr!!" , "tahan say kita barengan" sambil tangannya mencubit pingganggu, otomatis konsen buyar lagi. dan makin lama doi makin cepet aja menguleknya dan "arghhhhhhhh..." rupanya doi orgasm lagi, sambil mendorong tubuh gw tubuh doi mengejang... Indah bennner pemandangannya, karena nanggung dan pengen jg cepet dikeluarin tuh lahar gw posisiin MOT, doi masih geleng2 mungkin pengen bilang" jangan dulu an masih ngilu" tapi gw sosor aja dengan rpm tinggi, ngilu namun nikmat sih. terasa otot rahimnya masih bekedut-kedut sampai gw rasa pengen meledak... dan cret...cret..cret, jonipun menuntaskan lava panas ke dalam rahim doi..

Kemudian gw terjatuh ke dalam pelukan doi, Joni masih terbenam di dalam dan keluar dengan sendirinya. Gw berputar dan mengelus punggung dan dadanya yang masih ngos2an. Kami berpandangan dan tersenyum, kemudian aku kulum tuh bibir dengan lembutnya dan lama. Doi membelai rambut gw dengan mesranya. Tiba2 anaknya yang paling kecil sedikit gelisah, doi tiba2 bangkit dan segera membuat susu terus memakai lagi dasternya dan mulai mengeloni anaknya. Gw bangkit dan rebahan di belakangnya sambil memeluk mesra dan membelai rambut doi. Doi tersenyum menikmatinya dg mata tertutup. Sekitar setengah jaman kemudian tangan gw menyusur ke dalam daster meremas-remas toket doi sampai mengejang dan keras tuh pentil, Doi membuka mata dan tersenyum. Doi masih membelakangi dan tangannya menyusup ke dalam celana gw meraih Joni dan mengocok-ngocoknya. Gw nikmatin bener kocokannya... Gw bangkit dan doi berputar agak kaget karena si Joni sudah kuarahkan ke bibir doi. Doi sedikit menggeleng sambil tersenyum, sedikit melirik ke anaknya yang sudah terlelap lagi. Batang si Jonjon di raihnya dan mulai mengarahkan ke mulut doi, kuluman dan isepan membuat rasa ngilu yang hebat.. arghh... telaten sekali oralan doi. kemudian gw tahan kepala doi dan mulai menyodok-nyodokkan penis gw ke mulutnya semakin cepat ... dan tiba2 doi tahan perut gw dan berlanjut mengulet dan menghisap Penis gw.... dan creetttt---crett, jumlahnya tidak begitu banyak lagi namun masih bisa muncrat sampai ke kerongkongan doi. Doi sedikit tersedak, namun penis masih di mulut doi. Sambil menghisap-hisap seperti menghisap sedotan, lava Joni dibersihin sampe abis. Setelah itu gw cabut si joni dan berlutut di lantai disamping tempat tidur. Doi membelai mesra rambutku. "Udah ya". Gw cuma mengangguk dan mengecup bibir doi. " an, dah istirahat dl ke kamar kamu takut ketahuan say", gw tersenyum dan mebelai rambut doi tak lupa kecupan mendarat di bibir doi, sempat juga doi memasukkan lidahnya. Sekitar setengah menit kami berpagutan lidah. Gw pun bangkit keluar menuju kamar gw dan tidur dengan nikmatnya.... 


Esoknya nenek mengajak kami ke permandian alam, tentu saja kedua anak doi senang bgt. Kami berangkat pagi2. Sampai disana belum begitu banyak pengunjung, maklum kepagian biar enak kata nenek... Skip2. Ganti baju doi cuma pake celana hot pant warna krem sama baju kaos ketat warna putih gw sendiri cuma pake celana boxer. Di kolam kami semua bermain bersama, doi sibuk megang anaknya yang belum mahir berenang dengan ban sedang gw temenin anaknya yang satu sambil pegangan di ban. Gw ikutin deh doi dari belakang, sang kakak sibuk bercanda dengan adiknya yang masih agak ketakutan berenangnya, gw ma doi senyam-senyum aja melihat tingkah mereka, sekilas terlihat bra hitam doi menerawang di balik bajunya yang basah...busyet dah pikir gw, tangan gw pun otomatis menggerayangi toge doi, dengan sekali remesan yang membuat doi sontak kaget, matanya sedikit melotot ke arah gw... gw cuek aja dengan wajah sedikit memelas iba..heheh. Doi akhirnya luluh juga, badannya sengaja lebuh direndahkan di bawah air dan didekatkan dibalang ban anaknya td. Gw sedikit merapat ke doi sehingga remesannya lebih pulas. Sambil gw remes2 tangan doi grepe2 si Joni yang dah ngaceng di bawah sana, ketika toge doi mulai mengeras gw lalu masukin tangan gw ke dalam baju doi dan menurunkan satu cupnya, gw pilin2 tuh pentil yang dah mengkerut karena dingin dan terangsang... hmm nikmat bgt sensasinya. Doi lalu masukin tangannya ke dalam boxer gw dan mulai mengocok-ngocok si Joni.

Kakak ma kak Dina lebih suka berendam dipinggir kolam saja, mereka sibuk bercerita sehingga tidak memerhatikan perbuatan kami di tengah kolam sana. Bosen memilin-milin puting doi, gw mangarahkan jari-jemari gw ke dalam celana doi, doi sedikit memejamkan mata menikmati perbuatan gw sambil menggigit bibir atasnya.
Setelah merasa cukup nenek dan kakak pamit keruang ganti sambil memperingati kami untuk segera udahan. Sambil masih di kolam pengunjung mulai rame, doi menarik tangan gw yang masih asik didalem celana doi, sambil sedikit berbisik.. " udah dl ya nanti lagi.. " sambil menedipkan satu matanya yang indah. Gw senyam-senyum aja mengerti padahal gw masih asik tuh, setelah melihat kakak dan nenek dah ganti baju doi sendiri mulai keruang ganti membersihkan badan anak2nya. Gw Langsung menuju kamar mandi, gw lagi asik mandi sambil sabunin si Joni, tiba2 joni berdiri dengan tegagnya sange (onani tanggung nih pikir gw, mending hubungi si doi neh sapa tau bisa exe dsn), Iseng gw sms si doi minta temuin di kamar mandi belakang. Kebetulan gw pilih yang paling belakang jadi agak sunyi dsn. Ketak ketik sms dan sent.... tiiiiit...tiiiit...tiiiit ada balesannya tuh. " nati klo aku ketuk kamu bales ktk 3x ya "... cihhuuuuuyyyyyy. Sekitar 5 menit ane nunggu dan tok, gw bales 3 x n doi pun masuk...waahhh girangnya. "kok lama", "iya ijin dulu n titip dino ma dodi ma nenek". Tampa basa-basi kami mulai salang meraba dan berciuman hangat sambil gw buka tuh baju ma branya sampai kami telanjang bulet. Terus gw kebawah pengan isep2 tuh klitoris yang dah ngaceng dibalik bibir vagina doi. Doi kegelian sambil bersandar di dinding kamar mandi, satu jari gw masukin kedalam vagina doi dan gw sodok2..."hmmmm ..e..eenak bgt an, terusin say!". Tanpa basa basi gw tambah lagi satu jari, gw percepat gerakan gw soalnya kaki doi mulai sedikit gemetaran dan tiba2 badan doi mengejang dan terjatuh memeluk gw.. wah rupanya doi ori tuh, sementara itu vagina doi memuncratkan cairan bening beberapa kali (deres bgt semprotannya yang pertama dan mengenai paha gw. Maklum doi suka squirt klo orgasm). Doi bangkit sambil senyum dan mencubit pinggang gw," an ..km pinter bgt". Doi mulai bangkit dan kami saling berangkulan, kemudian doi pengen isep2 tuh Joni tapi gw larang, gw pengen langsung masukin aja...heheh. Tiba2 doi menunduk dan sikunya bersandar di kolam, hmmm posisi DS neh. gw pun mengarahkan Mr. Joni ke liangnya dan bless, gw mulai sedikt ahli sambil bergerak maju-mundur secara teratur dan pelan. Agak lama kami di posisi ini tiba2 doi minta ganti posisi. Doi pun duduk di atas dinding kolam, membuka pahanya dan menaikka satu kakinya ke pundak gw, pelan gw masukin kepala Joni sampai ambles semuanya dan mulai melakukan penetrasi maju-mundur secara berulang, tusukan dangkal dan dalam gw kombinasiin, sampai terasa Joni dah pengen muntah, dan akhhhhh, gw berteriak pelan, otomatis doi langsung pijet tuh pangkal Joni sambil cubit pinggang gw. "ntar dulu an kita barengan yah dah pengen jg rasanya", sekitar 30 detik kami rehat.

"an kamu duduk dibawah" gw duduk bersandar di dinding, kaki gw selonjorkan saja, doi mulai naik mengarahkan liangnya ke Joni dan blesss, doi yang di atas sekarang bergerak turun naik togenya terguncang-guncang, gw langsung isep aja togenya bergantian, gw minum banyak bgt asinya. tIBA2 terasa badan doi sedikit bergetar dan kejang, gw batu kocokan dengan menaik-turunkan pantat gw dan tiba2 doi melepas Joni dari liangnnya sambil menyemprotkan caitran orgasm ke kepala Joni, banyak bgt, Tubuh doi berkedut-kedut kejang seperti terkena setruman listrik, gw pegang pinggangnya mengarahkan kembali lianngnya ke Joni terasa didinding rahim doi masih memijet-mijet karena masih dalam pengaruh orgasm yang hebat. Gw sekarang yang menaik-turunkan pantat gw sampai terasa Si Joni maw muncrat jg. dan arghhhh.....c rot...crot....crot, Joni orgasme jg akhirnya, kami berpelukan. Doi mengecup mata gw mesra, gw kecup bibir doi. Si Joni mulai sedikit mengendur di dalam saan. Kami bangkit dan saling membersihkan. Tidak ada kata2, cuma senyum puas di wajah kami.

Doi nyeletuk " km makin ahli saja an." gw senyum juga " makasih kak", " jangan terima kasih ah, km dah bantu kakak jg. Gak mungkin kaka lupai kamu sampai kapanpun"... hmm mesranya. Kamipun bergegas seleseai itu kami berpakaian dan sebelum keluar kmr mandi kami sempat FK yang lama bgt.

Gw keluar duluan menuju ke tempat nenek dan kakak serta 2 anak doi.
Nenenk :" kok lama an?"
gw : " dah selesai dr td kok (boong mode on), tadi cari warung jualan rokok dl"
tak lama Doi muncul dengan rambut yang masih tergerai panjang. "maap lama tadi antriannya panjang"
sedikit doi ngelirik gw senyam-senyum....
Nenek :" ya dah kita makan dulu di lesehan sana"
selama makan gw curi-curi ngelirik doi demikian pula sebaliknya, krn lesehan sengaja kaki gw tendang2 paha doi. Doi makan aja santai sambil kakinya ngelus-ngelus tuh otong... berdiri lagi deh. Setelah itu kamipun bergegas pulang. Kakak di depan, nenek ditengah sama doi n ke-2 anaknya. Semuanya pada tidur karena lelah dan kecapaian. Mang Ujang seperti biasa konsen nyupirin. Gw elus-elus telinga doi, doi balik dan tersenyum dan sedikt kaget melihat gw ngelus-ngelus si Jojon. Gw kasih isyarat minta dikocokin. Kemudian satu tangannya nyebrang melewat sandaran kursi dan mulai mengocok si Joni. Wajahnya asik melihat ekspresi gw yang keenakan. Sampai Joni dah pengen memuntahkan lava panansnya dan crot...crot..crot, hihih spermanya tinggal dikit. Doi tersenyum puas demikian pl gw. Melirik Mang Ujang yang konsen nyupirin gw kecup bibir doi, doi membalas. mulutnya bergerak tanpa suara " udah ya ... love U". Tangan doi masih belepotan sperma kemudian gw bersihin pake jari gw dan masukin ke mulut doi. Mulanya doi geleng2 namun karena dah gw tempelin di bibirnya, doi akhirnya ngemut juga tuh sperma di jari gw sampai bersih tangan doi. Kemudian doi ngambilin tisu basah dan gw bantuin bersihin tangan doi. Setelah itu doi elus pipi gw dan memperbaiki kembali posisinya. Hmmm gwpun tersenyum dan terlelap karena kelelahan. Betul2 Liburan keluarga yang menggairahkan....

Semenjak itu kamipun sering curi-curi ml selama liburan. Ketika pulangpun demikian, kami sempatkan ml berapa kali di kosan gw ketika doi pulang kerja, di hotel. Pernah juga di mobil di ancol dan pinggir jalan tol. Selama 1.5 tahun kami menjalin hubungan terlarang sampai doi diajak suaminya pindah keluar negri karena suaminya diterima jadi dosen disana.. Sedih juga rasanya......