blog visitors

Jepitan Memek Gita

Suara merdu bagaikan suara bidadari itu terasa sangat nyaman bagi Erwin. Hanya diiringi dentingan piano, keindahan suara itu semakin terasa syahdu. Erwin tersenyum ketika melihat ke arah asal suara itu. Terlihat seorang gadis remaja yang cantik sedang asyik bermain piano sambil menyanyi. Hati Erwin terasa bangga, karena dia sebagai seorang komposer musik ternama dinegeri bisa memiliki seorang anak yang menuruni bakat bermusiknya. Bahkan lebih dari itu, Gita, anak perempuan kesayangannya itu memiliki bakat lain yang bahkan tak dimilikinya yaitu suaranya yang merdu.

Gita selalu menjadi anak kesayangan Erwin. Erwin menatap anak perempuannya itu. Tak terasa, Gita sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja. Dan dia tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Wajahnya yang cantik manis, sepasang mata bintang, bibirnya yang merekah oleh senyuman manisnya. Walaupun kecantikan Gita membuatnya bangga, tapi juga menimbulkan sedikit rasa kuatir di dalam hati Erwin. Gadis remaja yang cantik seperti Gita bagaikan bunga yang baru mekar yang selalu mengundang kumbang untuk datang. Sebentar lagi Erwin merasa dia pasti akan dipusingkan dengan pemuda-pemuda yang ingin mendekati putrinya


“Yah…. Sini dong. Gita mau nyanyi sambil diiringi piano ayah.”, suara manja Gita membuyarkan lamunan Erwin. Erwin tersenyum pada anak sulungnya itu.

“Iya…iya….”, kata Erwin sambil menghampiri Gita. Komposer besar itu lalu duduk di depan pianonya.

“Mau lagu apa?”, tanya Erwin pada Gita yang berdiri di sampingnya.

“Terserah deh.”, kata Gita.

Erwin mulai memainkan nada indah dari lagu Kembang Perawan dari album Gita. Suara Gita segera mengalun merdu mengiringi dentingan piano Erwin. Gita berjalan ke belakang Erwin lalu memeluk ayahnya dari belakang. Tangannya dengan manja merangkul leher ayahnya sambil terus bernyanyi. Erwin merasa bahagia.

Tapi lambat laun konsentrasi Erwin mulai terganggu. Gita yang memeluknya dari belakang, hanya memakai kaus baby doll ketat dan sepertinya anak gadisnya itu tak memakai bra. Erwin bisa merasakan putting payudara Gita yang baru mekar menggesek punggungnya yang hanya memakai kaos oblong tipis. Harum tubuh Gita tercium olehnya dan membuat perasaan Erwin semakin bergetar.

“Sudah ah Git. Sudah malam. Sekarang kamu harus tidur, besok kan kamu sekolah.”, kata Erwin sambil berdiri.

“Ya…. ayah.”, kata Gita sambil merajuk manja.

“Sudah jangan membantah. Besok kan kamu harus sekolah.”, kata Erwin.

“Ya udah. Selamat malem yah.”, kata Gita.

Gadis remaja itu lalu memeluk ayahnya dan mencium pipi Erwin lembut. Erwin bisa merasakan kehangatan tubuh Gita yang baru mulai mekar ketika anak gadisnya itu memeluknya erat dan mencium pipinya. Perasaan geliasah itu kembali lagi menghantui Erwin. Dia lalu cepat-cepat melepaskan pelukannya.

“Selamat malam Gita. Mimpi indah ya.”, kata Erwin.

Dia mengawasi Gita yang berlarian memasuki kamarnya. Erwin termenung sejenak sambil berdiri.

“Ya, Tuhan. Dia itu anakmu sendiri Win. Kenapa kamu bisa mempunyai pikiran kotor seperti itu?”, omel Erwin dalam hati pada dirinya sendiri.

Tadi memang Erwin sempat bangkit gairahnya saat anak gadisnya itu memeluknya erat. Masih teringat jelas oleh Erwin, harum tubuh anaknya dan putting Gita yang tadi menempel erat di punggungnya. Erwin menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran setan di kepalanya. Setelah itu dia berjalan ke arah kamar tidurnya.

Saat Erwin memasuki kamar tidurnya, dia melihat Lutfi, istrinya, sudah tidur dengan mengenakan baju tidur tipis. Gairah Erwin bangkit lagi. Dia langsung merebahkan diri di sebelah istrinya, lalu mencium leher istrinya sambil tangannya mulai beraksi bergerilya di tubuh istrinya.

“Hhhmm…. mas. Mas, lagi pengen ya?”, kata Lutfi yang terbangun karena ulah Erwin.

Mulanya Lutfi hanya membiarkan saja tingkah suaminya itu, tapi lambat laun rangsangan Erwin membuat gairahnya bangkit juga.

“Ssstt… mas…. aahhh”, desis Lutfi.

Dia menyambut ciuman Erwin yang panas di bibirnya. Erwin yang melihat gairah istrinya mulai bangkit, tak membuang waktu lagi. Dia segera melepaskan pakaiannya sendiri sambil terus mencumbu istrinya itu. Penis Erwin sudah tegang.

Erwin tampak tak sabaran dia segera melucuti celana dalam istrinya. Gaun tidur istrinya hanya disingkapnya keatas. Erwin segera mengambil posisi menindih istrinya. Penisnya yang sudah tegang langsung dilesakkannya ke memek istrinya itu.

“Aughh… pelan-pelan dong mas mmmpp…….”, desis Lutfi menyambut gairah suaminya dengan tak kalah panasnya.

“Aaahhh… sstt…….”, Erwin pun mendengus menikmati jepitan memek istrinya di penisnya.

Erwin langsung menggenjot istrinya dengan liar. Suara kecipak kelamin mereka berdua berpadu indah dengan desah kenikmatan pasangan suami istri itu.

Pllakkk…. Plaakk… aah.. ahh… sttt… plaak…. srttt…..

Dasar si Erwin memang komposer musik yang selalu mengabdikan hidupnya untuk musik. Bahkan saat dia bercinta dengan istrinya, dia mencoba memadukan suara berpadunya kelamin mereka dan desahan kenikmatan mereka berdua. Yaa…. walaupun tidaklah mungkin untuk menciptakan sebuah lagu atau melodi indah hanya dengan suara kecipak penis dalam memek yang basah atau dari desah dan erang kenikmatan seks, tapi setidaknya Erwin tetap menjaga agar suara persetubuhan mereka tidak “fals”. Mmm… paling nggak Erwin masih berusaha menjaga “pitch control” irama persetubuhan mereka.

Lutfi sebenarnya agak heran dengan ulah suaminya. Sudah cukup lama suaminya tidak bergairah se-panas ini. Bukan berarti selama ini rumah tangga mereka bermasalah. Mereka tetap harmonis. Hubungan di ranjang pun cukup baik. Erwin masih bisa memberinya kepuasan batin. Hanya saja setelah kelahiran anak mereka yang kedua, Erwin belum pernah seliar dan sepanas ini lagi. Saat ini Erwin begitu bergairah, mengingatkan Lutfi akan suaminya waktu awal pernikahan mereka dulu.

Entah kenapa Erwin begitu bergairah malam ini. Dia menyetubuhi istrinya dengan nafsu yang menggelora. Penisnya merojok memek istrinya dengan cepat dan penuh tenaga. Tangan dan bibirnya pun turut beraksi menjelajahi tubuh istrinya. Lutfi, istrinya pun menyambut hangat kemesraan yang diberikan suaminya itu. Mereka terus berpacu dalam lautan birahi bagaikan pasangan yang baru berbulan madu.

“Aaahh…. terus masss…. aaa…aku mau nyampe…. aahh…”, desis Luthfi yang merasa kalo dia sebentar lagi akan ditelan gelombang orgasme.

“Uuughh… tunggu aku sayang aaghh…”, dengus Erwin sambil memacu tubuh istrinya makin liar.

Dia dapat merasakan memek istrinya mulai berkedut liar.

Tiba-tiba Erwin tersentak. Wajah istrinya perlahan berubah menjadi wajah anak gadisnya, Gita. Erwin mengerjapkan matanya. Wajah istrinya kembali lagi. Tapi entah kenapa di saat dia di ambang puncak nafsu birahinya, pikiran Erwin membayangkan hal yang lain. Erwin membayangkan kalo tubuh yang sedang ditindihnya itu adalah anak gadisnya, Gita. Erwin membayangkan tubuh Gita yang baru mekar terlonjak-lonjak oleh genjotannya. Terbayang wajah Gita yang cantik manis menatapnya dengan penuh nafsu dan merintih keenakan karena genjotan penis Erwin di memeknya yang sempit. Dan semua itu malah membuat Erwin semakin bergairah. Dia memacu Gita dalam bayangannya dengan makin cepat sampai akhirnya gelombang orgasme yang dashyat menerpanya.

“Uughhh…. aku nyampe sayang aahhhh…….”, desis Erwin saat penisnya menyemprotkan banyak sekali sperma ke dalam memek dan rahim istrinya.

“Sstttt… aaaaaku jugaaaghh………”, desah Lutfi yang juga mendapatkan orgasmenya saat dia merasakan hangatnya mani Erwin yang menyemprot dalam memeknya.

Memeknya menjepit erat penis Erwin berusaha memeras seluruh mani darinya. Mereka berpelukan erat dan menikmati puncak kenikmatan mereka berdua.

Setelah gelombang itu usai menerpa mereka. Erwin dan Lutfi, istrinya tertidur sambil tetap berpelukan karena lelah.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Dua minggu kemudian………

“Aaahhh… Gita…. ssttt….. memek kamu sempit banget….. aahhh…. enak…..”, dengus Erwin sambil mengocok penisnya dengan tangannya sendiri di dalam kamar mandi hotel itu.

Erwin melakukan masturbasi sambil membayangkan Gita, anak kandungnya sendiri.

“Ugghh… telen mani ayah di mulut kamu Git aaaghhh….., dengus Erwin saat penisnya akhirnya memuncratkan sperma yang mengenai dinding kamar mandi itu.

Dengus nafas Erwin terdengar berat, tapi wajahnya memancarkan kepuasan. Beberapa saat kemudian, Erwin pun menyiram dinding kamar mandi yang berlepotan spermanya. Kemudian dia duduk termenung diatas toilet. Rasa sesal menghinggapi nurani Erwin. Dia merasa sebagai ayah yang bejat. Dia sudah menjadikan anak gadisnya sendiri sebagai obyek khayalan seksnya. Erwin tak mampu untuk menghentikan khayalannya itu.

Sebenarnya sejak dua minggu lalu, saat dia pertama kalinya membayangkan Gita saat bersetubuh dengan istrinya, Erwin sudah mencoba segala cara untuk mengenyahkan pikiran kotornya itu. Bahkan dia berusaha untuk agak menjauh dari Gita secara fisik. Bila sebelumnya Erwin tak pernah sungkan untuk memeluk Gita, sekarang dia merasa agak salah tingkah bila melakukannya. Tapi sialnya, akhir-akhir ini tampaknya Gita malah semakin manja terhadap Erwin. Dia sering memeluk Erwin tiba-tiba sambil merapatkan tubuhnya yang segera membuat jantung Erwin berdetak makin kencang. Erwin tak bisa menolak kemanjaan yang diperlihatkan Gita karena dia tak mau Gita sampai merasa dia tak menyayanginya lagi.

Erwin lalu mandi dibawah guyuran shower kamar mandi hotel. Dia berusaha mengenyahkan segala pikiran kotor di kepalanya dengan guyuran air dingin di kepalanya. Selesai mandi, Erwin lalu memakai jubah mandinya lalu keluar dari kamar mandi itu.

“Hi, Yah. Ayah baru mandi ya?”, suara manja Gita mengejutkan Erwin.

Ternyata Gita sekarang ada di dalam kamar Erwin. Penyanyi remaja itu sedang asyik tiduran di ranjang Erwin sambil membaca majalah. Kekhawatiran segera menghinggapi kepala Erwin.

“Sudah lamakah Gita di kamarnya? Apakah dia sempat mendengar teriakannya saat onani sambil membayangkan anak gadisnya sendiri itu? Aaahhh…. kenapa aku lupa mengunci pintu terusan antara kamarku dengan Gita.”, sesal Erwin dalam hati.

Dia dan Gita sekarang memang sedang tidak berada di rumah, melainkan menginap di sebuah hotel. Erwin menemani Gita untuk promosi album barunya. Walaupun mereka menginap di kamar yang berlainan, tapi kamar mereka bersebelahan dan ada pintu terusan yang menghubungkan kamar mereka.

“Hmm.. nngg…. ka..kamu sudah lama disini Git?”, tanya Erwin sedikit gugup.

“Ah, barusan kok.”, kata Gita. Erwin sedikit lega mendengar jawaban Gita.

“Kamu kok disini? Bukannya tidur di kamar kamu sendiri.”, tanya Erwin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Sesekali Erwin mencuri pandang ke arah anak perempuannya itu. Gita selalu terlihat cantik dan manis di mata Erwin. Gadis yang baru beranjak remaja itu sedang mengenakan baju tidur pinknya yang makin membuatnya tampak imut dan menggemaskan.

“Gita belum ngantuk Yah. Lagian Gita bosen di kamar sendirian.”, sahut Gita.

Erwin maklum akan kesepian Gita. Mamanya sekarang tak bisa menemaninya karena harus mengurus adik Gita. Erwin lalu duduk di depan cermin lalu merapikan rambutnya.

Saat Erwin menoleh ke arah Gita, dilihatnya anak kesayangannya itu sedang melamun. Tampaknya Gita sedang gelisah memikirkan sesuatu.

“Ada apa Git? Kok melamun.”, tanya Erwin sambil duduk di tepi ranjang disamping Gita.

Gita terlihat sedikit kaget dengan pertanyaan Erwin. Lalu wajahnya merona merah.

“Mmm…. nggak… nggak ada apa-apa kok Yah.”, kata Gita agak gugup.

Erwin merasa pasti ada apa-apa, mungkin anak gadisnya itu sedang mengalami masalah.

“Ayo dong Git. Jangan bohong sama Ayah. Kamu kan biasanya selalu cerita apa aja ke Ayah. Nah, sekarang kamu cerita, apa kamu punya masalah?”, desak Erwin.

Gita terlihat ragu-ragu. Wajahnya merona merah, membuatnya semakin tampak manis. Erwin hanya diam, memberi waktu Gita untuk menceritakan masalahnya atas kemauannya sendiri.

“Nnngg….. Ayah… Gita mau tanya sesuatu, tapi Ayah janji jangan marah ya.”, kata Gita akhirnya.

“Git.., kamu boleh tanya apa aja ke Ayah dan selama Ayah bisa jawab, ayah pasti akan jawab. Memangnya kamu mau tanya apa sih?”

“Ta.. tapi ayah harus janji dulu nggak akan marah sama Gita.”

“Iya.. iya… Ayah janji nggak akan marah.”, jawab Erwin semakin penasaran.

Gita terlihat ragu dan malu sebelum dia membuka mulutnya.

“Mmm….Yah, bener nggak sih kalau aku minum.. mmm…. minum sperma bisa membuat suaraku tambah merdu?”, tanya Gita.

Kata-kata Gita bagaikan petir yang menyambar Erwin. Sejenak Erwin hanya bisa terdiam sambil membelalakkan matanya dan mulutnya menganga kaget.

“Gita! Kamu ngomong apaan sih?”, kata Erwin agak keras.

“Tuh kan Ayah marah. Ayah kan janji nggak akan marah.”, kata Gita.

Wajahnya terlihat malu dan sedikit ketakutan. Erwin mencoba menenangkan emosi dan kekagetannya. Dia sadar kalau dia nggak boleh marah. Gita mulai beranjak remaja dan masalah seperti ini memang harus siap dihadapinya sebagai ayah.

Erwin sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk memberikan pengetahuan tentang cinta dan seks pada Gita. Sebenarnya malah itu menjadi bagian Lutfi karena pasangan suami istri itu maklum kalau ibunya akan lebih leluasa dalam menerangkan. Kuliah tentang cinta, tata krama dalam masyarakat, pentingnya menjaga kehormatan, sampai dengan contoh hubungan kelamin yang dilakukan hewan yang diperlukan untuk meneruskan keturunan sudah disiapkan Erwin dan istrinya apabila sudah tiba waktunya bagi anak mereka untuk mendapatkan pengetahuan mengenai seks. Tapi pertanyaan yang diajukan Gita benar-benar diluar perkiraan Erwin dan Lutfi.

“Nngg… ayah…. ayah nggak marah kok, cuma kaget aja. Mmm… memangnya Gita denger dari mana itu?”, tanya Erwin setelah berhasil menenangkan hatinya.

Mulanya Gita malu untuk menjawabnya, tapi akhirnya dia pun mulai bercerita.

Ternyata sewaktu Erwin bekerja sama dengan tiga diva (Ruth Sahanaya, Titi Dj, dan Krisdayanti), Gita tanpa sengaja memergoki KD sedang bermesraan dengan Anang suaminya. Gita menceritakan dengan jelas tiap detailnya pada Erwin. Bagaimana Gita melihat KD sedang asyik mengoral penis Anang, kemudian waktu Anang orgasme, KD lalu menelan semua sperma yang dikeluarkan Anang.

“………….Terus tante KD bilang kalau sperma Om Anang sangat enak dan bagus untuk membuat suara jadi makin merdu. Mmm…. gitu yah ceritanya.”, tutur Gita.

“Sialan si Anang sama KD. Pake ngeseks di tempat sembarangan. Kalo gini kan jadi gue yang repot.”, kelu Erwin dalam hati.

“Jad.. jadi bener nggak Yah?”, tanya Gita dengan wajah polos.

Suara Gita membuat Erwin tersadar dari lamunannya. Sejenak tadi dia melamunkan hal yang tidak-tidak. Untaian cerita erotis yang diceritakan secara detail yang keluar dari bibir manis Gita dengan wajahnya yang polos dan cantik membuat Erwin jadi bangkit gairahnya dan melamun hal yang tidak-tidak.

“Ayah sendiri nggak tahu pasti, Git. Tapi banyak orang di dunia ini yang mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal. Dan hal itu ada sisi baik dan buruknya. Pokok yang penting sebenarnya masalah kepercayaannya ini. Contohnya gini, ada beberapa atlit yang percaya dengan hal-hal tertentu. Seperti Michael Jordan yang selalu memakai celana basket seragam dari kampusnya kalau sedang bertanding. Celananya itu selalu dipakainya dibalik celana team Chicago Bullsnya. Dengan celana itu Jordan merasa lebih pede. Nah, Pede ini hal yang positif karena bisa membuat dia bermain makin bagus. Jadi sebenarnya yang penting adalah rasa pedenya, bukan celananya.”, tutur Erwin.

“Oh gitu ya.”

“Tapi inget, Git. Jangana sampai hal-hal seperti itu jadi bumerang bagi kita sendiri. Misalkan suatu saat celana itu hilang atau rusak. Kalau Jordan begitu mempercayai hal itu, hingga ia jadi frustasi dan hilang pedenya maka hal itu membawa dampak negatif. Jadi kita boleh saja mempercayai hal-hal seperti itu, tapi ambil segi positifnya aja. Jangan sampai dampak negatifnya malah membuat kita terbebani. Mengerti?”, kata Erwin lagi.

“Mmmm…. Gita ngerti maksud Ayah.”, jawab Gita. Kemudian dia termenung.

Erwin menatap anak gadisnya yang sedang melamun itu. Cerita Gita yang erotis tadi mulai berkelibatan di kepalanya. Pikiran kotor yang selalu jadi imajinasi akhir-akhir ini, sekarang mulai berseliweran lagi di kepalanya.

“Kenapa, Git? Memangnya Gita percaya sama pendapatnya tante KD?”, tanya Erwin.

“Mmm… Gita nggak tahu. Tapi tante KD kan penyanyi top, nngg…. nggak tahu ah.”, kata Gita agak ragu.

“Gita mau coba?”, tanya Erwin.

Tampaknya setan yang berkeliaran di ruangan itu mulai membisikkan pengaruhnya dalam kepala Erwin.

Gita menatap ke arah ayahnya dengan pandangan kaget. Kemudian wajahnya merona merah. Gadis remaja itu kelihatan masih bingung.

“Nnnggg….. apa kalau kita minum sperma nggak ada dampak jeleknya?”, tanya Gita.

“Kalau dari segi kesehatan sih, kayaknya nggak ada. Malah bagus, soalnya sperma kan dari protein, sama halnya kayak telur.”, kata Erwin yang mulai menebarkan jaring perangkap untuk menjebak Gita yang masih polos itu.

“Mmm… terus gimana nyobanya?”, tanya Gita.

“Kalau masalah itu, biar ayah yang bantu Gita. Tapi Gita harus janji nggak akan bilang siapa-siapa, termasuk mama, gimana?”, bujuk Erwin. Gita diam merenung. Tampaknya gadis remaja itu masih ragu.

“Cuman nyoba aja kan nggak ada masalah. Kalau nanti Gita nggak suka, Gita bisa berhenti kapan aja.”, bujuk Erwin lagi.

“OK, Gita mau nyoba.”, akhirnya Gita terjatuh dalam perangkap ayahnya.

“Tapi kamu harus janji nggak akan cerita pada siapapun termasuk mama, oke?”

“Iya, Gita janji.”, jawab Gita.

Bibir Erwin tersenyum menyeringai bak penjahat-penjahat di film.

“Terus gimana Gita nyobanya?”, tanya Gita lagi.

Erwin lalu berdiri didepan Gita, lalu melepaskan tali pengikat jubah mandinya. Penisnya yang sudah mengeras mengangguk-angguk di hadapan Gita, karena Erwin ternyata tidak memakai apa-apa di balik jubah mandinya.

“Iiihh….. ayah apaan sih?”, jerit Gita yang kaget dengan pemandangan yang terpampang didepannya.

Walaupun Gita kaget atas tindakan Erwin, tapi matanya seakan tak mau lepas dari penis Erwin yang mengangguk-angguk di depannya. Erwin tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu.

“Kenapa Git? Katanya kamu mau coba minum sperma? Ya udah, lakuin aja seperti yang dilakuin tante KD ke om Anang.”, bujuk Erwin.

Gita masih terlihat ragu dan takut. Tapi beberapa saat kemudian Erwin dapat merasakan jari lentik yang lembut menggenggam batang penisnya. Gita masih terlihat canggung, tangannya seperti gemetar saat dia memegang penis itu.

“Nah, gitu dong.”, Erwin menyemangati Gita.

Perlahan wajah Gita semakin mendekat ke penis Erwin. Bibir manisnya bergerak mencium ujung kepala penis Erwin yang sudah tegak.

“Ya gitu Git aahh….. yeah….”, desis Erwin yang merasakan hangatnya kecupan bibir anak gadisnya itu di penisnya.

“Julurin lidah kamu. Git. Jilatin penis ayah.”, kata Erwin memberi petunjuk.

Gita pun menuruti perkataan Erwin. Gadis remaja itu mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati batang penis Erwin.

“Aaahhh…. terusss… kamu pinter sayang…. aahhh….’, desis Erwin nikmat.

Gita terus menjilati penis Erwin yang terus mendesis dan melenguh merasakan nikmatnya hangatnya lidah anak gadisnya itu. Sesekali Erwin memberi pertunjuk pada Gita dan Gita pun menurutinya dan cepat sekali belajar. Penis Erwin dijilatinya merata mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Bahkan gadis remaja itu pun menurut ketika disuruh menjilati buah pelir Erwin yang berbulu walaupun dia sempat risih karena bulu-bulu Erwin ada yang menyelip di lidahnya.

“Uughh… yeahh…. buka mulut kamu Git. Hisap penis ayah aaghh… yak gitu ssttt….. kayak kamu menghisap permen lolipop mmm…… jangan kena gigi aahhh…….”, Erwin terus memberi petunjuk sambil melenguh keenakan merasakan hangatnya jepitan bibir dan hisapan mulut Gita di penisnya.

“Ssluurpp…. hhmmppp…. mmpphh….”, Gita hanya bisa mengguman sambil terus menghisap penis Erwin di bibir mungilnya.

Melihat wajah Erwin yang merasa keenakan, membuat Gita semakin bersemangat.

Erwin terasa seakan terbang di surga. Impiannya akhir-akhir ini, sekarang menjadi kenyataan. Anak gadisnya sendiri sekarang menghisap dan melumat penisnya dengan bibir dan mulutnya yang mungil. Melihat wajah Gita yang polos dan innocent sedang asyik menyepong penisnya membuat birahi Erwin meluap cepat. Untung saja Erwin sebelumnya sudah bermasturbasi, kalau tidak mungkin dia sudah tidak dapat bertahan dari kenikmatan sepongan anak kandungnya sendiri itu.

“Slluurpp… mpph…. kok nggak keluar-keluar spermanya sih yah. Mulut Gita capek nih.”, kata Gita.

“Biar ayah bisa cepet keluarin spermanya, Gita harus buka semua pakaian Gita.”, bujuk Erwin.

“Kenapa?”, tanya Gita.

“Yah… biar ayah bisa lebih cepet keluarin spermanya.”, bujuk Erwin.

Gita mengangguk, lalu mulai membuka kancing piyamanya. Erwin mundur satu langkah ke belakang agar dia bisa dapat melihat tubuh Gita dengan jelas.

Mata Erwin terbelalak saat Gita sudah selesai menanggalkan piyamanya. Erwin begitu terpesona melihat keindahan tubuh anak gadisnya itu yang kini sudah telanjang bulat di depannya. Dia segera menyuruh Gita untuk berdiri dihadapannya. Gadis remaja itu menurut lalu berdiri dengan wajahnya yang memerah karena malu. Tubuh Gita bagaikan bunga indah yang baru mulai mekar. Memang payudaranya masih kecil, tapi begitu indah dan menggemaskan di mata Erwin. Erwin tahu kalo nantinya anak gadisnya itu akan menjadi wanita yang cantik jelita, lekuk tubuhnya sudah menampakkan potensi keindahan di masa depan. Kulitnya putih mulus dan tampak lembut.

Wajahnya yang cantik manis terkesan polos hingga membuat Erwin makin bergairah. Setelah kini melihat tubuh Gita, anak perempuannya itu telanjang, Erwin merasa bahwa tubuh Gita lebih indah daripada yang selama ini dibayangkannya.

“Ka.. kamu cantik sekali sayang.”, puji Erwin.

“Ih… ayah ngeledek ya.”, jawab Gita manja.

“Nggak. Beneran kok. Kamu gadis paling cantik yang pernah ayah lihat.”, gombal Erwin. Gita hanya tersenyum, bangga atas pujian ayahnya itu.

Erwin segera mendekat ke arah anak sulungnya itu. Dagu Gita diangkatnya hingga wajah Gita sedikit menengadah. Lalu Erwin menundukkan wajahnya dan bibirnya langsung mengecup lembut bibir Gita.

“Hhmpp.. yahh… kenapa kok hhmmpp…….”, Gita sedikit kaget karena ciuman Erwin, tapi belum sempat dia bertanya kenapa ayahnya menciumnya, Erwin sudah melumat bibirnya dengan panas.

Gita pun akhirnya membiarkan saja tingkah Erwin karena dia juga sebenarnya menikmati ciuman itu. Tak lama kemudian Gita pun akhirnya membalas ciuman Erwin dengan tak kalah panasnya.

Tangan Erwin mulai bergerilya menjelajahi lekuk tubuh anak gadisnya itu. Kulit Gita terasa sangat lembut di tangan Erwin. Kemudian tangan Erwin merayap ke arah payudara mungil Gita. Payudara Gita memang belum tumbuh sempurna, sekilas bahkan hanya terlihat datar. Mungkin hanya berupa gundukan kecil saja. Tapi hal itu tak membuat gairah Erwin turun. Tangannya meraba dan memijat gundukan mungil itu. Jarinya segera mencari putingnya lalu mempermainkannya dengan lincah.

“Ssstt…. aahhh…. geli Yah…. jangan di pencet-pencet gitu aaaghh…..”, desis Gita karena permainan jemari Erwin di dadanya.

Tapi Erwin tak menghiraukannya. Bahkan dia menundukkan badannya, mulutnya segera mencari putting payudara Gita. Lidah Erwin segera beraksi, menjilati putting yang menggemaskan itu, berwarna merah muda dan makin mengeras. Gita mendesah makin keras, apalagi saat Erwin menghisap putingnya kuat-kuat.

Setelah puas bermain didada Gita, Erwin mendorong tubuh anak gadisnya itu ke ranjang, hingga Gita rebah terlentang di ranjang itu dengan pantatnya ada di pinggiran ranjang. Erwin pun lalu berlutut di bawah Gita. Kedua kaki Gita dia rentangkan hingga Erwin kini dapat melihat memek Gita dengan jelas. Erwin begitu terpesona dengan memek anak gadisnya itu. Memek itu masih terlihat sempit. Sama sekali tak ada rambut di sekitar memek itu. Erwin tak bisa memastikan apakah Gita mencukur bulu memeknya atau memang memek itu belum ditumbuhi bulu. Ketika Erwin merentangkan kedua kaki Gita lebih lebar, Erwin dapat melihat rongga kenikmatan itu berwarna merah muda, segar dan menggemaskan. Erwin yakin kalau Gita juga terangsang birahinya karena dia melihat memek anak gadisnya itu sedikit berkilauan karena air kenikmatan yang mulai membasahi liang sempit itu.

“Ayah mau ngapa aahhhh…..”, kata-kata Gita terpotong ketika dia merasakan lidah ayahnya yang hangat dan kasar menjilat belahan memeknya.

Erwin tampak bersemangat menjilati belahan vagina itu.

“Mmmm…… ja… jangan Yah. Itu kan kotor uughhhh……”, kata Gita sambil mendesis nikmat.

“Ssluurrpp… mm…. nggak ada satu bagian pun dari tubuhmu yang kotor dan jijik buat ayah, sayang sslluurppp….”, jawab Erwin sambil terus menjilati memek yang menjadi impiannya itu.

Erwin seakan tak pernah bosan menjilati memek Gita, anak gadisnya sendiri itu. Clitoris Gita yang mungil tak luput dari sasaran lidahnya. Gita hanya bisa mendesah menerima perlakuan Ayah kandungnya itu. Gairah birahi gadis remaja itu bangkit. Permainan lidah Erwin di memeknya membuatnya merasakan kenikmatan yang mungkin belum pernah dia rasakan.

Akhirnya pertahanan gadis remaja itu pun jebol. Gelombang kenikmatan itu menggulung dirinya. Apalagi saat Erwin menghisap kuat klitorisnya saat Gita sedang di ambang puncak kenikmatannya.

“Aaaghh…. Ayahhh…………”, desis Gita.

Kakinya menjepit kepala Erwin seakan tak rela kalau mulut dan lidah ayahnya sampai terlepas dari memeknya. Badannya menggeliat sampai menekuk dan pantatnya sedikit terangkat. Memeknya menyemprotkan cairan kenikmatan yang segera dijilat dan dihisap Erwin dengan penuh nafsu. Erwin seakan tak mau melewatkan setetes pun cairan kenikmatan yang dikeluarkan Gita, anak perempuannya yang sulung itu.

Tubuh Gita pun lemas setelah puncak kenikmatan itu menggulungnya. Nafasnya berat dan ia pun memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya. Erwin berdiri dan ia pun tersenyum puas karena telah bisa memberikan puncak kenikmatan pada Gita, anak gadisnya yang sangat disayangnya itu hanya dengan permainan lidahnya.

Sekarang Erwin sudah tak tahan lagi. Penisnya sudah ngaceng berat sampai kepala penisnya terasa ngilu. Perlahan ujung penisnya dia posisikan pada belahan memek Gita yang masih terlentang sambil memejamkan matanya. Penis itu dia gesek-gesekkan di pintu liang surgawi itu.

“Ayah…..”, kata Gita saat dia membuka matanya dan mendapatkan ayahnya sedang menggesekkan kepala penisnya di belahan vaginanya.

Wajah Gita terlihat agak kuatir dan sedikit takut. Tapi ada rasa nyaman saat ujung penis ayahnya itu menggesek bibir vaginanya.

“Ayah sayang banget sama Gita. Gita tenang yah ssttt……”, kata Erwin menenangkan Gita.

Gita bukan gadis bodoh, dia tahu apa yang akan dilakukan ayahnya padanya. Tapi hal itu malah membuat gairahnya bangkit kembali. Gita pun hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis pada Erwin.

Perlahan Erwin mencoba melakukan penetrasi. Memek Gita yang sempit agak membuat dia kesulitan, tapi Erwin terus berusaha.

“Aaaaghhh…. sakiiittt yah…..”, rintih Gita.

Seringai kesakitan tampak di bibirnya.

“Tahan sedikit sayang. Ntar sakitnya lama-lama juga hilang.”, bujuk Erwin.

Dia terus menekan penisnya untuk memasuki memek Gita. Erwin mencoba tak menghiraukan rintihan Gita. Dia harus melakukan penetrasi itu dengan lembut tapi juga tak terlalu lama hingga menyiksa Gita lebih lama lagi. Perlahan tapi pasti, penis Erwin pun akhirnya berhasil masuk sampai mentok ke dasar memek Gita. Setelah itu dia pun berdiam dulu agar memek Gita bisa beradaptasi dengan benda asing yang kini bersarang di memeknya.

“Uuughhh… memek kamu sempit banget Git… ssttt…. enaaakkk….. aahh…..”, desis Erwin mencoba bertahan agar tidak orgasme karena jepitan kuat memek Gita.

Memek Gita sangat sempit dan hangat, bagaikan memijat penis Erwin dengan berjuta kenikmatan. Untung saja tadi dia sudah orgasme saat masturbasi. Kalau tidak, Erwin sangsi apakah ia dapat bertahan dari kenikmatan yang diberikan memek Gita ini.

Erwin mencium bibir Gita dan Gita pun membalasnya dengan hangat. Tangannya menjelajah di seluruh bagian tubuh Gita yang bisa ia raih. Kelembutan kulit remaja memang lain dari wanita dewasa dan Erwin merasa beruntung ia dapat merasakannya. Erwin tak melakukan gerakan dan hanya membiarkan memek Gita beradaptasi dengan penisnya sambil terus mencumbu Gita, berharap agar anak gadisnya itu bisa melupakan rasa sakitnya.

Beberapa saat kemudian, saat Erwin merasa Gita tak lagi kesakitan dan mulai dapat membiasakan diri dengan penis Erwin yang bersarang di memeknya, Erwin pun mulai memompa memek Gita dengan perlahan.

“Aaahhh….. ayahhh……. ssttt…..”, desis Gita.

“Uugghhh…. memek kamu ee..eenaakk…Git”, dengus Erwin sambil terus menggenjot anak gadisnya itu.

Ayah dan anak itu terus berpacu dalam birahi mereka. Fakta bahwa perbuatan mereka adalah hal yang tabu, malah membuat gairah Erwin makin menggelegak. Dia terus memacu tubuh Gita dengan gairah membara. Erwin bagaikan terbang di awang. Khayalannya sekarang menjadi kenyataan. Dia dapat bercinta dengan Gita, anak kandungnya sendiri, yang akhir-akhir ini selalu menjadi khayalan kotornya.

Sementara itu, Gita kelihatannya juga menikmati perbuatan ayah kandungnya itu terhadapnya. Penis Erwin yang aktif bergerak di memeknya memberinya kenikmatan. Gesekan penis itu pada dinding memeknya memacu syarafnya mengirimkan sinyal kenikmatan di seluruh tubuhnya. Desah kenikmatan mereka berdua memenuhi kamar hotel itu. Walaupun kamar hotel itu dilengkapi AC, tapi tubuh mereka berdua mulai berkeringat karena panasnya permainan tabu itu.

Sekitar sepuluh menitan ayah dan anak itu berpacu dalam gairah mereka, Gita merasakan kalau gelombang itu akan datang lagi. Gelombang yang bahkan lebih dashyat daripada saat ayahnya menjilati memeknya tadi.

“Ayaaaahhhh…. aaaaaagghhhh…..”, jerit Gita saat orgasme itu menggulung tubuhnya.

Tubuh belianya menggeliat erotis. Kakinya menggaet pantat Erwin agar penis ayahnya dapat menusuk lebih dalam. Erwin pun tak tahan lagi. Memek Gita begitu luar biasa saat gadis remaja itu orgasme. Dinding vaginanya seakan mengempot dan menghisap penisnya dengan kuat, berusaha memeras sperma dari penisnya.

“Gitaaaa…. ayah dapet oooogghhhh…..”, dengus Erwin sambil menyemprotkan banyak sekali sperma ke dalam rahim anak gadisnya itu.

Lalu tubuh Erwin pun lemas dan menindih anaknya. Setelah puncak kenikmatan itu berlalu, Erwin pun bangkit dan berdiri memandang Gita. Anak gadisnya itu masih terlentang di tempat tidur dan menatapnya sambil bibirnya menyunggingkan senyum puas. Erwin melirik ke arah penisnya yang kini berlumuran cairan kenikmatan anak kandungnya sendiri. Erwin tak melihat ada darah disitu karena Gita sudah kehilangan selaput daranya saat dia jatuh dari sepeda setahun yang lalu. Tapi Erwin yakin dia sudah menjadi orang yang merenggut keperawanan Gita, anak kandungnya sendiri itu dalam arti yang sebenarnya. Sesaat rasa sesal merasuki kepala Erwin. Tapi begitu dia melihat ke arah tubuh Gita yang masih telanjang, rasa sesal itu pun hilang bagai tersapu angin. Penisnya perlahan mulai bangkit lagi, berdiri menantang dengan gagahnya.

Erwin pun lalu naik lagi keranjang itu. Dia menarik tubuh Gita mendekat padanya. Mereka kembali berciuman hangat.

“Ayah sayang banget sama Gita.”, kata Erwin merayu.

“Gita juga sayang sama ayah.”, balas Gita sambil memeluk tubuh ayahnya.

“Aduh… ayah lupa kalo Gita mau minum sperma ayah. Habis memek Gita enak banget sih, ayah jadi lupa deh.”

“Iya, nih. Terus sekarang gimana dong yah?”

“Yaa… apa boleh buat. Kita harus ulangin lagi deh.”

“Ih…. maunya…..”

Ayah dan anak itu tertawa bareng.

Erwin kini setengah terlentang di ranjang, tapi badannya bersandar di bantal yang diberdirikan di kepala ranjang hingga posisinya agak seperti orang duduk. Erwin lalu menyuruh Gita agar duduk di atas tubuhnya sambil menghadap kearahnya. Erwin ingin Gita sekarang yang ada di posisi atas. Erwin mengatur tubuh Gita hingga kini gadis itu mengangkangi tubuhnya dengan posisi penis Erwin tepat berada di pintu liang senggama gadis remaja itu.

“Sekarang kamu turunin badan kamu Git.”, kata Erwin memberi petunjuk.

“Ssttt…. uughhh…..”, desis Gita yang sudah menuruti kata-kata Erwin hingga perlahan memeknya menelan penis Erwin yang mengacung dengan gagahnya.

“Nah sekarang kamu gerakin tubuh kamu na… aaghhh…. ya gitu…..”, desis Erwin saat Gita mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dan bergoyang dengan lincah di pangkuannya.

“Uuughhh…. enaakkk Git… kamu pinter sstt……”, desis Erwin nikmat.

Gita ternyata cepat sekali belajarnya atau mungkin anak gadisnya itu punya bakat alami untuk hal beginian. Goyangannya begitu sensual, memberi Erwin berjuta kenikmatan. Bahkan Erwin merasa kalau goyangan Gita bahkan lebih dashyat dari Lutfi, ibunya.

Gita terus memacu dirinya diatas pangkuan Erwin. Dengan posisi ini, mereka bisa lebih leluasa bercumbu. Kadang mereka berciuman sambil terus memacu birahi mereka. Kadang Erwin menetek di putting payudara Gita yang mungil. Tangan Erwin juga bisa dengan bebas meremas bongkahan pantat Gita. Mereka terus larut dalam permainan tabu itu.

Beberapa menit berpacu dalam birahi, Gita pun tak tahan lagi. Tubuhnya bergerak makin tak beraturan. Desahannya makin keras berpadu denagn suara beradunya tubuh mereka berdua.

“Aaaghhhh…. Gita dapet yahhh……”, desis Gita saat orgasme itu menerpanya kembali.

Memeknya berkontraksi dengan intens. Tapi Erwin mencoba bertahan agar tidak keluar dulu. Dia berjanji untuk memuntahkan spermanya di mulut Gita.

Tubuh Gita pun lemas setelah puncak kenikmatan itu usai. Erwin segera membalikkan tubuh Gita hingga kini gadis itu yang terlentang di ranjang. Erwin menyuruh Gita untuk duduk lalu dia sendiri berdiri dihadapan anaknya hingga kini penisnya persis di hadapan wajah Gita.

“Buka mulut kamu Git.”, perintah Erwin. Gita menurutinya.

Erwin lalu memasukkan penisnya ke mulut mungil itu. Dia menggerakkan pantatnya maju mundur sambil memegangi kepala Gita.

“Hhppp… hmmpp…”, Gita hanya bisa bergumam tak jelas karena perbuatan Erwin itu.

Tak lama kemudian Erwin pun merasa dia juga akan mendapatkan puncak kenikmatannya sendiri. Erwin berusaha memasukkan penisnya lebih dalam ke mulut Gita.

“Terima sperma ayah, Git. Aaahhhh…. telen semua…..”, desis Erwin saat penisnya menyemprotkan banyak sekali mani ke dalam mulut Gita.

Gita hanya bisa bergumam sambil berusaha agar tidak tersedak oleh banyaknya mani yang disemprotkan ayahnya. Sebagian sperma Erwin sampai ada yang merembes keluar dari ujung bibir Gita karena banyaknya.

“Uugghhkk… uughhkk….”, Gita terbatuk saat Erwin melepaskan kepalanya dan mengeluarkan penisnya dari mulutnya.

Gadis remaja itu sempat tersedak dan hampir kehabisan nafas.

“Ka… kamu nggak apa-apa, Git?”, tanya Erwin agak kuatir.

Dia tadi sempat lupa diri sampai tak memperhatikan kondisi Gita.

“Nggak apa-apa kok. Cuma keselek dikit. Sperma ayah banyak banget sih.”, kata Gita.

“Maafin ayah, Git. Wah, kayaknya ayah harus mandi lagi nih. Gita mau ikutan?”, ajak Erwin.

“Oke.”

Ayah dan anak itu lalu mandi bersama. Saat di kamar mandi, gairah Erwin bangkit lagi. Dia pun mengajak anak perempuannya itu bercinta sekali lagi di dalam kamar mandi. Baru setelah Erwin menumpahkan spermanya sekali lagi ke dalam rahim anak kandungnya itu, komposer beken itu merasa dia tak sanggup lagi untuk malam ini.

Setelah mandi, Gita tak lagi kembali kekamarnya. Mereka berdua tidur seranjang sambil berpelukan dengan tubuh polos dan telanjang. Erwin dan Gita pun tertidur karena mereka berdua sudah sangat capek setelah berpacu dengan nafsu mereka.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Keesokan paginya, Gita terbangun. Gadis itu melihat sekeliling dan tak melihat ayahnya dikamar. Gadis itu menemukan secarik kertas diatas meja yang berisikan pesan ayahnya kalo ayahnya harus berangkat dulu ke tempat konser untuk menyiapkan segala hal buat penampilan Gita malam ini.

Gita tersenyum saat ingatan tentang peristiwa malam tadi kembali hinggap di kepalanya. Gadis yang baru beranjak dewasa itu bangkit dari tempat tidur dan meraih handphonenya yang tergeletak diatas meja. Gita pun menggunakan Hp itu untuk menelepon.

Tuut… tuuut… tuut……..

“Halo. Putri?”, kata Gita.

“Iya.. iya…. ini gue. Ada apa Git? Tumben nelpon pagi-pagi.”, balas suara diseberang sana.

Gita tersenyum senang mendengar suara centil Putri Titian, sahabatnya itu. Gita memang sangat akrab dengan artis sinetron remaja yang lagi laris itu.

“He…. he… he… kayaknya loe harus nraktir gue makan malam yang enak di restoran pilihan gue kalo nanti gue udah pulang.”, kata Gita.

“Apa? Kenapa Gue harus…. tunggu.. tunggu.. jangan bilang kalo loe sudah ngelakuin itu?”

“Yap.”

“Ja.. jadi loe udah ML sama bokap loe sendiri?”

“Yap. Dan itu artinya gue yang menang dalam taruhan kita.”

“Jangan bohong loe.”, kata Putri tak percaya.

Gita berjalan menuju ke arah lemari pajangan di kamar hotel ayahnya. Dia lalu mengambil sesuatu dari meja itu.

“Gue nggak bohong. Dan gue punya buktinya.”, kata Gita sambil menenteng handycam yang tadi diambilnya.

Dia mematikan tombolnya karena handycam itu sudah menyala dari kemaren malam dan merekam semua adegan panas yang terjadi dikamar itu kemaren.

“Gila!!! Loe bener-bener gila Git. Loe harus ceritain semuanya ke gue.”, desak Putri.

Gita lalu menceritakan semua kejadian tadi malam secara detail kepada sahabatnya itu lewat telepon.

“Gila! Loe bener-bener gila Git. ML sama bokap sendiri aahh…”, komentar Putri setelah mendengar cerita Gita.

“He… he… he…. dan sekarang loe punya hutang sama gue.”

“Iya.. iya…gue bayar kok. Eh, apa ayahmu nggak curiga kalo loe udah nggak perawan lagi?”

“Nggak. Dia kan tahunya aku sudah kehilangan selaput daraku setahun yang lalu waktu jatuh dari sepeda.”

“Jatuh dari sepeda? Setahun Yang lalu? Bukannya setahun yang lalu itu waktu loe diperkosa sama dua tukang ojek…. oohhh gue ngerti sekarang. Jadi waktu itu loe ngakunya jatuh dari sepeda?”

“Yap. Eh Put, selain hutang makan malam, loe juga hutang satu hal lagi sama gue. Loe janji kalo gue bisa nyobain si Haikal, gebetan loe.”, kata Gita.

Yang dimaksud Gita adalah Haikal Kamil, artis sinetron yang lagi ada hubungan khusus sama Putri Titian.

“Shit!!! Iya deh… loe bisa nyobain si Haikal. Lagian gue yakin Haikal nggak bakalan berubah walaupun nanti dia sudah ML sama loe.”

“He… he… he…. jangan sok yakin. Jarang loe ada cowok yang ketagihan sama memek gue yang sempit.”

“Biarin. Goyangan gue kan lebih yahud daripada loe.”

“Emangnya Inul, goyangannya yahud. Ya udah, kita lihat nanti saja.”

“Oh ya Git. Loe masih berhubungan sama tukang-tukang ojek yang memperkosa loe itu?”

“Udah jarang sih tapi masih bisa gue hubungin. Kenapa emangnya?”

“Loe tahu kan kakak Haikal yang belagu itu. Gayanya yang sok alim itu bikin gue bete banget.”

“Iya, gue tahu. Trus apa hubungannya?”, jawab Gita.

Yang dimaksud sama Putri itu Zaskia Mecca, artis sinetron yang selalu berjilbab dan juga kakak kandung dari Haikal.

“Gue pengen tukang-tukang ojek itu ngerjain Nona Sok Alim itu. Apa mereka bisa ngerubah si Zaskia jadi kecanduan penis kayak yang mereka lakuin ke loe he… he… he…”

“Dasar. Loe kabarin aja gue kapan, ntar gue bantu. Udah ah gue mau mandi dulu. See u.”

“Oke bai bai”

Gita menutup telponnya lalu pergi mandi. Gadis manis itu tersenyum.

“Hhhmmm….. kayaknya hubungan gue sama bokap jadi tambah seru nih. Bokap lumayan juga…. staminanya lumayan kuat walaupun penisnya nggak segede punya Jupri dan Kadir. Tukang ojek itu bener-bener gede banget penisnya.”, pikir Gita.

Dia membayangkan kalo nanti dia dan Putri menjalankan rencana mereka terhadap kakak Haikal, si Zaskia. Pasti seru.

0 komentar:

Poskan Komentar