blog visitors

Minah Sayangku

Kalau aku lagi sepi, aku suka berburu. Bukan berbuuru ke hutan, melainkan berburu ke mall atau pust perbelanjaan lainnya. terutama yang berada di pusat perbelanjaan di pinggiran. Aku tahu, di sana banyak anak-anak ABG yang lagi mejeng sekedar "cuci mata".

Aku rela berlama-lama mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Sampai akhirnya aku ketemu dengan seorang gadis. AKu kira umurnya 16 tahun dan masih kelihatan lugu. Cara berpakaiannya masih sederhana saja. Tidak banyak polesan make up. Dia menjinjing sebuah tas. Memakai sepatu murahan dan bahan pakaiannya juga dari biasa-biasa saja. Aku sengaja mendekat padanya. Dia sangat lesu kelihatannya. Namun wajahnya masih kelihatan polos dan cantik. Mungil tubuhnya dan teteknya paling ukuran 32B.

"Sendirian saja dik?" kataku. Dia menolehku dan tersenyum. Aku juga tersenyum ramah.
"Mari duduk. Kita minum dulu, nampaknya adik ini sudah lesu sekali," kataku. Dia langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan mau aku ajak. Ini dia pikirku.

Aku memsan dua botol coca cola. Lalu aku tawari dia makan KFC. Dia setuju. AKu hiba melihatnya makan begitu lahap. AKhirnya dai mengaku, kalau dia belum makan seharian. Katanya dia berasal dari kota kecil R dan sedang mencari kerja di kota besar ini. Seorang temannya sudah mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, tinggal dia yang belum. Kesempatan pikirku.
"Mau bekerja di tempatku? Kebetulan aku juga sendirian," kataku. Dia langsung gembira.
"Terima kasih mBak. Aku mahu. Tapi aku belum biasa bekerja dan tolong aku diajari dan dinasehati," katanya merendah dan berharap.

Usai makan, kami langsung meningalkan tempat itu. Dia hanya membawa sebuah tas ransel berisi pakaiannya. Kulitnya sawo matang dan bersih. Aku suka kebersihannya dan bibirnya yang mungil. Langsung kami ke area parkir dan menaiki mobil ke rumahku.
AKu tempatkan dia di kamar dekat dapur. Sebagai seorang karyawan swasta, aku memiliki sebuah rumah yang lumayan luas dan sebuah mobil dengan perabotan rumah yang lumayan. Aku suruh dia mandi bersih dan aku berikan dia pakaian dasterku yang lama yang sudah tak bisa kupakai lagi. Dia meerimanya dengan senang hati. Semua pakaian dalamnya dalam keadaan kotor dan dia memakai aster tanpa celana dalam dan bra. Aku tersenyum.
Seusai makan malam, aku mengajaknya menonton TV di ruang tengah. Ruang khususkuuntuk bersantai membaca dan mengerjakan pekerjaanku yang belum selesai di kantor.
Aku sengaja meletakan CD fil;m porno lesbian dari jepang. Asyik menonton TV aku menekan tombol remoute control. Dan mulailah film lesbian itu berputar. Mulanya Minah (bukan nama sebenarnya)malu-malu menontonya. Lama kelamaan dia asyik juga. Kurangkul tengkuknya dan kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Melihat tadi dia memakai pakaian daster tanpa celana dalam dan bra, aku juga memakai daster mini, tanpa celana dalam dan bra.

"Bagus ya film-nya," bisikku ke telinganya. Minah diam saja. Perlahan kuelus-elus pundaknya dengan lembut. Lalu aku meraba teteknya dari luar. Terasa bagiku pentilnya mengeras. Tanganku sebelah lagi mengelus-elus perutnya.
Minah diam sja. Aku tak tahu, apakah dai takut aku usir atau dia sudah horney. Lama kelamaan aku mendengar desah nafasnya sudah tidak beraturan lagi. Ini dia pikirku.

Aku berdiri dan melepas daster miniku. Aku sudah telanjang bulat di depannya. Kutuntun dia berdiri. Dia pun bangkit, tapi matanya masih menatap ke TV. Dengan cepat kuangkat dasternya dari bawah dan mengangkatnya ke atas, melepasnya. Di hadapanku, Minah sudah telanjang bulat, aku juga demikian. Langsung kupeluk dia dan tetekku dan teteknya berlaga. Soft gerakan. Aku memeluknya dan meraba-raba punggungnya.
"mBak..." katanya lirih.
"Tak apa, nanti kamu terbiasa dan enak," kataku merayu. AKu terus menjilati lehernya, membuat dia merasa geli-geli enak. TV terus memutar film lesbian itu.

Aku mendudukkannya di lantai. Di atas karpet, aku memeluknya dan menjilati teteknya. Kueleus tetek yang sebelahnya lagi. Tetek yang besarnya tidak seberapa, tapi sangat kenyal dan kencang. Pentilnya kecil. Terus aku menjilati perutnya, ketiaknya dan sampai ke selangkangannya. Minah mendesah-desah kenikmatan. Dia mulai meremas-remas rambutku. Dia sudah merasakan bagaimana melayang-layang di awang nikmat. Kukangkangkan kedua pahanya dan aku menjilati klitorisnya. Kumasukkan lidahku terus dan menggerak-gerakkannya di dalam memeknya. MInah terus mendesah.

"mBaaaakkkk..."
Kubaliknya tubuhku. Aku terus menjilati memeknya dan kuatur letak memekku ke mulutnya. Dia belumberani menjilati memekku. Tak apa, setidaknya dia sudah mencium aroma indah dari memekku. Saat aku menjilati memeknya, tetekku, kugerak-gerakkan ke perutnya. Lubang memekku, sengaja kegerak-gerakkan ke wajahnya, ke batang hidungnya.
Minah masih perawan. Aku tak akan merusaaknya. Aku terus memberikan jilatan pada klitorisnya. Lendir mengental mulai membasahi lubang memeknya. Bulu-bulu memek yang masih halus dan belum lebat, membuat aku semakin semangat menjilatinya. MInahpun mengepit kedua pahanya ke kepalaku. Kuat sekali, sampai aku sudah bernafas. Dan aroma memeknya semakin meninggi, Ada bau nenas muda bercampur aroma mangga. Lendirnya semakin banyak dan kepitannya semakin kuat. AKu tak perduli, aku terus menjilatinya.
"Maaf mBak...aku pipiiiissss," katanya. Tak perlu dia minta maaf. Aku justru puas menjilati lendir itu di sela-sela memeknya.

Setelah kepitan kedua pahanya merenggang, aku kembali ke antara dua pahanya. AKu dudk dan kubimbing dia duduk du atas kedua pahaku. AKu peluk dia dan menciumi pipi dan lehernya. Kuminta dia mengisap-isap tetekku. MInah mulai mengisapnya dan menjilatinya. Kuminta dia meremas-remas tetekku yang sebelah lagi. Saat itu aku memeluknya kuat dan merapatkan kedua tetekku ke teteknya pula dan aku menciumi lehernya. AKu pun orgasme.

Sejak saat itu, kami selalu melakukan adegan-demi adegan. MInah sudah kuajari pula bagaimana berciuman dan berlaga lidah. Minah sudah pandai mempermainkan klitorisku dengan lidahnya. Aku sekarang sudah memiliki seorang teman di rumahku sendiri. Terkadang dia adalah pembantuku, terkadang dia adalah adikku, sahabatku dan kekasihku. Dua tahun lamanya dia bekerja untukku. Semua gajinya utuh tertabung.

Suatu sore ayah dan ibunya datang ke rumah dan membawa Minah pulang kampung, untuk membantu usaha kedai mereka. Minah pun pulang dalam keadaan perawannya yang tida terganggu. Aku percaya, dia tidak akan mampu melupakan aku, karean dia mendapatka pelajaran seks pertama dariku.
Kini? Entah dimana dia berada.

0 komentar:

Poskan Komentar