blog visitors

Pernikahan Dina -Ranjang Yang Ternoda -8

Ternoda - Hari pernikahan adalah hari yang banyak ditunggu-tunggu oleh pasangan yang saling mencintai. Hampir semua orang yang sedang dilanda asmara akan beranggapan bahwa hari pernikahan adalah sebuah hari besar dimana mereka akan melangkahkan kaki menuju gerbang kebahagiaan yang sejati, dimana mereka bisa merasakan nikmatnya hidup bersama orang yang paling dikasihi untuk selama-lamanya. Hari pernikahan adalah ujung sempurna dari sebuah hubungan asmara.
Sayangnya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang wanita jelita yang bernama Dina Febrianti. Baginya, hari pernikahan adalah bencana.



Esok lusa dia akan menikah.

Pernikahannya yang kedua.

Dengan seorang lelaki idiot yang tidak dia kenal sama sekali.

Dina tidak bisa mengelak dan menolak pernikahan yang telah direncanakan ini. Dia hanya bisa pasrah menghadapinya, sebagaimana ia juga pasrah menghadapi semua masalah yang datang bagaikan badai yang menghantamnya bertubi-tubi. Suaminya sendiri telah pergi dan menjual Dina pada laki-laki lain demi menyelamatkan diri dari hutang yang bertumpuk. Anton adalah laki-laki brengsek dan mungkin saja Dina beruntung telah berpisah dengannya. Kadang Dina heran pada dirinya sendiri, bagaimana dia bisa bertahan menghadapi semua masalah ini? Kalau saja tidak ingat pada anak-anaknya yang masih kecil Dina pasti sudah bunuh diri sejak pertama kali dia disetubuhi Pak Pramono yang bejat itu.

Dina hanya bisa pasrah menghadapi semua masalah ini. Yang akan terjadi terjadilah. Suatu saat kelak, keadaan pasti akan menjadi lebih baik.

Wanita jelita itu memperhatikan pantulan dirinya pada cermin yang terdapat di kamarnya yang besar. Usianya memang sudah lebih dari 30, tapi wajah dan tubuhnya masih bisa bersaing dengan remaja belasan tahun. Dina masih cantik dan masih tetap seksi. Lekukan tubuhnya yang matang sangat menggiurkan bagi seorang pria normal, wajahnya yang cantik namun tidak membosankan menimbulkan kesan mendalam bagi mata yang memandang, kulitnya putih bagaikan pualam, tubuhnya harum bagaikan bunga, rambutnya yang sebahu menambah aksen kedewasaan yang lembut yang didamba seorang pria. Dina adalah seorang wanita yang mendekati kata ‘sempurna’.

Walaupun tidak telanjang, keindahan tubuh Dina masih terlihat jelas di cermin. Dina tidak tahu apakah dia harus berterima kasih ataukah malah mengutuk semua karunia ini. Apakah kecantikan dan keseksiannya merupakan anugerah atau justru kutukan? Saat ini Dina sedang mencoba baju pengantin yang akan ia pakai esok lusa. Ia mengenakan baju berwarna putih tulang yang sangat indah dan cantik.

Gaun putih yang diberikan oleh Pak Bambang sebagai baju pengantin sangat pas ia pakai, selain menampilkan lekuk tubuhnya yang indah, Dina makin terlihat bercahaya jika mengenakannya, pas sekali dengan warna kulitnya yang seputih pualam. Dengan baju indah yang tentunya harganya sangat mahal ini Dina bisa memamerkan pundaknya yang halus putih mulus, leher yang sempurna dan belahan dada yang aduhai. Dia pasti terlihat sangat cantik dengan baju pengantin ini, jauh lebih cantik dari saat dia pertama kali menikah dulu.

Sungguh sayang, dia akan menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai calon suaminya kalau bertemu saja belum pernah?

Walaupun terpaksa mencoba baju pengantin, tapi Dina tak bisa memungkiri kalau baju yang sedang ia pakai sangatlah indah. Bahannya halus dan nyaman digunakan, harganya sudah pasti sangat mahal. Berulang kali Dina melenggak-lenggokkan badan di depan cermin. Karena asyik mencoba baju seperti layaknya seorang calon pengantin baru, perlahan-lahan Dina lupa kalau esok lusa dia akan dinikahkan paksa dengan putra Pak Bambang yang idiot. Pak Bambang memang hebat, dia bisa tahu pasti pakaian pengantin mana yang bagus dikenakan Dina tanpa perlu memastikan ukurannya. Baju tersebut membuat kemolekan tubuh mulus Dina makin bercahaya, seperti seorang bidadari. Selayaknya seorang wanita yang menggemari baju bagus, Dina menyukai gaun pengantinnya.

Kamar yang saat ini digunakan Dina berada di lantai atas villa raksasa milik keluarga Pak Bambang, letaknya jauh di luar kota. Dina tidak tahu dengan pasti di mana mereka sebenarnya berada karena Pak Bambang masih merahasiakannya, Dina hanya tahu mereka berada jauh di luar kota dan berada di lokasi yang asing baginya. Agaknya Pak Bambang masih takut Dina akan ketakutan dan melarikan diri dari pernikahannya nanti. Selain melarang Dina menggunakan telepon dan melarangnya keluar villa, kakek tua itu juga membatasi pertemuan Dina dengan anak-anaknya. Mereka hanya bertemu beberapa jam saja perhari. Pak Bambang sengaja membatasi pertemuan itu agar Dina tahu pasti, nasibnya dan nasib anak-anak berada di tangan laki-laki tua itu. Sesudah pernikahannya dengan putra Pak Bambang, barulah Dina bebas menemui anak-anaknya lagi. Anak-anak Dina dijadikan jaminan supaya Dina tetap menurut kepadanya.

Terlalu asyik melamun dan mengamati dirinya sendiri di cermin membuat Dina terlena dan lengah. Dia tidak menyadari ada sesosok laki-laki tua masuk ke dalam kamarnya.

“Cantik.”

Ungkapan kagum Pak Bambang membuat Dina kaget, ia terhenyak dan mundur ke belakang.

“Kamu cantik sekali. Aku puas punya menantu seperti kamu.” Wajah Pak Bambang yang sudah terbakar nafsu birahi membuat Dina bergidik ketakutan. Saat masih menjadi boneka Pak Pram saja kakek tua ini dengan mudah bisa menidurinya, apalagi sekarang saat mereka tinggal serumah. “Kalau nanti si Dudung absen meniduri istri barunya, Bapak bersedia mengambil alih pekerjaan itu. Mempercepat memperoleh keturunan.” Katanya sambil terkekeh-kekeh.

“Ma-maaf… tapi saya sedang tidak ingin diganggu, bisa Bapak keluar dulu sementara saya berganti…?” Belum sempat Dina melanjutkan, Pak Bambang sudah maju ke depan mendekatinya. Kepala Dina menunduk takluk, ia tidak berani melawan kakek cabul ini.

“Aku tidak akan mengganggumu bersolek.”

“Saya hanya sedang mencoba baju, bukan bersolek…”

“Bagus! Itu artinya kamu sudah siap menikah dengan anakku esok lusa, kamu sudah sadar dan menerima siapa kamu serta apa posisimu sekarang. Jujur saja, aku akan jauh lebih lega kalau kamu akhirnya dapat menikmati hidup bersama anakku, Dudung.” Kata Pak Bambang. “Tapi kalau melihatmu dengan baju itu, sayang sekali rasanya harus memberikanmu pada Dudung… kamu terlihat sangat cantik dengan baju pengantin.”

“Terima kasih atas pujiannya, tapi…”

“Tidak perlu takut seperti itu, aku tidak akan menyentuhmu hari ini. Aku masih lelah. Kecapekan gara-gara kemarin sore meniduri sekretarisku yang baru. Aku tidak ingin penyakit punggungku kumat gara-gara kebanyakan meniduri wanita cantik yang mengantri, walaupun harus kuakui, tubuhmu yang indah itu benar-benar menggiurkan.” Kata Pak Bambang sambil menjilat bibirnya.

Dina mengeluarkan nafas lega, sepertinya dia selamat kali ini.

“Tapi tidak ada salahnya kalau kamu ingin memuaskan calon ayah mertuamu dengan seponganmu yang nikmat itu.” lanjut Pak Bambang. Dina yang tadinya sudah lega kini menunduk kesal dan mengumpat, sekali bejat ternyata tetap bejat, dasar laki-laki tua busuk! Melihat Dina kesal, Pak Bambang tersenyum puas dan kembali menambahi. “Sangat tidak sopan kalau kamu tidak menyuguhkan hidangan yang menarik untuk calon mertuamu, kan, Mbak Dina?”

Dina mengangguk sambil menggemeretakkan gigi menahan jengkel.

Pak Bambang duduk dengan jumawa di tepi ranjang Dina. pria tua itu lalu membuka celananya dan mengeluarkan kemaluannya dari dalam celana dalam tanpa rasa risih sedikitpun. “Dihisap-hisap sedikit saja.” Katanya sambil menyunggingkan senyum tanpa dosa. “Seperti biasanya.”

Senyuman yang sangat menjijikkan dan membuat harga diri Dina jatuh ke dasar lantai terbawah. Si cantik itu terhina sekali namun tak bisa melakukan apa-apa, dia harus melakukan apapun yang diminta Pak Bambang.

“Kamu punya wajah yang sangat cantik,” kata Pak Bambang, “bibir yang indah…”

Dina tidak ingin mendengar kata-kata gombal dari kakek tua itu lebih panjang lagi, dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan langkah pelan ibu muda yang cantik itu berjongkok di hadapan calon ayah mertuanya, perut Pak Bambang yang gemuk menggelambir membuat Dina muak, tapi dia harus menahan diri agar tidak muntah di hadapannya. Pria tua itu sendiri kegirangan melihat Dina sudah siap mengulum kemaluannya.

Dengan jari jemari lentik yang terawat rapi Dina mengangkat kantong kemaluan Pak Bambang dan memainkannya dengan lembut. Ketika tangan kirinya sibuk mengelus kantung Pak Bambang, tangan kanan Dina mengangkat batang kemaluannya. Jari jemari Dina yang sangat halus dan lembut membuat kakek tua itu harus menggigit bibir agar bisa menahan nafsunya yang menggelegak. Baru dipegang saja sudah nafsuin, apalagi nanti kalau sudah masuk ke mulutnya…

Wajah Dina kian mendekati penis Pak Bambang, entah kenapa makin lama dia semakin ingin mengulum kemaluan laki-laki tua itu. Dia malu pada dirinya sendiri karena tak mampu mempertahankan harga diri dan lemah pada nafsu birahi yang selama ini telah dilatih dan dibangkitkan oleh Pak Pramono. Kemaluan Pak Bambang tidak menarik, keriput dan terlihat tua, tapi seperti apapun bentuk penis Pak Bambang, Dina mau tidak mau harus menikmatinya.

Pak Bambang terus mengamati wajah cantik dan jari-jari lembut yang kini memegang alat vitalnya. Wajah Dina yang segar dan sangat cantik membuat laki-laki tua itu hampir-hampir tak tahan.

Dina melirik ke atas, menatap wajah Pak Bambang yang diselimuti nafsu birahi. Wajah laki-laki tua itu berkeringat deras, matanya terbelalak tajam seakan hendak keluar dari wajahnya dan air liur menetes pelan dari ujung mulutnya. Dina tahu pasti, wajah yang sedang menatapnya bukanlah wajah yang tampan, wajah itu adalah wajah seorang kakek tua bejat yang penuh nafsu dan berkuasa penuh atas dirinya.

Mulut Dina terbuka, lidahnya keluar dan dengan lembut ia menjilat bagian bawah batang kemaluan keriput milik Pak Bambang. Kakek tua itu bergetar karena nikmat yang ia rasakan. Ia menatap tajam mata indah milik Dina ketika ibu muda dua anak itu mulai memasukkan ujung gundul kemaluan Pak Bambang ke dalam mulutnya yang mungil dan perlahan menghisapnya.

“AAARRGHH!!!” teriak Pak Bambang. Kakek tua itu tak mampu menahan dirinya lagi, ia merasa tubuhnya melayang dan melambung tinggi ke awan, ia merasa dirinya bagaikan raja yang sedang dilayani oleh hambanya. Rasa nikmat yang ia rasakan tak terucapkan, penis tuanya yang lelah masih bisa diperlakukan dengan lembut oleh wanita terhormat seperti Dina. Pak Bambang memejamkan mata ketika lidah Dina mulai berputar di ujung kemaluannya.

Pak Bambang memang sering bermain cinta dengan wanita muda, dengan istri atau bahkan dengan anak gadis orang. Tapi nikmat yang ia rasakan tidak setulus ini, kelembutan wanita dewasa yang anggun seperti Dina membuat Pak Bambang merasakan nikmat yang luar biasa. Sementara bibir Dina terus bergerak mengulum dan lidahnya menjilat, Pak Bambang mengelus rambut indah Dina yang lurus sebahu dengan jari jemarinya yang gemuk. Kedua tangan Pak Bambang lama kelamaan menjepit kepala Dina dan menyorongkannya maju mundur seiring gerak hisapan si cantik itu. Dina tak melawan sedikitpun. Pak Bambang mulai menggerakkan kepala Dina dengan cepat, mendorong kemaluannya masuk ke kerongkongan ibu muda yang jelita itu dan menariknya keluar, lalu mendorong masuk lagi secepatnya. Kakek tua itu melakukannya berulang dan semakin lama semakin cepat. Ia sangat menikmati kuluman bibir mungil Dina.

“Arrrggghhhh, …enaknyaaaa!!” kata Pak Bambang yang mulai kehilangan kontrol.

Dina tetap meneruskan sepongannya sementara Pak Bambang menggerakkan pinggulnya agar bisa melesakkan penisnya dalam-dalam ke mulut Dina. Jepitan tangan Pak Bambang di kepala Dina makin rapat dan dorongannya makin dalam, hal itu membuat Dina terbatuk-batuk.

“Aaaaggghh, aku mau keluar! Di dalam mulutmu! Aku mau keluarin di dalam mulutmu!” kata-kata itu diucapkan Pak Bambang sambil memejamkan mata dan menggemeretakkan gigi. “Yaaaaa!! Yaaaaaaaaaa…!!! Ahhhhhhhh!!!”

Tanpa basa-basi, kontol Pak Bambang menyemprotkan cairan kental ke dalam kerongkongan Dina seperti keran bocor. Dina harus berusaha menelan air mani kakek tua itu agar tidak tersedak. Semprotan kontol keriput itu hanya berlangsung beberapa detik, tidak terlalu lama dan tidak banyak.

Pak Bambang mengangkat kepala Dina agar wajah si cantik itu menatapnya. “Kamu cantik. Sungguh sangat cantik.” Pak Bambang tak pernah bisa menahan diri di hadapan wanita anggun yang jelita ini. Setelah tetesan terakhir mani kakek tua itu turun, Pak Bambang menarik kontolnya dari mulut Dina. Mulutnya tersenyum penuh kepuasan.

Dina berdiri dengan goyah, ia meneguk semua mani Pak Bambang agar tertelan ke perut, hanya itulah satu-satunya cara agar tidak tersedak. Tanpa menunggu Pak Bambang yang masih dibuai kenikmatan, Dina berjalan ke arah kamar mandi. Dia ingin berkumur dan membersihkan mulutnya yang kotor oleh penis peyot si kakek tua bejat. Pak Bambang mengawasi Dina yang melangkah pelan ke kamar mandi. Pantatnya yang bulat dan buah dadanya yang kenyal membuatnya meneguk ludah. Alangkah senangnya dia bisa memperoleh menantu seperti Dina yang bisa dipakai kapanpun dia mau.

Pak Bambang tertawa penuh kemenangan.

###

Hari sudah semakin siang, jam dinding di ruang tamu sudah berdentang sepuluh kali. Piring sarapan sudah dibersihkan oleh para pembantu, menyisakan beberapa buah gelas bersih dan satu pitcher minuman sari jeruk serta satu botol air putih mineral. Dina masih duduk bermalas-malasan di balkon ‘rumah’ barunya. Rumah yang kini ia tempati sangat besar dan mewah, mirip rumah-rumah yang sering ditampilkan di sinetron-sinetron lokal. Belum pernah seumur hidupnya ia membayangkan bisa tinggal di rumah sebesar ini, tapi apakah pantas semua ini ia raih? Apakah pantas semua ia dapatkan? Apakah pantas ia memperoleh semua ini dengan mengorbankan tubuhnya?

Dina mengelus bibirnya pelan, masih terasa di mulutnya – air mani Pak Bambang yang meleleh membasahi bibir dan pipinya. Walaupun baru kemarin ia melakukan oral seks dengan kakek tua bejat itu, tapi sampai sekarang ia tidak bisa melupakannya. Masih bisa dirasakannya penis keriput Pak Bambang keluar masuk mulutnya.

Dina memejamkan mata, mencoba menghapus semua kenangan buruk yang mengganggunya. Ia kehilangan cinta, ia kehilangan martabat, ia kehilangan harga diri, tapi demi kedua anaknya yang masih kecil, Dina tidak mau kehilangan kewarasannya. Entah di mana, entah kapan, Dina yakin, masih ada harapan.

Terdengar ketukan pelan di pintu kaca balkon, salah seorang pembantu menemui Dina dengan langkah tertahan. Gadis yang manis dan masih sangat muda, mungkin berasal dari desa. Dia berusaha sopan saat menemui Dina.

“Maaf, Bu. Tapi Pak Bambang ingin mengajak Ibu makan di ruang makan. Beliau juga berpesan agar Ibu mengenakan baju yang sudah disiapkan.” Kata sang pembantu.

Dina mengeluh kesal, mau apa lagi kakek tua itu sekarang? Dengan malas Dina masuk ke dalam kamar dan melihat baju yang sudah disiapkan oleh Pak Bambang tergeletak di atas ranjang. Ia sudah menduga kakek tua cabul itu memberikan baju yang sangat seksi. Baju yang diberikan Pak Bambang berupa rok terusan yang sangat ketat bila dikenakan. Ujung bagian bawah hanya bisa menutupi sampai ke paha, sehingga seandainya Dina membungkuk atau duduk maka selangkangannya akan terlihat jelas. Sementara itu atasan baju menutup dada agak rendah, baju ini tidak cocok dipakai dengan BH, karena memang difungsikan untuk mempertontonkan belahan sekaligus memamerkan kemolekan buah dada Dina. Baju yang sangat seksi dan merangsang, bukan baju yang pantas dipakai seorang ibu rumah tangga.

Sambil mendesah kesal Dina mengenakan baju pemberian Pak Bambang.

Dina melangkahkan kakinya dengan berat hati ke ruangan yang dimaksud sang pembantu. Ruangan itu berada di ujung villa, di lantai bawah. Saat Dina melangkah anggun menuruni tangga, beberapa orang pembantu Pak Bambang yang sedang membersihkan ruang tengah berdecak kagum melihat kemolekannya. Mereka tahu Dina cantik, tapi mereka kini jauh lebih kagum melihat keseksiannya. Ibu muda itu cukup pantas kalau berprofesi sebagai artis sinetron atau model pakaian dalam.

Dina membuka pintu ruang makan, melangkah masuk dan menutupnya kembali.

“Ah. Dina! Akhirnya datang juga!” sambut Pak Bambang dengan gembira.

Sambutan itu agak di luar dugaan Dina. Biasanya Pak Bambang jauh lebih tenang dan cool. Ia tidak mengira laki-laki tua itu akan menunjukkan perangai yang seperti ini.

“Ada perlu dengan saya, Pak?” tanya Dina sopan.

Pak Bambang mengayunkan tangan meminta Dina mendekat. Dengan langkah perlahan wanita cantik itu mendekati sang kakek tua. Ia melihat seorang laki-laki muda duduk di samping Pak Bambang.

“Perkenalkan. Ini Dudung, anak saya.” Senyum Pak Bambang terkembang. “Calon suami kamu.”

Dina terperangah.

###

Dudung Haryanto adalah putra Pak Bambang Haryanto. Banyak yang tidak menyangka kalau orang cerdas dan licik seperti Pak Bambang memiliki anak idiot seperti Dudung. Walaupun keberadaannya disembunyikan di sebuah tempat terpencil seperti villa yang kini ditempati pula oleh Dina, tapi sebenarnya Pak Bambang sangat menyayangi putranya ini. Pak Bambang bahkan ‘membeli’ Dina untuk disandingkan dengan Dudung walaupun wanita cantik itu juga menjadi obyek pemuasan nafsu birahinya.

Saat berhadapan dengan Dina, Dudung tidak berani menatapnya langsung, pemuda itu hanya menunduk malu tanpa berani sedikitpun mengangkat kepala. Walaupun kecantikan dan keseksian Dina membuat kejantanannya bergolak dan membuatnya melirik sedikit demi sedikit.

“Dina,” kata Pak Bambang sedikit ketus, wajahnya terlihat sangat serius, “cepat beri salam pada calon suamimu.”

Dina mendekati Dudung dan membungkuk sambil menawarkan jabat tangan. “Saya Dina.”

Dudung malah berbalik dan menjauhi Dina, ia tidak membalas jabat tangan ataupun salam perkenalan Dina. Dudung membungkuk sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas dan sangat pelan.

Pak Bambang tersenyum lembut sambil mendekati anaknya yang menggumam tidak karuan. “Dudung, ini Dina. Calon istri kamu.”

Dudung masih tidak bereaksi.

“Dudung, ini Dina. Calon istri kamu. Cantik tidak?” ulang Pak Bambang.

Dudung masih terdiam.

“Dudung…”

“Ca-ca-cantik sekali.” Tiba-tiba saja Dudung menjawab. Kata-katanya terdengar berat dan terpatah-patah.

Walaupun begitu, tidak ada perubahan posisi, Dudung masih membungkuk dan menghindari bertatapan langsung dengan Dina yang berdiri di belakangnya.

Dudung bertubuh sedang, dengan rambut panjang yang acak-acakan. Wajahnya tersembunyi di balik rambut, namun Dina bisa melihat kalau Dudung adalah versi muda dari Pak Bambang. Keduanya mirip sekali! Hanya saja kalau Pak Bambang sangat gemuk, Dudung biasa-biasa saja. Yang jelas, Dudung bukanlah orang yang tampan. Tubuhnya membungkuk seperti udang dan gayanya berpakaian sangat aneh, seperti anak-anak. Kalau dilihat-lihat, mungkin Dudung dan Dina sebaya.

“Dudung?” tanya Pak Bambang sekali lagi.

Dudung kembali terdiam tak menjawab.

Pak Bambang berdiri, lalu menggandeng Dina mendekati Dudung. Ibu muda yang cantik itu masih belum tahu apa yang diinginkan Pak Bambang, tapi tiba-tiba saja… Pak Bambang menarik tangan Dudung dan meletakkannya di payudara Dina!

Dina menjerit lirih karena kaget.

Secara reflek Dina ingin melepaskan tangan Dudung dari dadanya, namun ketika dia hendak menepis tangan lelaki idiot itu, Pak Bambang menatapnya galak. Dina terpaksa menurut. Sial sekali… buah dadanya harus dikorbankan untuk menarik perhatian Dudung!

Pada awalnya Dudung tersentak, ia kaget dan menarik tangannya saat ditempelkan ke payudara Dina, apalagi si cantik itu tidak mengenakan bra sehingga tangannya bisa langsung merasakan lekuk keindahan buah dada Dina. Tapi ketika Pak Bambang mengulangi aksinya, Dudung tidak menolak. Walaupun masih malu dan tidak mau memandang ke arah Dina, tapi tangannya meremas dan menelusuri buah dada Dina yang kenyal dengan liar.

“Ungghhh…” Dina mendesah. Ada perasaan campur aduk dalam dirinya, antara sakit secara fisik dan bergairah secara khayal.

“Bagaimana, Dudung? Enak tidak?” tanya Pak Bambang pada anaknya yang masih malu-malu.

Dudung belum menjawab, tapi butiran keringat mulai deras membasahi wajahnya. Laki-laki dewasa yang masih seperti anak kecil itu kebingungan harus menjawab apa. Untuk sesaat Dina merasa kasihan pada Dudung, dia hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya yang bejat. Dudung tidak punya pendirian, harus selalu dibimbing.

“E-enak…” tiba-tiba saja Dudung menjawab.

Pak Bambang dengan kasar menarik dan membuka baju Dina, kedua balon buah dadanya kini terpampang dengan jelas di depan kedua lelaki itu. Dina menjerit ketakutan, tapi remasan tangan Pak Bambang di pergelangan tangannya membuat si cantik itu bungkam. Pak Bambang mendekati Dina dan membisikkan sesuatu ke telinganya.

Dina berbicara dengan nada bergetar. “D-Dudung… i-ini susu saya…”

Tiba-tiba saja Dudung berbalik! Cukup cepat bahkan, sampai-sampai Dina kaget dibuatnya. Kedua tangan Dudung langsung beraksi, meremas, memilin dan memutar-mutar buah dada Dina dengan liar. Kali ini Dudung beraksi tanpa bimbingan ayahnya dan tanpa rasa malu.

“E-enak… susu…” kata Dudung sambil menyeringai bahagia. “Susu… susu…”

Tanpa basa-basi Dudung nyosor ke dada Dina, menangkup puting susu Dina dengan mulutnya. Dengan buas, Dudung menyedot-nyedot pentil payudara Dina yang kuncup. Kelakuan Dudung persis seperti seorang bayi yang menetek pada bundanya.

“Aaaahh!!” Tubuh Dina bergetar, rasa nikmat dan geli membuatnya gelisah, enak sekali pentilnya dikulum-kulum laki-laki berbibir monyong seperti Dudung. Ukuran bibirnya yang besar membuat payudaranya seperti dioles oleh sepon besar basah yang mengitari balon buah dadanya. Entah harus senang atau malah risih, membingungkan Dina. Ia tidak ingin terlena oleh orang seperti Dudung, tapi ini enak sekali.

Tangan Dudung yang besar masih tak terhentikan, meremas dan memilin buah dada Dina sebelah kanan sementara mulutnya nyosor kesana kemari di dada kiri. Pak Bambang duduk di kursi yang agak jauh dan membiarkan anaknya menikmati keindahan payudara ibu muda yang cantik itu. Ini bukan pertama kalinya buah dada Dina menjadi sasaran laki-laki asing, namun entah kenapa Dina tidak ingin menghentikan Dudung menikmati tubuhnya. Entah kenapa pula Dudung bersikap sangat agresif sekaligus kebingungan, gerakannya patah-patah dan ragu-ragu, seperti seorang laki-laki penuh nafsu yang baru pertama kalinya mengenal payudara wanita.

Dudung menggerakkan bibirnya berputar liar di sekitar pentil susu Dina, lalu menangkupnya berulang, menghisap kenikmatan erotis yang diberikan oleh buah dada ibu muda yang cantik itu. Tangan Dudung tidak tinggal diam, bergerak bebas menyusuri perut dan pinggang Dina, menambah sensasi erotis bagi mereka berdua. Dina hanya bisa mendesah-desah menahan perasaannya. Ia menutup mata sambil menggigit bibir bawah untuk mempertahankan diri.

Sayangnya lama kelamaan Dudung berubah menjadi semakin buas, sedotan bibirnya pada payudara Dina mengencang dan menguat, cenderung menggigit. Karena gemas, Dudung juga mencubit puting dan meremas buah dada Dina kuat-kuat, tentu saja rasanya sakit sekali.

Dina berusaha bertahan, tapi ketika Dudung menggigit puting payudaranya, wanita cantik itu tak kuat lagi, ia menjerit kesakitan. “Aaaaahhh!!”

Rasa sakitnya tak tertahankan, gigitan Dudung meninggalkan bekas memerah di sekitar pentil Dina. Karena kaget mendengarkan teriakan Dina, Dudung melepaskan gigitannya dan melompat mundur.

“Maaf! Maaf! Maaf! Maaf!” ulang Dudung berulang-ulang, wajahnya ketakutan sekali.

“Ti-tidak apa-apa…” Dina berusaha meraih Dudung yang ketakutan, ia khawatir Pak Bambang akan tersinggung melihat Dudung ketakutan seperti ini.

Benar saja, pria tua itu bangkit dari kursinya dan mendekati Dina dengan penuh amarah.

PLAAKK!!

Pipi kanan Dina memerah karena tamparan keras Pak Bambang. Wajah pria tua itu berubah sadis, rahangnya mengeras. “Dengar baik-baik, pelacur brengsek! Aku tidak peduli sekalipun pentilmu itu putus digigit anakku! Pokoknya apapun yang dia mau, bagaimanapun caranya, harus kamu berikan! Mengerti?! Jangan sekali-sekali membuat dia kaget atau takut!”

“Tapi… tapi…” Air mata Dina mengalir, ia menutup dadanya yang telanjang dan menggigil ketakutan.

“TIDAK ADA TAPI!” bentak Pak Bambang. Tangannya sudah diangkat, bersiap menampar sekali lagi.

“Ja-jangan!”

Pak Bambang dan Dina sama-sama terkejut. Belum sampai Pak Bambang menampar Dina, Dudung sudah menahan tangan sang ayah. Rupanya ia tidak ingin Pak Bambang menyakiti Dina.

“Jangan. Jangan. Jangan…” Dudung menggelengkan kepala berulang kali. “Jahat. Jahat…”

Pak Bambang menurunkan tangannya dan mendesah, ia mengeluarkan nafas panjang dengan berat hati. Tangannya yang gemuk membelai rambut Dudung dengan penuh rasa sayang. Wajahnya berubah menjadi lembut. Dina akhirnya mengeluarkan nafas lega, dengan takut-takut ia meninggalkan Pak Bambang dan Dudung berdua di ruang itu. Beruntung, keduanya tidak mempedulikan kepergian Dina. Ibu muda yang cantik itu segera lari ke kamarnya yang berada di atas.

Dina hanya bisa menangis.

###

Dina tidak ingin hari pernikahannya tiba, tapi tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa menghentikan atau memutar waktu. Mau tidak mau, terpaksa atau tidak, hari ini, dia akan menikah dengan Dudung.

Awalnya Dina takut dan kecewa setelah melihat penampilan Dudung yang kurang mengesankan, tapi kebaikan hatinya mengagetkan Dina. Ia menghentikan Pak Bambang sebelum ia menampar Dina, itu membuktikan walaupun Dudung bodoh dan idiot, ia bukanlah orang yang jahat. Ada sedikit rasa tenang di batin Dina, kalaupun ia terpaksa menikahi seorang lelaki idiot, setidaknya ia menikah dengan orang idiot yang baik.

“Bagaimana, Mbak Dina? Sudah?”

Dina tersadar dari lamunannya. Ia sedang berada di kamar dan sedang dirias oleh penata rias pilihan Pak Bambang, wajahnya kini terlihat sangat cantik, ia bagaikan seorang artis yang sedang melakukan pernikahan di sinetron atau film, cantik sekali. Seandainya nanti sudah dipadu dengan gaun pengantin yang indah dan mewah, Dina akan tampil sempurna bagaikan seorang ratu.

“Bagaimana menurut Mbak Dina, sudah cukup riasannya?” tanya penata rias itu untuk kedua kalinya.

“I-Iya… sudah…” jawab Dina sambil memperhatikan dirinya di dalam cermin. “Terima kasih.”

“Mbak Dina ini cantik sekali, jadi saya tidak perlu mendandani terlalu berlebihan, semua riasan saya hanya untuk memperjelas kecantikan Mbak Dina saja.” Kata penata rias itu lagi, sedikit terlalu cerewet. “Saya iri sekali, bisa-bisanya Mbak Dina punya kulit yang halus, wajah cantik dan rambut yang sesempurna ini. Wah, kalau saya, bukannya Mas Dudung, saya lebih pilih bintang sinetron, penyanyi band terkenal atau pengusaha kelas atas sebagai suami saya, Mbak. Ah, tapi itu kan saya ya… bukan Mbak Dina. Nah, sekarang… kita pakai gaun pengantinnya, ya?”

Dina hanya bisa tersenyum lemas mendengar komentar jujur dari sang penata rias, seandainya bisa memilih, ia tidak akan memilih Dudung.

Sebelum gaun dipakai, tiba-tiba saja pintu kamar Dina terbuka dan sosok seorang lelaki tua yang gemuk masuk ke dalam. Rupanya Pak Bambang yang datang, entah apa maunya. “Kalian sudah selesai?”

Sang penata rias mengangguk dan menghampiri Pak Bambang. “Sudah, Pak. Hanya tinggal menata rambut dan memakaikan gaunnya saja. Mbak Dina ini cantik sekali, jadi riasan saya cukup sekedarnya, wajahnya sudah sempurna dan…”

“Ya sudah, kamu keluar dulu sana, saya ingin bicara dengan Dina.” kata Pak Bambang ketus. Mata lelaki tua itu melirik ke arah beberapa orang asisten sang penata rias, ia membuka pintu lebar-lebar, menyuruh mereka semua keluar. “Saya ingin bicara dengannya sendiri. Nanti kalau sudah selesai, kalian boleh masuk lagi.”

Tak perlu diminta untuk kedua kalinya, sang penata rias dan asistennya berbondong-bondong pergi ke luar meninggalkan Pak Bambang dan calon menantunya di dalam kamar. Mereka semua takut pada pria tua yang sangat kaya dan berkuasa ini.

Dina berpura-pura membenahi bedak di wajahnya untuk menghindari bertatapan mata langsung dengan Pak Bambang.

“Dina.” panggil Pak Bambang.

Dina menengok ke arah Pak Bambang dengan malas. “Ya?”

“Sebentar lagi kamu akan menikah dengan anakku, ijinkan aku mencicipimu untuk yang terakhir kali sebelum kamu menikah.”

Mata Dina terbelalak kaget.

“Angkat rokmu tinggi-tinggi dan buka celana dalammu, ini tidak akan lama.”

Tubuh Dina bergetar ketakutan. Sekarang? Bandot tua ini hendak menyetubuhinya sekarang? Beberapa jam sebelum pernikahan dengan anaknya dimulai?

“Buka!” Pak Bambang maju mendekati Dina yang ketakutan.

Ibu muda yang cantik itu kebingungan mencari beribu alasan, tapi mulutnya tercekat, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.

Apa yang harus dilakukannya? Sebentar lagi dia akan menikah!

###

Tempat pernikahan telah tertata, Dudung duduk sendiri di tengah ruangan. Beberapa orang saudara mengitarinya dan menyiapkan tempat duduk.

Dudung melihat ke arah jam tangannya berulang-ulang kali, ia gelisah sekali, mana ayahnya? Kenapa tidak turun-turun? Ia tidak suka kalau ada banyak orang yang mengerumuninya seperti sekarang ini, ia tidak suka. Mana ayahnya? Dudung menggerakkan kerah bajunya dengan sebal. Baju ini tidak enak dipakai, terlalu ketat, terlalu panas, ia tidak suka. Ia ingin pakai kaos saja. Mana ayahnya?

Dua orang pembantu yang kebetulan berada di dekat Dudung saling berbisik.

“Mana Pak Bambang? Mas Dudung sudah gelisah tuh.”

“Katanya sih tadi ke atas, nyari Mbak Dina.”

“Nyari Mbak Dina? Bukannya Mbak Dina baru dandan juga? Emang Pak Bambang mau
ngapain?”

“Ngapain lagi coba? Ya pengen itu…”

“Astaga! Sekarang?”

“Iya. Sekarang.”

“Gila. Bener-bener gila. Kasihan sekali Mbak Dina.”

Hubungan Dina dan Pak Bambang memang sudah menjadi rahasia umum, terutama di kalangan karyawan-karyawan kakek tua itu. Kebanyakan dari mereka menyayangkan kemolekan Dina yang tersia-sia karena harus melayani bandot tua seperti Pak Bambang. Hampir semua karyawan bersimpati pada Dina.

###

Keringat Dina bercucuran, bola matanya yang indah berulang kali mengawasi jam dinding yang berdetak pelan di atas dinding.

“Ja-jangan lama-lama…” bisik Dina. “Ki-kita sudah ditunggu… ah!”

Pak Bambang tidak menanggapi kata-kata Dina, ia putar tubuh calon menantunya itu agar menghadap ke arah dinding dan membelakanginya. Dengan gerakan ringan laki-laki tua yang sudah dilanda nafsu syahwat itu mengangkat rok Dina, lalu menarik celana dalamnya tanpa basa-basi. Celana dalam Dina yang mungil merosot ke bawah melewati kakinya yang jenjang dan indah. Pantat bulatnya yang putih kini tinggi menantang sang pria tua.

“Ja-jangan…” desah Dina lagi.

“Jangan apa?” kali ini Pak Bambang menanggapi dengan nada ketus. Pria tua itu sedang melucuti celananya sambil menikmati keindahan bibir kemaluan Dina yang terlihat jelas di selangkangan sang calon menantu. “Buka kakimu lebar-lebar!”

Dengan gerakan patah-patah dan gelisah, Dina membuka kakinya. Tubuhnya bergetar, sebagian karena takut, sebagian lagi mengantisipasi kalau-kalau Pak Bambang melesakkan kemaluannya tanpa pemanasan.

“Jangan apa?” ulang Pak Bambang.

“Ti-tidak…” Dina menggelengkan kepala dengan takut.

“Buka kakimu! Lebih lebar!”

Karena takut, tanpa sadar Dina malah menutup kaki dan mengunci selangkangannya. Hal ini tentu saja membuat Pak Bambang jengkel. Dia menampar pipi pantat Dina keras-keras!

PLAKK!! PLAKKK!! PLAKKK!!

Dina yang takut dan kesakitan membuka kembali kakinya, memberikan akses pada Pak Bambang untuk bisa segera melanjutkan niatnya. Tubuh Dina bergetar ketika tangan-tangan Pak Bambang mulai menyentuh dan meremas pantatnya. Lalu…

“HNGHHHHH!!!” Dina memejamkan mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Sakit! Sakit sekali rasanya!

Tiba-tiba saja Pak Bambang melesakkan kemaluannya! Tanpa pemanasan dan tanpa aba-aba! Liang kenikmatan Dina belum sepenuhnya mengeluarkan cairan pelumas sehingga masih kering dan rapat. Penis Pak Bambang yang mendesak masuk membuat Dina sangat kesakitan!

“ANNGHHH!! Sakit!!!” desah Dina, ia mengerang berulang, tubuhnya mengejang dan berontak. Tapi Pak Bambang sudah siap, ia erat mengunci tubuh Dina dan mendorongnya ke depan – ke arah tembok. Karena tidak tahan, Dinapun menjerit. “Sakit!!! Sakit!!”

Pak Bambang tidak peduli, walaupun air mata menetes di pipi Dina dan merusak make-up tipis yang tadi dioleskan oleh penata rias, Pak Bambang tetap melaksanakan niatnya. Dengan ganas kakek tua itu memaju-mundurkan pinggulnya, menusukkan kemaluannya dalam-dalam ke memek Dina yang rapat. Kenikmatan bagi Pak Bambang, siksaan luar biasa bagi Dina.

Dina memejamkan mata menahan sakit, ia menggigit bibir, mencoba memberontak, merenggangkan kaki, tapi tidak ada yang bisa membuat permainan Pak Bambang jauh lebih nyaman baginya. Dia juga tak mungkin berteriak minta tolong karena tidak ada yang bisa menghalangi niat Pak Bambang menyetubuhinya. Setelah beberapa saat lamanya penis laki-laki tua itu keluar masuk liang kenikmatannya, Dina merasakan cairan pelumas mulai meleleh membasahi dinding vaginanya. Sayang sakit yang tak tertahankan masih terus terasa.

Pak Bambang menyetubuhi Dina dengan ganas, ia lepaskan semua penat yang ia rasakan dengan memanfaatkan tubuh calon menantunya yang aduhai. Semua cara ia lakukan untuk bisa meraih kepuasan tertinggi, ia meremas buah dada Dina, menciumi punggung dan tengkuk lehernya sembari berulangkali menghunjamkan batang kemaluan ke liang kenikmatan sang bidadari dari arah belakang. Tubuh ibu dua anak itu memang masih sangat sintal dan padat, menggiurkan sekali, tak rela rasanya Pak Bambang kalau dia harus menikmati keindahan tubuh Dina ini untuk terakhir kali. Walaupun resmi akan dinikahi Dudung, ia akan terus mencicipi kenikmatan sang bidadari setiap ada kesempatan! Kemolekan Dina terlalu sayang untuk dilewatkan!

Gerakan pinggul laki-laki tua gemuk itu makin lama makin cepat, ia memompa sekuat tenaga dengan gerakan bertubi, menumbuk memek Dina tanpa kenal henti. Untuk lelaki seumur Pak Bambang, hal ini sebenarnya luar biasa sekali, siapa sangka kakek tua gemuk itu masih punya tenaga ekstra?

Selagi kelaminnya bekerja keras, mulut Pak Bambang tak mau kalah, ia mencium dan menjilat bagian belakang leher dan telinga Dina, membuat bidadari itu merintih dihajar nafsu birahi. Rengekannya bagaikan musik yang merdu bagi sang lelaki tua, membuatnya semakin meningkatkan kekuatan tumbukan kontolnya pada liang kemaluan sang ibu muda. Walaupun awalnya kesakitan, namun lama kelamaan Dina bisa merasakan kenikmatan yang muncul dengan cepat.

“Paaaakkk!!!” jerit Dina tak kuat menahan nafsu birahinya yang mendesak keluar, matanya merem melek merasakan kenikmatan, tubuhnya bergetar dan bibirnya tak lelah mengeluarkan desahan. Ia ingin berteriak, tapi tak bisa. Kedua lengannya bertumpu ke dinding sementara calon mertuanya terus memompanya dari belakang, pipinya sampai menempel ke tembok dan berulangkali terhantam karena kuatnya dorongan dari belakang. Dina benar-benar tak kuat lagi, dia ingin teriak… “Paaaakk!!”

Pak Bambang merasakan tubuh Dina mengejang, kedua mata Dina naik ke atas dan hampir-hampir memutar ke belakang. Si cantik itu telah sampai ke ujung kenikmatannya. Kini giliran Pak Bambang, dia hampir sampai ke titik penghabisan, dia pastinya tak mau kalah. Gerakan laki-laki tua itu menggila, ia pompakan semua tenaganya, ia fokuskan pada kemaluannya.

“Harrrrghhh!!!!!”

Letupan sperma kental melesat ke dalam liang rahim Dina, berulang-ulang. Puas sekali Pak Bambang. Memek Dina yang tadinya sudah basah kini makin banjir oleh campuran cairan cinta mereka berdua. Pijatan liang kenikmatan pada penis Pak Bambang mulai mengendur, tubuh gemuk laki-laki tua yang kelelahan itu ambruk dan bersandar di punggung Dina.

Air mata tipis meleleh di pelupuk mata sang bidadari, Dina malu sekali. Dia tidak ingin diperlakukan seperti ini terus menerus. Tapi dia tidak bisa mengingkari kenikmatan yang ia rasakan, bagaimana mungkin ia mengaku terpaksa, kalau dia juga mencapai orgasme?

Pak Bambang menarik keluar kemaluannya dengan satu sentakan kasar, Dina sampai mendesis dibuatnya. Habis manis sepah dibuang. Setelah merasa puas, laki-laki tua itu berdiri dan memakai kembali celananya tanpa peduli pada Dina yang ambruk kelelahan. Air mani Pak Bambang meleleh dari sela-sela memek Dina, turun hingga sampai ke paha.

“Bersihkan dirimu, sebentar lagi kamu akan menikah.” Kata Pak Bambang ketus. “Besok kita lanjutkan lagi.”

Dina diam saja, dengan tenaga yang tersisa ibu muda yang cantik itu menyeret tubuhnya ke atas ranjang dan rebah di sana. Ia tak berkutik lagi karena lelah.

Ketika Pak Bambang melangkah keluar dari kamarpun, Dina tak beranjak.

Dina hanya bisa menangis tanpa suara.

###

Pak Bambang keluar dari kamar Dina dengan langkah kaki jumawa dan wajah yang sangat puas. Ia segera disambut penata rias dan para asistennya yang rupanya sudah menunggu sedari tadi.

“Bagaimana, Pak? Sudah selesai bincang-bincangnya?” tanya sang penata rias.

“Sudah. Sana masuk, bereskan yang tadi.” angguk Pak Bambang.

“Baik, Pak…” Sang penata rias melambaikan tangan mengajak para asistennya masuk ke kamar sementara Pak Bambang meninggalkan tempat itu.

“AH!” Sang penata rias menjerit!

Ia melihat Dina tertelungkup di atas ranjang pengantin dengan make-up berantakan dan baju yang acak-acakan. Calon pengantin itu nyaris telanjang!

Apa yang baru saja terjadi?

Apa yang Pak Bambang lakukan pada menantunya?

Sang penata rias rupanya belum mengetahui rahasia umum yang beredar di kalangan pembantu Pak Bambang.

Penata rias itu menjadi lemas karena harus mengulangi semuanya dari awal, terlebih lagi wajah Dina kini acak-acakan. Secantik apapun Dina, butuh waktu untuk mengembalikan semuanya seperti semula.

###

Matahari bersinar cerah, mendung yang menggantung sepanjang siang kemarin tidak nampak sedikitpun pagi ini. Awan yang berarak tipis tak mampu menghalangi terangnya sinar mentari yang menerawang menembus langit biru. Burung-burung berkicauan sepanjang pagi, mereka bertengger di ranting-ranting pohon mendendangkan pujian hari yang indah.

Villa besar milik keluarga Haryanto yang berdiri megah di atas bukit sejuk hari ini ramai oleh mobil-mobil mewah yang parkir di sepanjang halaman hingga ke jalan raya. Siapapun yang mengenal Bambang Haryanto, hadir hari itu di villa keluarganya yang megah. Tenda berwarna biru dan putih penuh hiasan digelar di halaman, meja penuh santapan lezat tak pernah sepi dikelilingi para tamu. Para tamu tidak tahu kalau Pak Bambang punya seorang anak yang sebelumnya tidak pernah terlihat di kota, tapi tahu-tahu sekarang akan menikah.

Hari itu adalah hari pernikahan Dudung Haryanto dan Dina Febrianti.

Prosesi pernikahan diadakan di ruang tamu di dalam villa. Pak Bambang duduk dengan santai di depan meja pernikahan sementara Dudung yang gembira tak mampu menutupi keceriaannya. Dudung yang sudah berjumpa dengan Dina bahagia sekali mendapatkan seorang pengantin wanita yang sangat cantik. Pak Bambang juga sama bahagianya, ia melakukan semua ini demi Dudung. Melihat putra yang paling dikasihi sekaligus paling memalukan itu bahagia membuat Pak Bambang menarik nafas lega dalam-dalam, tugas untuk merawat Dudung kini ia serahkan pada Dina.

Pak Bambang terkekeh sendiri kalau teringat dia baru saja mencicipi pengantin wanita yang cantik. Pasti butuh waktu agak lama bagi Dina untuk mempersiapkan diri lagi setelah Pak Bambang menyetubuhinya beberapa saat yang lalu. Petugas KUA yang sudah ditunjuk dan disuap oleh Pak Bambang duduk dengan tenang memeriksa semua berkas-berkas catatan yang ada di meja pernikahan.

Akhirnya, Dina datang diiringi kedua putranya yang membawa bunga dan saudara-saudara jauh Dudung. Wanita dewasa yang cantik jelita itu semakin nampak seksi dalam balutan baju pengantin berwarna putih tulang yang sangat indah. Kalau saja ada orang yang memeriksa, bercak-bercak pejuh Pak Bambang yang tadi bertebaran di sekujur paha dan selangkangan Dina mungkin saja menempel di baju pengantinnya. Si cantik itu hanya bisa membersihkan diri di beberapa bagian saja.

Dudung makin ngiler melihat calon pengantinnya datang, seksi sekali memang Dina saat itu. Langkah kakinya anggun memasuki ruang pernikahan. Walaupun kepalanya tertunduk dan wajahnya pucat, tapi semua orang yang berada di tempat itu setuju, Dina Febrianti menantu Pak Bambang adalah wanita yang sangat cantik dan seksi. Mereka juga sangat kasihan sekali melihat wanita secantik Dina disandingkan dengan pria seperti Dudung.

Dina duduk di samping petugas dari KUA, di depan Dudung.

Prosesi pernikahan dimulai.

###

Dina menangis. Ia menangis sejadi-jadinya.

Prosesi pernikahannya telah berlangsung dengan lancar tanpa gangguan dan kini namanya telah tertera resmi dalam buku penikahan dan catatan sipil sebagai istri dari Dudung Haryanto. Bukankah seharusnya ia bahagia? Sebaliknya, ia sakit hati sekali, ia merasa hancur, ia merasa kotor seperti seorang pelacur. Ia berharap Anton akan datang dan menghentikan pernikahan ini, ia berharap mantan suaminya akan datang dan menyelamatkannya. Tapi tak seorangpun datang untuk menyelamatkannya, tak ada seorangpun yang peduli, tak ada yang berani.

Dina tidak peduli kalau make-upnya berantakan dan wajahnya belepotan, ia tidak peduli kalau ia berubah menjadi jelek seperti orang-orangan sawah sekalipun. Ia hanya ingin pergi dari tempat ini bersama kedua anaknya dan kembali bersatu dengan Alya dan Lidya. Sayang semua itu tidak bisa ia lakukan, ia terjebak dalam genggaman laki-laki tua brengsek tapi kaya raya bernama Bambang.

“Mbak Dina? Mbak Dina ada di dalam? Mas Dudung sedang menunggu sendirian di luar, kasihan dia, masih banyak tamu yang ingin bersalaman. Ayo cepat keluar!” panggil salah seorang saudara dari luar kamar mandi.

“I-iya… sebentar.” Jawab Dina terbata-bata. Buru-buru wanita cantik itu mencermati cermin yang ada di kamar mandi dan membenahi make-upnya yang berantakan karena menangis.

Tak lama kemudian, Dina keluar dari kamar mandi dan menemani Dudung yang masih terus menemui beberapa orang tamu. Beberapa kali Dudung berteriak-teriak ingin masuk ke kamar karena capek dan bosan, tapi Pak Bambang selalu melarang. Untunglah Dina keluar dan menemaninya, karena setiap kali bersanding dengan pengantin barunya, Dudung menjadi pendiam dan sangat sopan.

###

Lampu dinyalakan sedikit temaram, beberapa batang lilin dinyalakan di pojok ruangan, lagu-lagu lama yang melodius dan menyejukkan penuh syair cinta dinyalakan dari satu CD player. Ranjang besar sudah tertata rapi. Wangi bunga yang semerbak mengharumkan seisi ruangan. Kamar pengantin yang sempurna. Entah siapa yang telah merapikan ruangan ini, mungkin penata rias yang siang tadi mendandani Dina.

Dina duduk terdiam di ujung ranjang, ia sendirian.

Bukannya takut ataupun khawatir, tapi Dudung tak nampak batang hidungnya sejak acara tadi siang. Mungkin dia kelelahan. Dina juga sudah sangat lelah, baik pikiran maupun fisik. Menurut Dina akan lebih baik kalau Dudung tidak datang ke kamar pengantin malam ini. Dina akan sangat bahagia kalau diperbolehkan tidur sendiri tanpa harus melayani suami barunya. Dia tidak peduli ini malam pertama atau bukan.

Dina merebahkan diri ke atas ranjang, ia memejamkan mata, lelah sekali rasanya hari ini, banyaknya tamu yang datang membuat Dina harus selalu tersenyum dan memasang wajah bahagia. Ia lelah harus berbohong sepanjang hari, apalagi vaginanya masih terasa nyeri karena diperkosa Pak Bambang pagi tadi.

Lalu, ketika Dina merasa aman, pintu kamarnya terbuka. Satu sosok masuk ke dalam dengan langkah ragu. Pintu kamar ditutupnya.

“Di… Dina?” bisik suara asing itu selembut mungkin.

“Mas Dudung?”

“I… Iya… Dudung.”

Dina bangkit dari tidurnya. Tapi sosok Dudung tetap tidak bergerak, pria itu masih berdiri di dekat pintu, seakan-akan takut mendekat ke ranjang. Dina menunggu dan duduk terdiam di atas ranjang.

Dina menunggu.

Dan menunggu.

Masih menunggu.

“Mas Dudung?”

“I… Iya?”

“Kenapa berdiri di situ terus? Mas Dudung mau tidur kan?”

“I… Iya…”

Masih dengan langkah ragu, Dudung bergerak maju ke arah ranjang. Ia duduk di tepi pembaringan, dengan tubuh membelakangi Dina.

Dina duduk menjauh, dia hanya berharap laki-laki bodoh ini sudah terlalu lelah sehingga mereka tidak perlu bermain cinta.

“Mas Dudung capek?”

“Iya…”

“Mas Dudung mau tidur?”

Dudung menggelengkan kepala dengan semangat.

“Katanya capek?” tanya Dina. “Kalau capek tidur saja, ya?”

“Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur… boleh?”

Dina terhenyak, dasar kakek tua, tidak bisa membiarkannya beristirahat dengan tenang!

“Iya… tentu saja boleh, kita kan sudah suami istri? Tapi aku lelah sekali… kita bisa melakukannya besok. Hari ini kita tidur saja, ya?”

“Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur…”

Dina jengkel. Wanita cantik itu akhirnya merebahkan diri tanpa mempedulikan Dudung. Dia ingin tidur! Kalau Dudung ingin menidurinya, maka dia akan meniduri wanita yang sudah tidur. Dina memejamkan mata dan membiarkan Dudung terdiam di tepi ranjang. Dina heran juga, walaupun bodoh – Dudung sepertinya tahu apa fungsi alat vital laki-laki dan perempuan. Dasar, anak bapak sama saja, batin Dina menggerutu.

“Ka-kata bapak… Du-Dudung… Dudung harus masukin kontol ke memek Dina sebelum tidur…” ulang Dudung lagi. Kali ini Dudung tidak diam saja, dia bergerak dan mendekati Dina yang berusaha untuk tidur. Dengan gerakan patah-patah karena takut akan mengganggu Dina, Dudung mulai membuka baju Dina.

Dina yang tidak tahu harus berbuat apa terdiam ketika Dudung membuka baju dan celananya. Dina diam tanpa perlawanan, ia seolah berubah menjadi boneka yang pasrah dilucuti busananya. Walaupun bodoh, tidak perlu waktu lama bagi Dudung untuk menelanjangi Dina.

Setelah selesai melepas semua pakaian Dina, Dudung melucuti pakaiannya sendiri. Telanjang dan tersenyum polos, Dudung membungkuk di antara selangkangan Dina, batang kemaluannya yang ukurannya luar biasa besar menggelantung di bawah, siap disentakkan ke dalam memek Dina. Dudung mencoba merenggangkan kaki Dina, ia menikmati pemandangan indah yang dipamerkan bibir vagina ibu muda yang cantik itu.

“Mas Dudung…! Apa… apa yang…?” Dina menjerit tertahan, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Dudung, setelah sekian lama, akhirnya Dina sadar. Betapa terkejutnya Dina ketika dia melihat ukuran alat kelamin Dudung yang menggantung. “Jangan, Mas!”

“Kenapa… kenapa Dudung tidak boleh? Apa gara-gara punya Dudung besar? Dina takut? Nanti Dudung paksa supaya bisa masuk…”

“Jangan! Ya Tuhan! Jangan… jangan kamu paksakan!” kata Dina kebingungan, bagaimana caranya menolak laki-laki bodoh ini? “Aku tidak bisa… aku… punyaku sempit sekali… punya Mas Dudung besar sekali… tidak bisa masuk! Punyaku tidak bisa menerima barang sebesar itu!”

“Tapi… tapi… tapi Dudung tidak tahan! Du… Dudung mau… mau… mau memasukkan ini… ke situ…” kata Dudung terpatah-patah, kepalanya menggeleng dan mengangguk dengan gerakan patah-patah. Pria bodoh itu menunjuk ke arah kontolnya sendiri lalu menunjuk ke bibir vagina Dina. “Du-Dudung mau… Dudung kepingin… Dudung… Dudung tidak mau menyakiti Dina, beneran… pasti enak… beneran. Dina cantik. Dina mau kan?”

Dina menggeleng, dia berusaha mendorong Dudung agar menjauh. Tapi pria bodoh itu diam tak bergeming. Secara tak sengaja Dina melihat wajah Dudung. Betapa kagetnya Dina melihat wajah laki-laki itu. Dudung terlihat sangat sedih dan terpukul, wajahnya memerah dan siap menangis. Melihat perubahan wajah Dudung membuat Dina menghentikan dorongannya.

Dudung sesunggukan, ia menyingkir dari atas tubuh Dina dan duduk di tepi ranjang.

Dina terdiam.

Di hadapannya kini, seorang pria dewasa tengah terisak-isak karena penolakannya, sangat berbeda dengan ayahnya yang pernah memaksa dan memperkosa Dina. Kenapa Dina menolaknya? Apa yang telah terjadi pada Dina bukanlah kesalahan Dudung… apalagi Dudung telah resmi menikahinya, sehingga sebenarnya dia berhak atas tubuh Dina.

Dina menundukkan kepala, berpikir keras sementara Dudung masih sesunggukan.

Dengan satu desahan panjang Dina menggeleng kepala dan menepuk pundak Dudung. Dia yakin akan menyesali keputusannya ini…

“Kamu mau melakukannya, Mas? Sekarang?” Dina memandang ke arah Dudung dengan pandangan mata pasrah. Dudung terhenyak kaget, ia menghapus air mata yang mengaliri pipinya. Dina bertanya lagi, “Kenapa? Kenapa kamu ingin melakukannya denganku, Mas?”

“Du-Dudung mau karena… karena… karena Dudung suka Dina. Dina cantik.”

“Kamu suka sama aku, Mas? Suka atau sayang?”

“Dudung sayang Dina. Dina cantik… Du-Dudung tidak mau menyakiti Dina. Janji! Tidak sakit… Dina pasti senang. Pasti…” wajah Dina yang cantik bersinar membuat Dudung makin bersemangat, dalam keluguan dan kebodohannya ia tidak sadar bahwa ia mungkin mencintai Dina sejak pertama kali bertemu dengannya.

Dina tidak bisa melepaskan pandangan dari benda menggantung yang ada di selangkangan Dudung, ukurannya, bentuknya… ah! Bagaimana mungkin ia bisa tertarik pada alat vital Dudung? Apakah dia akhirnya bersedia digauli Dudung karena kasihan dan terpaksa, atau karena dia ingin segera merasakan batang kemaluan Dudung itu di dalam memeknya?

Dina tahu dia tak akan pernah bisa menjelaskan pada siapapun, bagaimana dia bisa tertarik pada manusia aneh bernama Dudung ini. Dorongan seksual menggebu dalam batinnya menjadi gairah liar tak tertahankan yang mengurung perasaannya sendiri. Dina hanya mengangguk pasrah pada pria idiot yang berdiri tegak di hadapannya. Ibu muda yang cantik itu bahkan membuka kakinya lebar-lebar, mengeluarkan desahan mesra penuh irama kala batang kemaluan raksasa milik Dudung menyentuh paha bagian dalamnya. Sentuhan ringan ujung gundul kemaluan Dudung mengalirkan sensasi dahsyat ke seluruh bagian tubuh Dina, melejitkan nafsu birahinya sampai ke tingkat yang tak terkatakan. Dina hanya terdiam, memejamkan mata dan menunggu.

Dudung yang bodoh tidak tahu bagaimana caranya membuai seorang wanita, dia tidak mengerti bagaimana caranya melakukan permainan cinta sejati. Dia tidak tahu bagaimana melakukan pemanasan. Dudung mengulurkan jarinya ke dalam selangkangan Dina, membiarkan jarinya masuk dan mencubit bibir kemaluan sang istri yang berwarna merah jambu, dia melakukannya dengan kasar – tanpa mengelus dan tanpa rabaan.

Dina melonjak kaget ketika jari-jari Dudung yang ukurannya sangat besar mengobrak-abrik pukinya yang kini mulai basah. Dina malu pada dirinya sendiri, Dudung belum melakukan apa-apa tapi kemaluannya sudah mulai basah. Hanya dengan melihat penis Dudung yang besar itu, Dina tak mampu menahan nafsu birahinya. Dudung sendiri sekarang mulai maju, penisnya yang mengeras bagai baja seperti tak sabar ingin segera menjajah liang kenikmatan milik Dina. Wanita cantik itu sendiri juga tak sabar, ia ingin Dudung segera melakukannya, ia ingin penis itu segera masuk ke vaginanya yang dahaga. Tanpa ada seorangpun yang meminta, Dina mengangkat kakinya lebih tinggi, memberikan Dudung akses yang lebih bebas, si cantik itu telah menunggu.

“Ma… masukkan saja, Mas.” Desis Dina, tangannya mencengkeram dan kukunya menancap di pundak Dudung. “A… aku menginginkannya… berikan padaku… berikan pada istrimu ini…”

Kata-kata Dina bagaikan musik yang indah bagi Dudung, belum pernah ia mendapatkan seorang wanita yang mau ia perlakukan seperti ini sebelumnya. Senyumnya yang manis mengundang Dudung untuk segera melakukan apa yang mereka berdua inginkan. Dengan satu lolongan yang keluar dari mulut Dudung, kepala gundul kontol raksasa miliknya mulai masuk ke dalam liang kenikmatan Dina, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan sekali.

Awalnya ujung gundul kemaluan Dudung hanya menyentuh bibir kemaluan Dina saja, walaupun begitu vagina si cantik itu sudah basah dan siap menerima serangan. Ketika Dudung benar-benar bersiap melesakkan kemaluannya, mata Dina terbelalak melebar. Ujung kontol Dudung dioles kesana kemari, bibir vagina, rambut kemaluan, paha dalam, seluruh bagian sensitif di sekitar memek Dina dirambahnya. Dudung tidak tahu mana yang enak dan mana yang tidak. Ia hanya mengamati perubahan wajah Dina saja. Lalu dengan satu hentakan pinggul yang kuat, pria bodoh itu memakukan batang penisnya ke dalam liang kenikmatan Dina yang elastis, merenggangkan dinding-dindingnya ke batas maksimal.

“Aaaaaaaaaahhhhh!!!” teriak Dina, gabungan rasa sakit dan kenikmatan yang dirasakannya tak terkatakan. Ia hanya bisa melolong tanpa daya. “Ooooohhhhhmmm… enaaaaaaakkkkghhhh…”

Luar biasa, kontol Dudung baru masuk hanya beberapa senti saja ke dalam memeknya, tapi Dina sudah melolong tak berdaya. Tubuh Dina bergetar hebat merasakan batang kemaluan yang kerasnya bagai kayu mulai dilesakkan ke dalam kemaluannya, diiringi dengan nafas yang kembang kempis, Dina mengangkat pinggul dan pantatnya agar Dudung lebih leluasa. “Terus… terus, Mas,” bisik Dina yang sudah tak mampu menahan diri lagi. “Tidak apa-apa… pelan-pelan saja… jangan -… jangan terlalu cepat…”

Dudung yang sudah sangat bernafsu tidak bisa mendengar kata-kata Dina, pria bodoh itu melanjutkan niat buasnya. Ketika penisnya ditusukkan, rasa sakit menyengat Dina. Si cantik itu mulai memukul-mukulkan tangannya ke pundak Dudung, perihnya tak tertahankan lagi, apa yang awalnya nikmat berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa.

Tapi Dudung sudah terlanjur berubah menjadi pejantan yang buas tanpa ampun, saat itu tiba-tiba saja Dina merasa bodoh. Ia menyesal merasa siap menerima kemaluan Dudung yang sangat besar itu. Kini, batang yang keras bagai baja itu telah melesak masuk dan akan terus masuk sampai ujung terdalam. Siap tidak siap, mau tidak mau, Dina harus menahannya. Ukuran kemaluan Dudung yang besar seakan membuat dia hendak merobek bibir kemaluan Dina ketika penisnya ditanam dalam-dalam di memek sang istri.

“Gakkghhh!! Aghhh!! Ahhh!” Dina melenguh berulang, tenggorokannya tercekat. Rasa sakit yang tak tertahan membuatnya berontak secara reflek, namun sia-sia, Dudung sudah berubah menjadi makhluk mengerikan yang memangsa tubuhnya dengan buas. Tidak ada kata berhenti atau istirahat, Dudung melanjutkan niatnya, mengobrak-abrik memek sempit Dina dengan batang kemaluannya yang raksasa. Dina mengeluarkan air mata, sungguh dia tidak tahan, dia sudah mencakar, memukul, mendorong, tapi Dudung tetap memompanya. Teriakan Dina juga tak digubris. Si cantik itu berharap dia bisa segera pingsan, lebih baik tak sadarkan diri daripada merasakan sakit yang seperti ini.

“Ja-jangan menangis, Dina,” pinta Dudung dengan suara memelas, “…ka-kalau Dina diam saja, Dudung cepat selesai. Kalau diam saja, Dina pasti merasa enak, soalnya Dudung juga enak. Sebentar lagi selesai, janji! Jangan menangis… jangan menangis…”

Dina mendengarkan permintaan Dudung yang memelas itu dan membuka matanya. Pandangan matanya buram dan kabur karena baru saja menangis. Rasa sakit itu tidak seberapa… batin Dina, setelah semua yang terjadi… setelah pernikahannya dengan Dudung yang diawali tanpa dasar cinta, ini semua tak seberapa. Bukanlah Dudung yang bersalah, tapi ayahnya. Pak Bambanglah yang telah memaksa mereka menikah. Dina merasa tidak enak hati pada Dudung, pria ini tidak mengenal siapapun kecuali Dina dan Pak Bambang dalam hidupnya. Pria yang kesepian dan tak punya teman. Dia tidaklah sebodoh yang Dina kira, Dudung bahkan sangat cermat dan perhatian, walau kadang terlalu sensitif. Dudung memang bukan suami yang sempurna, tapi Dina bisa belajar mencintai. Ketika Dudung menusukkan lagi kemaluannya ke dalam vagina Dina, si cantik itu memilih memejamkan mata dan menggigit bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Lebih baik dia yang kesakitan, daripada Dudung tahu rasa sakit yang ditimbulkan karena bersetubuh dengannya.

Batang kemaluan Dudung tidak berhenti berdenyut dan membesar, seakan-akan batang itu adalah balon gas yang terus membesar, bedanya kontol Dudung yang besar lebih mirip batang baja daripada balon gas. Kontol Dudung terus saja mendesak ke dalam bagian terdalam kemaluan Dina yang menolak kehadiran benda asing itu. Dudung mengira kalau dia sudah selesai menancapkan kontolnya, Dina akan merasa nyaman dan bisa menikmati permainan cinta mereka. Sayang tidak seperti itu keadaan sebenarnya. Dari gayanya — walaupun ada kesan malu-malu – Dina bisa memperkirakan kalau ini bukanlah pertama kalinya Dudung bermain cinta. Entah dengan siapa dulu dia bercinta… tapi bagi Dina sendiri, dari semua ‘lawan main’nya, barang milik Dudunglah yang paling besar.

‘Ampuuuun!’ batin Dina, sungguh dia bisa merasakan setiap senti desakan kontol Dudung dalam liang rahimnya. Kali ini, kemaluan Dudung amblas lebih dalam dari sebelumnya, tanpa ampun menusuk terus ke dalam, sakitnya terasa sampai ke perut si cantik itu. Batang penis Dudung yang keras bagai baja menjajah dan mengobrak-abrik dinding lembut memek Dina, mendesak ke dalam bagaikan paku. Dina tidak ingin berteriak lagi, tapi sungguh dia tidak tahan… dia tidak tahan kalau begini terus… dia tidak tahan kalau Dudung tidak berhenti!

Gaya permainan buas ala Dudung membuat Dina terombang-ambing tanpa daya, namun detik detik berikutnya hal yang mengejutkan Dina terjadi.

Dudung menggoyang penisnya dan memompa keluar masuk, sekali, dua kali, tiga kali… terus menerus tanpa henti! Dina mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya… kenikmatan yang luar biasa. Terus… terus… terus… jangan berhenti… Dina tidak mau Dudung mengakhiri permainannya, enak… enak sekali… jangan berhenti…

Dina tidak percaya ini, setelah semua rasa sakit yang ia terima dan genjotan tanpa ampun dari Dudung, akhirnya ia menerima semuanya dengan penuh kenikmatan. Ia ingin Dudung melanjutkannya tanpa henti, Dina membuka kakinya lebar-lebar, ia ingin Dudung masuk lebih dalam! Lebih dalam! Ia percaya suaminya yang tidak begitu pintar ini ingin membuktikan kalau dia menyayangi Dina, mencintainya… sepenuh hati…

Tiba-tiba saja, denyutan batang kontol Dudung terhenti. Ujung gundul penis yang tadinya melesak ke dalam tiba-tiba saja terdiam. Dudung menarik batang kemaluannya dengan perlahan. Dina sudah bersiap melepas, ia merenggangkan kakinya dan memejamkan mata… tapi… tiba-tiba saja… dengan satu sodokan penuh tenaga, Dudung mendorong kemaluannya kembali masuk ke dalam!

“Aaaaaaaaaaaaahhhhh!!!” Dina menjerit kesakitan.

Seluruh batang kontol Dudung amblas ke dalam memek Dina, semuanya masuk ke dalam, dari ujung gundul sampai batas terbawah. Kantong kemaluan Dudung menampar bagian bawah bibir memek Dina sampai ke lubang anusnya. Ya Tuhan! Dudung benar-benar melakukannya… pria bodoh itu memasukkan semuanya sampai ke dalam!

“Sa-sakit?” tanya Dudung yang terkejut mendengar jerit kesakitan Dina.

“Sakit…” erang Dina.

Dudung memperlambat gerakannya. Wajahnya berubah, ia merasa bersalah.

“Ooooohhhh…” Dina melenguh perlahan.

Dudung mengubah gaya permainannya. Dia tidak sebuas seperti awal serangannya, dia kini lebih lembut, sepertinya pria bodoh itu mulai sadar kalau apa yang telah dia lakukan tadi menyakiti Dina dan kini ia berusaha memperbaiki kesalahannya. Dudung memegang lengan Dina dan mengelusnya lembut, bukannya berusaha memaksa kemaluannya masuk secara bertubi, Dudung kini menunggu agar Dina bisa menyesuaikan diri. Dengan sabar pria bodoh itu memperhatikan tubuh Dina mulai relaks dan bisa membiasakan diri dengan ukuran kemaluan Dudung yang memang di atas rata-rata lelaki Asia pada umumnya. Dudung tidak melakukan ini semua karena ia pintar, ia melakukannya secara refleks, intuisi laki-laki yang entah sejak kapan ia miliki.

Dina tidak percaya apa yang baru saja terjadi pada dirinya, seluruh batang kemaluan Dudung telah amblas! Masuk ke dalam liang kenikmatannya! Sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan olehnya… batang sekeras baja itu kini berada di dalam tubuhnya, masuk ke dalam liang rahimnya, menyodok seakan hendak mengoyak perut. Dina membuka mata dan menatap kekasih barunya dengan pandangan penuh pengertian, ia berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih dirasakannya, rasa sakit yang ditimbulkan oleh sesaknya desakan batang kejantanan Dudung di dalam vagina mungilnya.

Setelah gerakan lembut keduanya berinteraksi, otot-otot kemaluan Dudung yang tadinya lemas kini mulai mengeras kembali. Dina mengerang perlahan, ia takut Dudung akan menghentikan gerakannya kalau tahu dia kesakitan. Dengan sekuat tenaga, Dina berusaha bertahan, ia sampai menggemeretakkan gigi karenanya. Entah bagaimana Dudung merasa curiga, ia memperhatikan Dina, menunggu dan bergerak maju mundur kembali. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksa Dina kini sudah mulai banyak berkurang, sekali lagi wanita cantik itu memaksakan senyum pada Dudung. Lagi dan lagi, luapan cinta keduanya saling bertumbukan, tersalurkan melalui tumbukan sebuah batang kemaluan yang sekeras baja. Dudung memperlakukan tubuh Dina dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, ia bergerak pelan, memutar pinggul dan penisnya, menggiling kemaluan Dina dengan tumbukan yang sebisa mungkin tidak menyakitkan, sampai akhirnya dinding memek Dina yang elastis merenggang dan bisa menyesuaikan ukuran dengan kontol Dudung.

Dina merasakan kegairahan yang makin lama makin memuncak, membuatnya bingung dibuai kenikmatan yang tak seharusnya terjadi. Dina tidak mampu berpikir dengan jernih, tubuhnya terasa melayang ke atas awan. Ibu muda yang cantik itu membiarkan tubuhnya lepas, ia ikuti kemana saja suami barunya akan membimbing. Dina berharap perlakuan yang begitu nyaman dan enak ini tak akan pernah berakhir. Bidadari jelita itu membentangkan kakinya lebar-lebar, membiarkan lututnya membuka dan mengimbangi gerakan maju mundur suaminya yang idiot dengan hempasan pantat penuh nafsu. Wanita cantik yang tadinya jijik pada suaminya itu kini tergila-gila. Ia mengerang dan menjerit, membiarkan tubuh dan pikirannya terbebas.

Setiap hentakan yang dilakukan Dudung membuat Dina makin mabuk oleh kenikmatan yang diberikan suaminya. Kantung kemaluan sang pria idiot menumbuk kuntum liang anus sang istri tanpa kenal lelah sementara jembutnya yang lebat mencambuk kelentit Dina. Enak sekali rasanya. Sangat enak sekali.

Tiba-tiba Dudung berhenti dan menarik keluar kemaluannya. Dina menggeleng kepalanya keras-keras, dia lalu merubah posisi agar Dudung lebih nyaman, ia berbalik, merendahkan tubuhnya ke bawah hingga buah dadanya tergencet. Doggie style, siapa tahu Dudung menyukai posisi ini, ia berniat memuaskan Dudung sebisa mungkin, bukankah itu tugas seorang istrii? Permukaan karpet yang kasar merangsang pentil payudara Dina hingga menjorok ke depan. Dina mengembik penuh kenikmatan saat batang kemaluan Dudung yang sangat besar kembali melesat masuk ke dalam liang kewanitaannya tanpa bisa dihentikan.

Dina melejit nikmat ketika batang penis Dudung digenjotkan di dalam kemaluannya, wanita cantik itu tidak percaya penis raksasa milik Dudung bisa masuk ke dalam memeknya. Ia sudah pernah merasakan milik Anton, milik Pak Pramono dan milik ayah Dudung, tapi semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria idiot yang kini telah resmi menjadi suaminya ini.

Ujung gundul penis Dudung mengoles-oles dinding dalam kewanitaan Dina. Belum pernah ada lelaki yang pernah melesakkan penis sedalam Dudung, nyeri dan sakit yang dinikmati oleh Dina bagaikan gadis yang sedang diambil keperawanannya. Si cantik itu menjerit-jerit dengan bingung, sebenarnya dia kesakitan atau malah keenakan. Saat ini Dina sudah tidak peduli lagi siapa sebenarnya Dudung, suami barunya yang idiot itu menyimpan keperkasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dina bagaikan seorang budak seks yang duduk berlutut dan membiarkan seorang pria bodoh menggenjot memeknya dari belakang, menanamkan nafsu birahinya dalam-dalam di liang kenikmatan yang diberikan oleh Dina. Setelah selama ini dipermainkan oleh pria-pria hidung belang, baru kali inilah Dina tahu bagaimana rasa nikmat yang sesungguhnya. Tidak ada pria yang bisa menandingi Dudung dalam hal memuaskannya, tidak ada. Dina tahu dia ingin selalu menikmati kebersamaan dengan Dudung seperti ini, dia ingin selalu di samping Dudung, Dina ingin selalu menghentakkan tubuhnya yang indah di atas penis tegak milik Dudung. Dina sudah dibuat terpukau oleh penis raksasa Dudung.

Dina tidak ragu sedikitpun. Ada sesuatu yang mendesak dan membuncah dalam hatinya yang membuat si seksi itu hampir-hampir gila karena nafsu birahi yang menggelegak. Dina ingin menghisap seluruh kemaluan Dudung dengan memeknya! Malu rasanya Dina mengaku pada dirinya sendiri kalau dia ingin terus menikmati batang penis laki-laki itu! Awalnya dia kalap dan panik ketika Dudung mendekati dan akhirnya menidurinya, tapi semua kini berbalik. Dia ingin menikmati permainan cinta dengan Dudung, dia menginginkan Dudung. Dia membutuhkan Dudung.

Kenikmatan dalam tubuh Dina makin lama makin memuncak menuju sebuah ujung yang tak ingin ia capai dengan cepat. Dina tahu inilah saatnya ia merasakan kenikmatan puncak itu! Kenikmatan yang tidak ia dapatkan dari mantan suaminya yang pengecut dan telah menjualnya. Dudung mengerang hebat dan Dina bisa merasakan batang penis suami barunya menegang dengan sangat keras di dalam liang kewanitaannya. Tak perlu waktu lama bagi Dudung untuk segera menyemprotkan air maninya yang putih lengket ke dalam memek wanita cantik yang kini sudah ia miliki itu.

Semprotan pejuh Dudung menggila di dalam memek Dina, memenuhi seluruh ruang liang kewanitaan sang istri hingga luber keluar, membasahi pinggul dan kantung kemaluannya sendiri.

Tanpa malu-malu Dina memutar-mutar pantatnya dan mengisi seluruh rahimnya dengan sperma kiriman Dudung. Si cantik itu tidak ingin permainan seks yang indah ini segera berakhir, dia ingin Dudung tetap menyetubuhinya selama mungkin. Tapi sekuat apapun Dina berusaha bertahan, dia tetap seorang wanita biasa. Dengan satu teriakan sekuat tenaga, Dina melepaskan seluruh kenikmatan puncak yang bisa ia rasakan, kenikmatan yang telah dihantarkan oleh seorang lelaki idiot yang ternyata bisa memuaskannya. Dina merasakan tubuhnya meledak akibat aliran sensasi erotis yang dilepaskan, si cantik itu lalu terisak-isak saat mengeluarkan seluruh kegembiraannya yang meluap-luap, sampai-sampai inti sari kehidupannya seakan ikut tersedot keluar.

Saat semua usai, kedua insan berbeda jenis itu ambruk terkulai tak berdaya.

Puas.

Dudung memeluk Dina dengan penuh rasa sayang.

Dina memejamkan matanya, ia benar-benar lelah, seluruh badannya terasa linu, tapi ia tidak akan memungkiri, rasa nikmat yang diberikan Dudung benar-benar berbeda. Dia jauh lebih perkasa dari pria manapun yang pernah menidurinya.

“Dina… masih… sakit?” tanya Dudung setelah terdiam lama. Matanya yang polos menatap Dina takut, ia tidak mau wanita cantik yang berada di hadapannya ini kesakitan. Ia sangat menyayanginya, ia merasa bersalah tadi sempat menyakiti Dina.

Dina tersenyum lembut sambil membelai rambut Dudung, “sedikit.”

“Dina sudah hamil?”

“Hah?” terkejut Dina mendengar pertanyaan Dudung. “Hamil? Maksud Mas?”

“Se-setahu Dudung… kalau sudah memasukkan ke dalam, terus selesai, terus hamil, terus punya anak.”

Dina tidak tahu apakah harus tertawa atau sedih mendengarnya. Dengan lembut Dina mengecup dahi Dudung. “Tidurlah, Mas…” bisiknya pelan. “Kalau hari ini gagal, besok kita coba terus sampai aku hamil…”

Dudung menurut, pria dewasa yang masih seperti anak-anak itu meringkuk dalam balutan selimut dan pelukan bidadari.

Dua orang yang kelelahan itu akhirnya terlelap.

###

Pak Bambang membalik kalender duduk yang ada di meja kerjanya, hari telah berganti, memasuki bulan baru. Tidak terasa cepatnya waktu berlalu, sudah tiga bulan lebih sejak Dina menikah dengan Dudung. Betapa enaknya punya menantu yang cantik dan seksi seperti Dina, tiap seminggu sekali, Pak Bambang selalu meminta Dina datang dan melayani nafsu syahwatnya. Seakan-akan Dina memiliki dua orang suami.

Dengan perlahan, laki-laki tua itu melangkah menuju jendela dan melihat ke luar. Di taman villa yang asri, Dina, kedua anaknya dan Dudung sedang berpiknik. Sejak kemarin Dina memasak roti kesukaan kedua anaknya dan membuatkan steak kesukaan Dudung. Entah bagaimana Dina bisa berbincang-bincang dengan Dudung yang idiot itu, tapi makin hari, Dudung terlihat semakin dewasa. Dia semakin terlihat normal. Ketelatenan dan keikhlasan Dina merawat Dudung lama kelamaan membuat Pak Bambang terharu.

Setelah apa yang telah dia perbuat pada Dina, setelah semua masalah yang bertubi-tubi ditimpakan pada wanita cantik itu, dia membalasnya dengan perbuatan yang mulia. Pak Bambang geleng-geleng kepala. Dalam hati kecilnya yang terdalam, dalam hati yang ternyata masih berperasaan, Pak Bambang mulai merasakan penyesalan.

Dudung bermain bola dengan kedua putra Dina, mereka tertawa dan bahagia. Dina bertepuk tangan dan tertawa lepas ketika kedua putranya berhasil mengalahkan Dudung. Kalau saja tidak mengenal Dudung, mereka terlihat seperti keluarga biasa saja. Keluarga yang bahagia.

Pak Bambang terbatuk.

Ia tersenyum melihat kebahagiaan Dudung dan bahagia telah menemukan wanita yang tepat untuknya. Mulai hari ini, Pak Bambang tidak akan memanggil Dina ke kamarnya lagi. Biarkan dia menjadi milik Dudung seorang. Semoga mereka berdua membangun kehidupan yang jauh lebih baik dari hari ini.

Pak Bambang kembali ke meja kerjanya.

###

Pak Bambang menyalakan lampu kamarnya dan duduk di depan meja kerja sambil memegang pena dan beberapa carik kertas kosong. Apa yang ia saksikan beberapa minggu belakangan ini telah mengubah semua pandangannya, ia tidak menduga kehadiran Dina akan membawa perubahan besar dalam keluarganya, terutama pada Dudung, tapi nyatanya itulah yang terjadi. Dudung berubah menjadi laki-laki yang lebih baik, lebih menurut dan pada saat-saat tertentu Pak Bambang yakin, walaupun Dudung bukanlah orang yang pintar, paling tidak ia bukan orang jahat seperti dirinya.

Semua itu berkat Dina.

Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Dina meladeni Dudung dengan penuh kesabaran dan telaten. Ia berharap Dina mulai luluh dan jatuh cinta pada putranya yang lugu itu. Dina bisa membuat Dudung melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan dalam kemampuannya yang terbatas.

Semua berkat Dina.

Dina yang telah ia perkosa dan permalukan. Dina yang telah ia gagahi di depan suaminya sendiri. Dina yang ia paksa cerai. Dina yang ia paksa menikahi Dudung.

Bukannya dendam, Dina malah memberikan semua yang terbaik untuk Dudung dan keluarganya.

Pak Bambang terbatuk-batuk.

Akhir-akhir ini batuknya lebih terasa sakit di dada. Berat dan menyesakkan.

Pak Bambang menulis dengan tenaganya yang lemah sambil terbatuk-batuk. Sebuah surat yang panjang. Kalau ada yang bisa ia lakukan untuk Dina, mungkin inilah yang terbaik. Setelah semua yang ia paksakan pada Dina, mungkin inilah cara terbaik untuk membayarnya.

Pak Bambang meraih pesawat telepon di mejanya dan memencet beberapa tombol. Terdengar nada tunggu, lalu suara di ujung mengucapkan kalimat sapa.

Pak Bambang terbatuk-batuk sebelum berbicara. “Bud, ini aku, Bambang. Iya. Aku sudah menyelesaikan suratnya. Kelak bisa kamu ambil di tempat yang sudah kita janjikan di kamarku. Kalau bisa ajak juga Randy atau anak-anakku yang lain saat mengambilnya. Oke? Ya, begitu saja. Terima kasih.”

Pak Bambang meletakkan gagang telpon di tempatnya dan kembali terbatuk-batuk.

Pria tua itu tercenung ketika membaca kembali surat yang baru saja ia tulis.

Ia tersenyum dan sekali lagi terbatuk-batuk.

Kali ini batuknya mengeluarkan darah.

###

Pak Hasan sedang asyik membaca menonton acara televisi ketika telepon berdering. Jengkel juga dia diganggu malam-malam begini. Dengan langkah gontai orang tua itu berjalan menuju meja telepon dan mengangkat gagangnya.

Pak Hasan mengangkat telepon dengan malas, “Halo? Siapa ini?”

“Ini Dina, Pak. Lidyanya ada?”

“Ooh, Mbak Dina. sebentar, saya panggilkan Lidya ya.”

Dina menunggu sesaat di ujung telepon yang satu lagi.

Dalam hati, Dina iri pada Lidya. Rupanya Pak Hasan benar-benar betah tinggal di rumah adiknya itu, menemani sang menantu yang kesepian ditinggal suaminya saat sibuk bekerja. Baik benar mertua Lidya itu, tidak seperti mertuanya yang kalau malam malah menyuruh menantunya melayani keinginan bejatnya.

Seandainya saja Dina tahu.

Terdengar suara langkah kaki yang lari dan suara Lidya di ujung telepon, nafasnya kembang kempis. “Ha-halo?”

“Halo. Lidya? Ini Mbak Dina.”

“Eh? Mbak Dina!!! ini bener Mbak Dina??” Suara Lidya yang terkejut dan gembira terdengar sangat jelas di telepon. “Aduh, Mbak! Mbak Dina kemana aja? Aku sama Mbak Alya khawatir sekali! HP Mbak Dina dimatiin, HP Mas Anton juga. Telpon rumah nggak diangkat, rumah kosong… Mas Andi malah sudah menghubungi bagian orang hilang di kepolisian. Mbak Dina baik-baik saja kan? Mbak Dina kemana aja? Anak-anak bagaimana?”

“Semua sehat-sehat saja. Tapi…” suara Dina terputus.

Lidya mengerutkan kening. “Tapi apa, Mbak?”

“Ceritanya panjang. Terlalu panjang bahkan.” desah Dina. “Aku ingin bertemu dengan kalian, kamu dan Alya. Aku kangen sekali.”

“Sama, Mbak! Kami juga…” Lidya menghela nafas sejenak. “Aku kangen sekali, Mbak.”

“Jangan khawatir. Aku akan segera pulang. Semua akan baik-baik saja mulai sekarang.” Kata Dina penuh keyakinan. “Semua akan baik-baik saja.”

“Syukurlah kalau begitu, Mbak.”

Kedua wanita jelita itu menarik nafas lega, hampir bersamaan.

Angin sejuk berhembus membuai wajah Dina. Untuk pertama kali sejak berbulan-bulan, harapan yang tak pernah berhenti ia gantungkan, akhirnya datang juga kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Seperti kalimat yang ia ucapkan untuk menenangkan Lidya tadi, semuanya akan baik-baik saja. Dina yakin sekali.

###

Siapa yang bisa menduga nasib manusia? Kadang berada di atas kadang jatuh ke bawah, terdengar klise memang karena kata-kata tersebut selalu diulang dalam setiap pergulatan hidup manusia, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Hidup manusia seperti roda yang berputar. Kala seorang berada di bawah, dia selalu memimpikan puncak kejayaan yang berada di atas. Sebuah impian yang kadang bisa menjadi pemicu semangat untuk bergerak maju dan menggapai prestasi. Sayang kala dia sudah berada di atas, setelah meraih semua yang ia impikan, seorang manusia sering lupa pada semua hal yang mendukungnya, hal-hal kecil yang telah membantunya, semua harapan yang dipikulkan ke pundaknya. Ia lupakan semua yang telah membantu menapaki tangga kejayaan.

Bambang Haryanto dulunya adalah seorang pekerja keras, ia sempat bekerja sebagai tukang koran dan tinggal dari kontrakan murah ke kontrakan murah lainnya. Ia hidup sederhana dengan istrinya, seorang wanita sederhana yang berjualan gado-gado untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka dikaruniai beberapa orang anak, sayangnya anak yang paling bungsu dan paling mereka sayangi menderita keterbelakangan mental. Hal yang membuat hidup keluarga Pak Bambang semakin susah dan menderita. Tapi saat itu, Pak Bambang tak pernah berhenti berusaha dan mengeluh, sedikit demi sedikit mereka menabung, uang yang tidak seberapa ia gunakan untuk membeli barang dagangan di pasar dan dijual ke perumahan.

Lama kelamaan, karena jujur dan suka bekerja keras, banyak warga perumahan yang bersimpati dan membantu keluarga Pak Bambang. Warung gado-gado istrinya menjadi lebih besar dan laris. Pekerjaan demi pekerjaan serabutan diberikan pada Pak Bambang sampai akhirnya ia dipercaya menjadi karyawan sebuah perusahaan distributor yang sedang berkembang yang kebetulan dikelola oleh salah seorang warga perumahan. Berkat usaha kerasnya perusahaan tersebut sukses besar dan posisinya pun makin lama makin meningkat seiring prestasi dan jasanya pada perusahaan.

Berbekal pengalaman dan modal yang ia miliki, Pak Bambang mendirikan perusahaan sendiri. Berkat kerja keras dan relasi yang melimpah, Pak Bambang menuai sukses besar. Perusahaannya maju pesat bahkan mampu mengalahkan tempat kerjanya yang lama. Ia kini dikenal sebagai Raja Midas kecil, pengusaha yang punya sentuhan emas.

Sayang gelimang harta yang makin sering menghampiri tak mampu menyelamatkan nyawa istrinya yang terkena penyakit ganas. Setelah sempat menikmati sejenak kehidupan mewah, istrinya meninggal dunia. Hal ini sangat memukul Pak Bambang, ia begitu menyayangi istrinya yang setia. Rasa kehilangan yang amat sangat dirasakannya membuat Pak Bambang lupa diri, ia berubah menjadi lelaki dingin yang kejam.

Sepeninggal sang istri, Pak Bambang lalu menikahi banyak wanita dan terus memangsa gadis muda yang cantik sebagai pemuas nafsu birahinya. Ia kucilkan anaknya yang idiot di sebuah villa terpencil karena malu atas keberadaannya. Ia gusur perumahan yang dulu menjadi tempatnya mencari uang untuk didirikan kompleks industri yang sangat luas. Ia buat perusahaan lamanya gulung tikar. Ia menjadi predator yang buas dalam dunia usaha, kekayaannya tak terhitung. Pak Bambang melupakan masa lalunya.

Tapi semua kekayaan yang ia dapat semasa hidup tak mampu membahagiakannya. Ia tak mampu mengatur nasib yang ia jalani. Beberapa hari setelah merayakan ulang tahun ke-73, Pak Bambang meninggal dunia, meninggalkan kerajaan bisnis yang sangat besar ke tangan keluarga.

Tubuh kakek tua pendek yang sudah beruban itu terbujur kaku di dalam petinya. Inilah pertama kalinya Dina melihat ayah mertuanya itu tak berdaya. Dudung menjerit-jerit dan menangis melihat jenazah ayahandanya diangkat untuk dikebumikan di samping istri pertamanya. Istri-istri muda Pak Bambang datang untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus meminta hak waris, untunglah Pak Bambang sudah menitipkan surat warisan pada sang pengacara yang juga kawan dekatnya.

Dina menepuk-nepuk bahu suaminya yang menangis tersedu-sedu.

Dina tahu, kini dia bebas. Tak ada lagi pria tua yang membelenggunya dalam jeratan nafsu birahi. Namun walaupun ia kini bebas, Dina tak akan mengkhianati cinta Dudung, dibandingkan Anton yang telah menjerumuskan keluarga mereka dalam hutang yang tak bisa dilunasi dan menjualnya pada laki-laki lain, Dudung mencintainya dengan segala kepolosannya, dengan segala kejujurannya. Dina tak akan meninggalkan Dudung. Apalagi anak-anak juga sudah mulai menyukai ayah baru mereka ini, walaupun mereka menganggap Dudung sebagai teman, bukan ayah.

Hanya satu dendam yang masih menyala dalam hati Dina. Dendam pada laki-laki yang telah menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan hidupnya sebagai istri setia dan ibu yang baik bagi anak-anaknya, menghancurkan kepolosannya sebagai wanita baik-baik yang tak ternoda.

Hanya tinggal satu orang lagi yang menjadi incarannya.

Pak Pramono.

###

“Setelah melihat keabsahan wasiat pemilik perusahaan sebelum beliau meninggal, kami memutuskan untuk mengadakan rapat ini guna mengumumkan bahwa kami dari pihak notaris dan badan hukum telah menerima dengan sah keputusan terakhir pemilik perusahaan sesuai tertera di surat wasiat. Sebelum meninggal Almarhum Pak Bambang telah memilih orang yang beliau pertimbangkan tepat untuk selanjutnya menggantikan beliau memimpin perusahaan ini.”

Terdengar desahan bisik dari peserta rapat.

“Pemilik seluruh asset dan juga pimpinan perusahaan yang baru adalah…”

Desahan bisik mereda, menunggu pengumuman.

“…Ibu Dina Febrianti.”

Terdengar suara kaget dan terkejut dari mimbar rapat.

Semua orang kaget mendengar keputusan itu. Mereka tahu Almarhum Pak Bambang telah menunjuk siapa pengganti pemilik perusahaan raksasa ini dalam surat wasiat yang ia tulis, tapi mereka tidak menduga orang tersebut adalah Dina. Terlebih karena mereka semua sudah mengenal siapa Dina, istri dari putra idiot Pak Bambang. Memang Dina adalah menantu kesayangan Pak Bambang, tapi mereka benar-benar kaget mengetahui wanita itu mewarisi semua kejayaannya. Mereka bahkan kaget mengetahui nama wanita itu tertulis di surat wasiat Pak Bambang. Bagaimana mungkin seorang wanita asing yang tidak tahu apa-apa tentang manajemen bisa menangani perusahaan sebesar ini?

Sebagian besar karyawan mengira perusahaan akan dipegang oleh Randy Haryanto, putra Pak Bambang dari istri kedua yang selama ini banyak membantu sang ayah. Itu sebabnya banyak petinggi yang memberikan ‘upeti’ untuk menjilat Randy. Mereka ingin dipertahankan di lingkaran utama manajemen puncak perusahaan. Bagaimana mungkin skenario itu bisa berubah?

Dengan penuh kebanggaan Dina berdiri di hadapan semua orang yang hadir, memberikan senyuman termanisnya. Wanita jelita itu tersenyum bangga. “Mulai sekarang, semua akan berubah.” Katanya tegas. Ia mengeluarkan secarik kertas dari tas yang ia bawa, “Saudara ipar saya, Bapak Randy Haryanto telah dipindahtugaskan ke cabang kita di luar negeri atas permintaan pribadi. Oleh karena itu saya kemudian diberi wewenang menjalankan perusahaan ini, sesuai dengan wasiat yang ditulis oleh mendiang Pak Bambang.”

Orang-orang yang selama ini menjilat pada Randy mendesah kesal. Mereka tahu Randy terlibat dalam skandal penggelapan dana pemerintah, itu sebabnya sebelum ia diciduk pihak berwenang, Randy dibuang ke luar negeri. Mereka memang sudah memperhitungkan kemungkinan itu, tapi tidak menyangka akan secepat ini Randy hijrah. Mereka menggeleng-geleng kecewa, hilang sudah uang untuk menyuap, sia-sia saja usaha mereka selama ini.

“Sebelum berangkat ke luar negeri, Pak Randy memberikan saya catatan berikut,” kata Dina sambil mengangkat kertas berisi daftar nama,”isinya adalah daftar nama orang-orang yang berusaha menyuap Pak Randy, melakukan tindak korupsi dan merugikan perusahaan tanpa pernah menerima hukuman.”

Beberapa orang terhenyak kaget.

“Nama-nama yang disebut silahkan kembali ke meja kerja, mengemas berkas-berkas dan barang pribadi, lalu mengambil uang pesangon yang saya sediakan di lobby depan dan pulang saat ini juga. Kalian saya pecat!” Kata Dina tegas. “Terhitung mulai hari ini, kalian dinyatakan tidak bekerja di perusahaan ini lagi. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini, semoga mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih baik.”

Rapat itu berubah menjadi ramai. Orang-orang yang selama ini bekerja dengan jujur dan bersih bertepuk tangan sementara mereka yang pernah melakukan kesalahan menjadi risau dan gelisah.

Dina telah menancapkan kukunya. Tidak akan ada satu orangpun kini yang akan mempertanyakan kepemimpinannya. Dan yang lebih penting lagi…

Dendam akan ia balaskan.

0 komentar:

Poskan Komentar